Menjadi Murid yang Diutus

Renungan Harian Misioner
Minggu Pekan Biasa XIV, 7 Juli 2019
Yes. 66:10-14c; Mzm. 66:1-3a,4-5,6-7a,16,20; Gal. 6:14-18; Luk. 10:1-12,17-20

Lukas adalah “Injil Pewartaan”. Penginjil Lukas amat menekankan Sabda dan pewartaannya. Injil hari ini dengan bagus memperlihatkan pola misi dan pewartaan para murid. Pertama, 70 murid diutus berdua-dua (ay.1). Mereka adalah kelompok para murid Yesus yang lain, di luar ke-12 pengikut terdekat-Nya. Angka 70 bisa saja real atau juga simbol: menunjuk pada banyaknya misionaris dalam jemaat perdana, zaman Lukas. Angka 70 juga sesuai dengan jumlah suku bangsa di dunia, menurut Kejadian ayat 10. Misi dan pewartaan jemaat ditujukan kepada segenap bangsa, di setiap rumah maupun kota. Misi itu dijalankan secara bersama, bukan menjadi avontur dan eksperimen pribadi, agar tidak diklaim sebagai prestasi pribadi. Diutus berdua-dua juga menegaskan segi kerja-sama dan saling-mendukung antar para pewarta. Dengan itu dihindari juga persaingan tidak sehat di antara mereka. Diutus berdua-dua juga demi keabsahan misi dan pewartaaan. Ini sesuai dengan ketentuan Taurat: keterangan dua saksi akan membuat kesaksian itu tidak diragukan (Ul. 19:15).

Kedua, inti misi dan pewartaan para murid adalah menghadirkan “shalom”, damai-sejahtera yang berasal dari Tuhan sendiri. Damai-sejahtera itu bukanlah kata-kata belaka, tetapi tindakan nyata. Mereka mewartakan dan menyembuhkan pelbagai penyakit (ay. 9). Itulah Kerajaan Allah yang sudah dihadirkan sang Guru, dan sekarang akan diteruskan serta disebarluaskan oleh para murid-Nya, ke pelbagai lapisan dan konteks kehidupan yang nyata (rumah, ay. 5-7 dan kota, ay. 8-12).

Ketiga, misi dan pewartaan para murid bukanlah menabur benih, tetapi menuai panenan (ay.2). Mereka adalah “pekerja-pekerja” yang diutus untuk ikut memanen tuaian Tuhan yang berlimpah-ruah. Musim menuai selalu berarti beban kerja meningkat, yang menuntut tambahan pekerja. Dengan kata lain, pekerja di ladang Tuhan tidak pernah cukup, selalu ada kebutuhan akan para pekerja. Saya dan Anda dipanggil untuk menjadi pekerja di ladang Tuhan: bukan penggagas di belakang meja, atau pengkhotbah di mimbar saja.

Keempat, urgensi dan beban pekerjaan di ladang Tuhan menuntut tanggapan yang sigap. Para utusan Tuhan harus begerak cepat, tanpa membuang waktu dengan basa-basi tegur-sapa dan obrolan. Mereka mewartakan dan menghadirkan shalom Tuhan, bukan salam biasa. Karena itu, mereka juga tidak perlu terlalu repot apalagi cemas dengan anggaran dan sarana pewartaan. Pewarta Injil harus puas dengan sarana dan keramahan orang-orang yang terbuka menerima mereka, tanpa perlu mencari kenyamanan ekstra (ay.7).

Kelima, perutusan Kristiani tidak akan luput dari bahaya dan ancaman. Saya dan Anda bagaikan domba-domba yang diutus ke tengah kawanan serigala. Akan tetapi, bahaya dan ancaman itu tidak boleh menghentikan pewartaan. Injil harus terus diberitakan dan dihadirkan di mana saja. Penolakan dan ancaman akan berdampak buruk bukan bagi Injil, bukan bagi para pewarta, tetapi bagi mereka yang menolak. Mereka tidak menjadi warga Kerajaan Allah, sehingga juga tidak menerima dan mengenyam damai-sejahtera sejati. Bagi mereka, kedatangan Tuhan kelak akan berarti saat pengadilan dan hukuman (ay.10-12).

(Hortensio Mandaru – Lembaga Alkitab Indonesia Jakarta)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Integritas untuk Keadilan: Semoga para pengampu keadilan mampu bekerja dengan integritas dan mengupayakan agar dunia ini tidak ditentukan dan dikuasai oleh ketidakadilan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Perlindungan Hutan: Semoga manusia semakin sadar untuk menjaga hutan sebagai paru-paru bumi dan tidak memanfaatkannya serta merusaknya demi keuntungan ekonomi semata-mata. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami menyemangati para anggota komunitas basis untuk berbagi waktu secara bermutu dan penuh kegembiraan dalam masa libur maupun masa bekerja atau sekolah. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s