Misionaris Diutus untuk Memelihara Hidup Bangsa-Bangsa & Umat Pilihan Allah

Renungan Harian Misioner
Kamis Pekan Biasa XIV, 11 Juli 2019
Peringatan S. Benediktus
Kej. 44:18-21,23b-29; 45:1-5; Mzm. 105:16-17,18-19,20-21; Mat. 10:7-15

Renungan Harian Dari Yung-Fo

Para sahabat misioner yang terkasih,
Firman Tuhan pada hari ini mempertemukan kita dengan Yusuf, yang sudah menjadi orang kepercayaan Firaun, juga dengan kedua-belas murid yang diutus Yesus untuk mewartakan Kerajaan Allah. Selain itu, kita juga dipertemukan dengan seorang kudus dalam Gereja, yaitu Santo Benediktus, Abas. Tema renungan ini kita kemas dari tugas-perutusan para tokoh Alkitabiah dan tokoh Gereja ini. Berikut beberapa poin penting yang boleh kita tarik dari Firman Tuhan hari ini.

1. Kemalangan dan keberuntungan adalah peluang untuk misi
Poin ini kita warisi dari hidup dan pelayanan Yusuf, baik terhadap saudara-saudaranya sendiri maupun terhadap bangsa-bangsa lain. Pengalaman Yusuf ini diawali dengan nasib malang yang menimpa dirinya. Yusuf mendapat perlakuan khusus dari ayahnya, karena itu saudara-saudaranya iri hati terhadapnya. Rasa iri itu begitu menguasai saudara-saudaranya sehingga mereka berniat membunuhnya. Namun niat untuk menghilangkan nyawa Yusuf itu batal. Dia hanya disekap di dalam sumur dan akhirnya dijual sebagai budak. Sekalipun saudaranya memperlakukannya demikian, di manapun Yusuf berada dan ke manapun ia pergi, ia tetap menjaga kesetiaannya kepada Tuhan. Dan karena pertolongan Tuhan, Yusuf akhirnya mendapatkan kedudukan yang istimewa di Mesir. Kedudukan itulah yang memberinya kesempatan untuk berjumpa lagi dengan saudara-saudaranya, dan bahkan berkumpul kembali dengan mereka semua, termasuk ayah dan adiknya seibu.

Yusuf, oleh pertolongan Tuhan, dapat melewati situasi hidupnya yang malang, dan kemudian memasuki situasi hidup yang beruntung. Dari seorang budak, ia menjadi orang nomor dua setelah Firaun sendiri. Bagaimana Yusuf mengolah relasinya dengan saudara-saudaranya dalam kedua situasi ini, inilah hal yang perlu kita teladani sebagai misionaris.

Ketika saudara-saudaranya ketakutan kalau-kalau Yusuf akan membalas tindak kejahatan yang telah mereka lakukan terhadapnya, Yusuf tampil dengan cara pandang baru terhadap relasinya dengan saudara-saudaranya itu. Kemalangan yang dia terima dari mereka, bahkan diterimanya sebagai “rencana Allah ” yaitu untuk memelihara saudara-saudaranya itu dari bahaya kelaparan (Kej. 45:4-5). Bahkan bukan hanya untuk memelihara saudara-saudaranya saja, tetapi semua bangsa yang terkena bahaya kelaparan, datang kepada Yusuf untuk mendapatkan makanan. Demikian bagi Yusuf dan bagi semua misionaris, baik keberuntungan dan nasib baik maupun kemalangan, semuanya sama-sama merupakan peluang untuk melayani Tuhan, dengan memelihara para bangsa dan umat pilihan Allah. Yusuf mampu melihat rancangan Allah di balik kemalangan dan keberuntungannya, sehingga dendam-kesumat tidak menguasai dirinya. Hanya kasih untuk memelihara hidup sesamanyalah yang menjadi bagian dari hidupnya.

2. Kedua-belas rasul
Kedua-belas rasul yang kita jumpai dalam Injil, diutus Yesus untuk mewartakan tentang Kerajaan Allah. Tugas-perutusan itu dimeteraikan dengan kuasa untuk menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, mentahirkan orang kusta, dan mengusir setan-setan (Mat. 10:7-8).

Para rasul itu diminta untuk berkonsentrasi penuh pada tugas-perutusan mereka. Dan tidak boleh ada hal lain yang mengganjal, mereka hanya boleh mengandalkan Tuhan Allah dan kemurahan-Nya selama mereka bertugas (Mat. 10:9-12). Sekalipun mereka nantinya menjumpai penolakan atau sikap tidak kooperatif dari orang-orang, yang harus mereka utamakan adalah mewartakan Kerajaan Allah dan nilai-nilainya (Mat. 10:13-15). Seperti halnya pada kasus Yusuf, demikian pada kedua-belas rasul ini, “Tidak ada tempat untuk marah atau dendam kepada orang-orang yang menolak mereka. Hanya kasih dan kebaikan, yang menjadi nilai utama Kerajaan Allah itulah yang harus mereka tampilkan.”

3. Santo Benediktus, Abas
Santo Benediktus lahir di kota Norcia, daerah Umbria pada tahun 480. Ia studi di Roma, dan kemudian meninggalkan semua hal duniawi untuk bertapa dan hidup bersama Tuhan dalam kesunyian di Subiaco. Banyak orang datang bergabung dengannya sebagai pengikut dan akhirnya mereka pindah ke Montecassino. Di sana Benediktus secara resmi mendirikan biara, dan menuliskan dasar-dasar hidup membiara yang kemudian menjadi panduan bagi banyak biara yang lain. Benediktus wafat pada tahun 550 dan diangkat menjadi salah satu orang kudus pelindung Eropa.

Berbeda dengan Yusuf dan kedua-belas rasul, Santo Benediktus mempunyai sasaran khusus dalam tugas-perutusannya: mendampingi orang-orang yang memberikan dirinya untuk hidup sebagai biarawan-biarawati di dalam kesunyian bersama Tuhan.

Sekalipun berbeda dalam “sasaran perutusannya,” baik Yusuf, kedua-belas rasul maupun Santo Benediktus telah memberikan diri mereka untuk Tuhan, dan mereka bekerja dengan semangat kasih demi memelihara hidup bangsa-bangsa dan umat pilihan Allah di tempatnya masing-masing.

Ya Tuhan Yesus Kristus, Engkau telah menempatkan kami untuk hidup bersama dengan banyak orang lain. Jadikanlah kami seperti Yusuf, atau kedua belas Rasul-Mu, atau Santo Benediktus orang kudus-Mu. Jauhkan hati dan hidup kami dari dendam kesumat dan permusuhan, agar hanya kasih dan damai, penyembuhan dan kebaikan yang boleh kami hadirkan kepada orang-orang yang Engkau berikan untuk kami jumpai dalam hidup kami. Amin. (rmg)

(RD. Marcel Gabriel – Imam Keuskupan Pangkalpinang)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Integritas untuk Keadilan: Semoga para pengampu keadilan mampu bekerja dengan integritas dan mengupayakan agar dunia ini tidak ditentukan dan dikuasai oleh ketidakadilan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Perlindungan Hutan: Semoga manusia semakin sadar untuk menjaga hutan sebagai paru-paru bumi dan tidak memanfaatkannya serta merusaknya demi keuntungan ekonomi semata-mata. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami menyemangati para anggota komunitas basis untuk berbagi waktu secara bermutu dan penuh kegembiraan dalam masa libur maupun masa bekerja atau sekolah. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s