Misionaris Pewarta Belas Kasih Allah

Renungan Harian Misioner
Jumat Pekan Biasa XV, 19 Juli 2019
Peringatan S. Arsenius Agung, S. Aurea
Kel. 11:10-12:14; Mzm. 116:12-13,15-16bc,17-18; Mat. 12:1-8

Renungan Harian dari Yung-Fo

Para sahabat misioner yang terkasih, shalom!
Karakter dan karya seorang misionaris dihadirkan Tuhan kepada kita dalam Firman-Nya hari ini, khususnya melalui figur Musa dalam Bacaan Pertama, dan figur Yesus dalam Bacaan Injil.

1. Musa dan belas kasih Allah
Panggilan dan perutusan Musa sesungguhnya mengalir keluar dari hati Allah yang penuh belas kasih (Kel. 3:7-10). Allah memperhatikan kesengsaraan umat-Nya. Mereka berteriak meminta campur tangan dan pertolongan-Nya. Allah mendengarkan keluh kesah umat-Nya dan mengambil langkah untuk membebaskan mereka. Inilah konteks panggilan dan perutusan Musa. Ia dipanggil dan diutus untuk melakukan karya belas kasih Allah bagi umat-Nya.

Perayaan Paskah yang diminta Tuhan untuk dirayakan oleh umat-Nya, di bawah bimbingan Musa dan Harun, juga merupakan bagian dari penggilan dan perutusan Musa dalam konteks perwujudan karya belas kasih Allah ini. Melalui perayaan Paskah ini, identitas Israel sebagai umat milik Allah dipertegas dengan polesan darah anak domba pada jenang pintu rumah mereka (Kel. 11:7). Identitas sebagai umat milik Allah ini perlu, karena karya belas kasih Allah membawa keselamatan dan pembebasan bagi umat milik-Nya, dan membawa hukuman bagi mereka yang telah menganiaya umat-Nya itu (Kel. 12:12-13). Menjadi jelas di sini, bahwa hanya orang-orang yang mencari dan mengandalkan pertolongan Tuhan, hanya merekalah yang akan mengalami belas kasih-Nya. Dan seorang misionaris, yang dalam hal ini Musa, dipanggil dan diutus untuk memastikan bahwa karya belas kasih Allah itu sungguh bekerja bagi umat milik-Nya!

2. Yesus Kristus dan karya belas-kasih Allah
Karya belas kasih Allah ditampilkan Yesus dalam kontroversi dengan orang-orang Farisi tentang hukum Sabat. Di dalam praksis hidup orang-orang Farisi, hukum dan peraturan Sabat ditempatkan seolah-olah membatasi karya belas kasih Allah. Maka Yesus meluruskan salah paham itu, dengan penegasan ini, “Yang Kukehendaki ialah belas-kasihan dan bukan persembahan” (Mat. 12:7).

Menempatkan kata-kata Yesus tersebut di atas dalam konteks karya belas kasih Allah di mana seorang misioner menjadi pelaksananya (seperti Musa, dalam karya pembebasan Allah atas umat-Nya Israel dari perbudakan Mesir!), kita menemukan suatu wujud karya belas kasih yang lain, dari apa yang dilakukan Yesus ini. Seperti Yesus, demikian seorang misionaris dipanggil dan diutus untuk mewartakan kehendak Allah, sekaligus mengoreksi penerapan yang tidak benar tentang hukum Sabat. Hukum Sabat dalam konteks tugas perutusan Yesus harus menjadi sarana untuk menghadirkan belas kasih Allah, dan bukannya menghalang-halangi atau membatalkannya.

3. Misionaris dan karya belas kasih Allah
Karya belas kasih Allah senantiasa terarah kepada orang-orang yang lemah, miskin dan menderita (Luk. 4:18-19). Karya belas kasih itu telah ada sepanjang sejarah keselamatan. Allah telah menyatakan karya belas kasih-Nya itu, baik di zaman Musa, dilanjutkan di zaman Yesus, dan sekarang dilanjutkan di zaman Gereja, oleh para misionaris.

Umat Allah dan Umat Manusia di zaman ini adalah bagaikan Israel yang terbelenggu oleh perbudakan Firaun di Mesir, ataupun oleh penerapan Hukum Sabat yang kontra-produktif dengan karya belas kasih Allah seperti yang dihadirkan orang-orang Farisi.

4. Refleksi bagi kita para misionaris:
Situasi dan kondisi umat Allah dan umat manusia, yang terbelenggu seperti di zaman Musa dan zaman Yesus itu, mengingatkan kepada kita, tentang perlunya figur-figur seperti Musa dan Yesus yang baru. Apakah figur seperti itu ada dalam diri saudara dan saya? (rmg).

(RD. Marcel Gabriel – Imam Keuskupan Pangkalpinang)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Integritas untuk Keadilan: Semoga para pengampu keadilan mampu bekerja dengan integritas dan mengupayakan agar dunia ini tidak ditentukan dan dikuasai oleh ketidakadilan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Perlindungan Hutan: Semoga manusia semakin sadar untuk menjaga hutan sebagai paru-paru bumi dan tidak memanfaatkannya serta merusaknya demi keuntungan ekonomi semata-mata. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami menyemangati para anggota komunitas basis untuk berbagi waktu secara bermutu dan penuh kegembiraan dalam masa libur maupun masa bekerja atau sekolah. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s