Bertahan Sampai Kesudahannya

Renungan Harian Misioner
Jumat Pekan Biasa XIV, 12 Juli 2019
Peringatan S. Yohanes Gualbertus, S. Nabor dan Felix, S. Feodor dan Joan
Kej. 46:1-7,28-30; Mzm. 37:3-4,18-19,27-28,39-40; Mat. 10:16-23

Menjadi utusan Tuhan atau pekerja-Nya, bukanlah sesuatu yang mudah. Sulit iya. Rumit iya. Menyenangkan? Tergantung darimana kita melihat dan bagaimana merasakannya. Ada sebagian orang yang merasa bangga ketika “dipilih” Tuhan menjadi pekerja-Nya. Kita sebut saja orang-orang golongan pertama. Orang-orang ini merasa menjadi kaum “ekslusif” yang berbeda dengan orang-orang lain, jelas ini terkait dengan kecenderungan akan prestige dan naiknya kasta atau status mereka di lingkungan sekitar. Bisa dikatakan orang-orang ini hanya mampu melihat tugas perutusan dalam mata duniawi. Masih terpusat pada kemuliaan serta popularitas diri. Sebenarnya mereka belum benar-benar siap diutus menjalankan misi Allah, karena masih sibuk dengan wacana menuntaskan misi pribadi.

Lalu ada sebagian lagi, kita sebut saja orang-orang golongan kedua, yang tak putus-putus merasa takut, khawatir, berbeban berat. Terlalu banyak kisah yang beredar mengenai “drama” dalam perutusan yang berakhir buruk pada kehidupan dan diri sang utusan. Mengapa susah-susah cari masalah? Mengapa tidak mensyukuri saja hidup yang ada dan menjalaninya apa adanya? Yang penting tidak berbuat jahat, rajin beribadah dan memiliki hati yang bersih. Dan yang terutama adalah “aman”. Toh, masih banyak orang lain yang lebih mampu secara mental dan iman untuk menjalankan tugas perutusan itu. Biarkan saja mereka yang maju, ‘orang-orang lain itu’ yang telah mendapatkan panggilan yang kuat.

Sisanya adalah orang-orang yang telah sampai pada kesadaran penuh bahwa kehidupan dan diri mereka diciptakan Allah dengan maksud dan tujuan tertentu. Ini adalah orang-orang golongan ketiga. Orang-orang ini melihat penciptaan diri mereka saja sudah merupakan wujud cinta kasih Allah. Lalu mereka tergerak untuk mengungkapkan rasa syukur pada sang Pemilik Kehidupan dan membalas dengan kemampuan manusiawi mereka, yakni dengan menjadi utusan dan bersedia menerima segala konsekuensi perutusan itu. Semua dilakukan dengan satu alasan, cinta. Komitmen cinta untuk mengikuti Sang Sumber Cinta hingga akhir nafas. “Sesungguhnya barangsiapa mengasihi, dia akan menyerahkan dirinya sendiri” (Surat Ensiklik, Dives in Misericordia). Ada kesiapan hati, mental dan iman menjalani segalanya termasuk bagian yang pahit dalam tugas perutusan. Dan karenanya itu meskipun jatuh bangun diterpa kesulitan dan badai dalam tugas perutusan, mereka tetap bersemangat dan mampu bersukacita. Dapat menjalankan tugas perutusan bagi mereka sudah merupakan rahmat Tuhan. Tugas perutusan bukan hanya dibawa pada level pemikiran saja, tapi telah meresap dalam perenungan batin.

Dari awal, Yesus bukan hanya menjanjikan keselamatan atau datangnya Kerajaan Allah saja. Tetapi, Ia pun telah memberikan kisi-kisi formatio yang harus dijalani para utusan, pengikut-Nya. Bahkan dengan sangat tegas dan terus terang dalam sabda-Nya Yesus menyelipkan kata: digiring, diserahkan, dibenci, dianiaya, bahkan dibunuh… Untuk bisa menuju kepada keselamatan itu, seorang utusan harus siap mengalami dan merasakan hal-hal tersebut. Dan Tuhan memberikan kalimat kunci terakhir untuk bisa meraih keselamatan itu: “Tetapi barangsiapa bertahan sampai pada kesudahannya, akan selamat.”

Jadi pertanyaan untuk kita semua yang berani mengaku sebagai utusan Tuhan: apakah kita akan bertahan sampai pada kesudahannya? Semoga.

(Angel – Karya Kepausan Indonesia)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Integritas untuk Keadilan: Semoga para pengampu keadilan mampu bekerja dengan integritas dan mengupayakan agar dunia ini tidak ditentukan dan dikuasai oleh ketidakadilan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Perlindungan Hutan: Semoga manusia semakin sadar untuk menjaga hutan sebagai paru-paru bumi dan tidak memanfaatkannya serta merusaknya demi keuntungan ekonomi semata-mata. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami menyemangati para anggota komunitas basis untuk berbagi waktu secara bermutu dan penuh kegembiraan dalam masa libur maupun masa bekerja atau sekolah. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s