Kerelaan Memanggul Salib: Karakter Misionaris

Renungan Harian Misioner
Senin Pekan Biasa XV, 15 Juli 2019
PW. St. Bonaventura, Uskup dan Pujangga Gereja
Kel. 1:8-14,22; Mzm. 124:1-3,4- 6,7-8; Mat. 10:34 – 11:1

Teks bacaan Injil hari ini (Mat. 10:34-11:1) merupakan lanjutan wejangan (apostolik) Yesus (Mat. 10:5-42). Salah satu tuntutan Yesus kepada para murid-Nya adalah mengasihi-Nya di atas segala-galanya. Bagi Yesus, kasih yang total kepada diri-Nya adalah dasar yang kuat untuk melaksanakan perutusan-Nya, termasuk menerima segala risiko. Bila para murid masih terikat pada keluarga, serta kenyamanan hidupnya, mereka tidak akan mampu menjalankan tugas perutusan untuk mewartakan Yesus Sang Juruselamat dan Kerajaan Allah. Kedua belas murid Yesus telah memperlihatkan kualitas kasih dan iman mereka kepada Yesus. Mereka meninggalkan apa saja dan siapa yang dianggap tidak sesuai dengan tuntutan Yesus dan selanjutnya mereka menjadikan Yesus sebagai yang utama dan pertama dalam hidup. Mereka juga rela menyerahkan nyawa (hidup) mereka demi iman pada Yesus. Dasar dari kerelaan itu untuk menyerahkan nyawa (hidup) adalah keyakinan yang amat kuat akan sabda Yesus: “Barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya” (Mat. 10:39). Menurut cerita, semua murid Yesus (kelompok inti) meninggal bukan karena penyakit atau kecelakaan, melainkan mati dibunuh sebagai martir karena iman dan kesaksian mereka akan Yesus Kristus.

Bagaimana dengan kita, para murid Yesus zaman ini? Kita bersyukur atas iman kita pada Yesus dan sekaligus kita mau menjadi murid-murid-Nya. Sebagai murid-murid Yesus, kita pun adalah misionaris yang diutus untuk mewartakan karya penebusan Kristus, baik di dalam Gereja maupun di tengah masyarakat, baik di bidang rohani maupun duniawi. Dasar dari segala aktivitas misioner adalah kasih kepada Yesus. Yesus sebagai yang utama dan pertama dalam hidup kita. Tidak seorang pun dapat dijadikan murid oleh Yesus, kalau ia tidak mengasihi-Nya lebih daripada ayah dan ibunya sendiri, putra dan putrinya, bahkan nyawanya.

Memang, bukan sesuatu yang mudah bagi setiap orang Kristiani (misionaris) untuk meninggalkan keluarga, menyerahkan nyawa (hidup) demi pewartaan Kerajaan Allah. Dibutuhkan kerelaan hati dan kesediaan untuk memanggul salib. Memanggul salib (mengangkat salib) adalah sebuah ungkapan berkias yang sama maknanya dengan menyangkal diri secara total. Menyangkal diri berarti menempatkan kebenaran dan kehendak Allah lebih tinggi daripada keinginan pribadi. Ini bukan suatu sikap dan tindakan yang mudah, karena manusia cenderung melakukan apa saja yang menyenangkan dan menguntungkannya. Namun, sejarah perjalanan dan perkembangan Gereja telah membuktikan bahwa Yesus yang mengutus siapa saja yang dikehendaki-Nya senantiasa menyertai utusan-Nya dengan berbagai rahmat dan kemampuan untuk menyangkal diri.

Dalam sejarah Gereja, telah banyak misionaris, baik itu kaum tertahbis, biarawan-biarawati, maupun kaum awam yang karena panggilan misionernya dengan rela hati meninggalkan ayah dan ibu, anak-anak dan keluarga, tanah air, harta dan kenyamanan untuk pergi ke tempat-tempat yang sulit untuk mewartakan karya penebusan Yesus Kristus. Demikian pula, ada begitu banyak imam, biarawan/biarawati dan kaum awam yang rela menyerahkan hidupnya sebagai martir demi iman akan Yesus dan misi-Nya. Kerelaan untuk memikul salib dan menyangkal diri menjadi modal dasar untuk menjadi utusan Yesus sekaligus menjadi kesaksian akan penyertaan Yesus bagi setiap orang yang diutus-Nya. Keyakinan akan penyertaan Yesus dengan segala berkat-Nya dalam melaksanakan karya misioner merupakan fondasi yang kokoh bagi setiap orang Kristiani untuk mewartakan Kerajaan Allah meski harus menghadapi berbagai bentuk cobaan, kesulitan, kesusahan, penderitaan, bahkan ancaman maut.

Hari ini, kita memperingati St. Bonaventura, Uskup dan Pujangga Gereja. Sejak masa studinya, Bonaventura memperlihatkan kepandaiannya dalam ilmu filsafat dan teologi. Baginya, belajar berarti berdoa sehingga ia terus-menerus merenung. Saat sahabatnya, St. Thomas Aquinas bertanya dari mana ia mendapatkan semua hal-hal mengagumkan yang ia tulis, Bonaventura menunjuk salib Yesus yang selalu ada di mejanya: “Dialah yang mengatakan segalanya kepadaku. Dialah satu-satunya Guruku”. Setelah ditahbiskan menjadi imam, Bonaventura senantiasa mengucurkan air matanya setiap kali ia naik ke altar, karena begitu dalam rasa hormatnya akan peristiwa salib Yesus. Ketika ia diangkat menjadi pemimpin tertinggi Ordo Fransiskan, Bonaventura mengutus para saudaranya untuk mewartakan Yesus yang tersalib ke Afrika, India dan bahkan ke Mongolia.

Bagi kita orang Kristiani, mewartakan Yesus yang tersalib tak mungkin terjadi tanpa kerelaan untuk memanggul salib dan menyangkal diri. Semoga St. Bonaventura mendoakan kita agar kitapun dianugerahi berbagai rahmat yang kita butuhkan untuk mampu memanggul salib kita dalam menjalankan tugas perutusan Yesus dalam hidup kita sehari-hari. Amin.

(RP. Silvester Nusa, CSsR – Dosen STKIP Weetebula, NTT)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Integritas untuk Keadilan: Semoga para pengampu keadilan mampu bekerja dengan integritas dan mengupayakan agar dunia ini tidak ditentukan dan dikuasai oleh ketidakadilan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Perlindungan Hutan: Semoga manusia semakin sadar untuk menjaga hutan sebagai paru-paru bumi dan tidak memanfaatkannya serta merusaknya demi keuntungan ekonomi semata-mata. Kami mohon…

 Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami menyemangati para anggota komunitas basis untuk berbagi waktu secara bermutu dan penuh kegembiraan dalam masa libur maupun masa bekerja atau sekolah. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s