Dipilih untuk Menjadi Miskin di Hadapan-Nya

Renungan Harian Misioner
Rabu Pekan Biasa XV, 17 Juli 2019
Peringatan S. Alexis
Kel. 3:1-6,9-12; Mzm. 103:1-2,3-4,6-7; Mat. 11:25-27

Membaca Injil hari ini, sekilas akan menimbulkan kesan yang tidak masuk akal sehat manusia, bahwa orang bijak dan orang pandai ternyata akan lebih sulit mengenal Tuhan daripada orang-orang kecil (Mat. 11:25). Hal itu terjadi oleh karena Tuhan berkenan kepada mereka yang kecil, Tuhan berkenan kepada mereka yang miskin di hadapan-Nya (Mat. 5:3).

Siapakah yang dimaksud dengan orang miskin di hadapan Allah itu? Istilah ini diberikan kepada sekelompok orang Israel yang kembali ke Yerusalem sesudah masa pembuangan berakhir. Mereka disebut kelompok ‘anawim,’ dalam Bahasa Ibrani di zaman Perjanjian Lama berarti: sekelompok ’orang miskin’ yang tetap setia kepada Allah sekalipun berada di dalam kesulitan. Mereka ini adalah orang-orang yang rendah hati, yang merupakan sisa-sisa Israel yang setia kepada Allah, mereka adalah orang-orang yang takut kehilangan penyertaan-Nya. Kelompok anawim ini juga yang paling siap menerima pewartaan Kabar Gembira Keselamatan yang disampaikan oleh Yesus karena hati yang terbuka dalam Iman, Harapan dan Kasih Allah (lih. Evangelii Nuntiandi 6).

Dalam salah satu pengajarannya, Paus Emeritus Benediktus XVI pernah dengan begitu indah mengajarkan spiritualitas ‘anawim’, bunyinya demikian: “Orang-orang beriman yang tidak hanya mengakui diri mereka sebagai ‘miskin’ dalam arti terlepas dari semua berhala kekayaan dan kekuasaan, tetapi juga dalam kerendahan hati yang mendalam dari hati yang dikosongkan dari godaan terhadap kebanggaan dan terbuka untuk kelimpahan rahmat keselamatan Ilahi. Spiritualitas anawim ditunjukkan oleh Maria dalam Magnificatnya, sebagai ungkapan dari mereka yang telah datang untuk memahami bahwa hanya ada satu cara yang benar untuk membuka diri untuk menerima kelimpahan karunia keselamatan Allah yaitu dengan menawarkan hati yang penuh cinta, terbakar cinta pada Tuhan… Hati yang Rendah Hati, Taat dan Percaya.”

Keadaan manusia yang melepaskan diri dari semua berhala dunia itu sangat sesuai dengan keadaan yang dijalani Musa yang ‘melarikan diri’ dari kekayaan dan kekuasaan duniawi. Berada di padang gurun seringkali menggambarkan keadaan (sebagaimana dialami bangsa Israel selama 40 tahun mengembara di padang gurun) di mana manusia menjalani proses jatuh-bangun dalam pergumulan hidupnya untuk masuk ke dalam pertobatan sejati dan membuka dirinya sampai akhirnya percaya dan menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Keadaan yang harus diawali dengan membawa hati yang terbakar cinta pada Tuhan bagaikan terbakar oleh api yang menyala-nyala namun tidak mematikan itu (Kel. 3:2).

Ada saatnya kita harus masuk ke dalam ‘padang gurun’ kehidupan kita, untuk menyadari segala kebaikan-Nya, memohon ampun atas segala kesalahan kita dan disembuhkan dari keterikatan kita pada hal-hal duniawi (Mzm. 103:2-4). Dengan demikian kita akan diubahkan menjadi miskin di hadapan-Nya dan Allah berkenan menyatakan diri-Nya kepada kita, sehingga kita dapat mengenal Dia, jalan-jalan-Nya dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib dalam hidup kita (Mat. 11:26-27).

Kesaksian hidup yang mencerminkan spiritualitas anawim yang menyadari diri sebagai hamba yang rendah, hina, miskin di hadapan Allah serta menggantungkan harapan hanya kepada-Nya akan membawa kita untuk membiarkan Ia semakin besar di dalam kita, kita harus makin kecil dan menjadi bodoh, supaya kita berhikmat (Yoh. 3:30; 1Kor. 3:18). Sebab dengan hikmat-Nya itulah Tuhan akan mengutus kita untuk bersaksi akan Allah yang akan melepaskan orang-orang tertindas, menuntun mereka keluar dari perbudakan dosa dan si jahat, dan membawa mereka untuk beribadah hanya kepada Allah di hadapan hadirat-Nya yang kudus (Kel. 3:8,12). (ek)

(Antonius Ekahananta – Awam Katolik Pengajar Misi Evangelisasi)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Integritas untuk Keadilan: Semoga para pengampu keadilan mampu bekerja dengan integritas dan mengupayakan agar dunia ini tidak ditentukan dan dikuasai oleh ketidakadilan. Kami mohon… 

Ujud Gereja Indonesia:

Perlindungan Hutan: Semoga manusia semakin sadar untuk menjaga hutan sebagai paru-paru bumi dan tidak memanfaatkannya serta merusaknya demi keuntungan ekonomi semata-mata. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami menyemangati para anggota komunitas basis untuk berbagi waktu secara bermutu dan penuh kegembiraan dalam masa libur maupun masa bekerja atau sekolah. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s