Be Optimistic!

Renungan Harian Misioner
Rabu Pekan Biasa XVI, 24 Juli 2019
Peringatan S. Sharbel Makhluf
Kel. 16:1-5,9-15; Mzm. 78:18-19,23-24,25-26,27-28; Mat. 13:1-9

Salah satu ciri guru yang baik ialah bila dia bisa memotivasi murid-muridnya untuk selalu optimis dalam kondisi apapun juga. Itulah teladan yang ditunjukkan oleh Tuhan Yesus dan Musa, dua tokoh besar dalam tradisi Yahudi-Kristiani. Kedua bacaan hari ini bisa dibaca dari perspektif ini, yakni guru yang mengajak murid-muridnya untuk tidak gampang menyerah kepada tantangan. Apalagi menyerah kepada ‘nasib’!

Dalam bacaan injil (Mat. 13:1-9), Tuhan Yesus mengajak pendengar-Nya yang untuk mengupayakan hidup yang subur bagi sabda Tuhan. Mereka diingatkan untuk tidak pesimis menghadapi tantangan dari luar atau berkecil hati terhadap kemampuan diri sendiri. Menghayati iman dengan sungguh-sungguh memang selalu penuh perjuangan. Itulah yang kita lihat dalam perumpamaan tentang benih yang ditaburkan, yang jatuh di berbagai jenis tanah.

Penginjil Matius melukiskan bahwa Tuhan Yesus menyebutkan ada empat jenis tanah: tanah pinggir jalan, tanah yang berbatu-batu, tanah dengan semak duri, dan tanah yang subur.

Dalam hal tanah jenis pertama, dari dirinya sendiri tidak ada kemungkinan bagi benih-benih yang tertabur itu untuk bisa masuk dengan mudah, apalagi bertumbuh. Tambahan pula, ancaman dari luar sangat terbuka. Benih-benih itu bisa terinjak-injak oleh orang-orang yang lewat atau dimakan oleh burung-burung dari udara.

Dalam hal tanah jenis kedua, yakni tanah yang berbatu-batu, juga kondisi internalnya tidak memungkinkan benih-benih itu tumbuh dengan baik, karena mereka tidak bisa berakar. Juga ancaman dari luar, seperti cuaca yang panas mempercepat matinya benih-benih itu.

Jenis tanah ketiga, tanah dengan semak duri itu, menunjukkan ancaman dari luar yang sangat kuat. Bahkan, mungkin itulah faktor paling dominan yang membunuh benih-benih yang mulai bertumbuh.

Lalu, yang ideal tentu saja jenis tanah keempat, tanah yang subur. Para murid diajak untuk mengupayakan diri sedemikian rupa sehingga bisa menjadi lahan yang subur bagi bertumbuh dan berkembangnya nilai-nilai Kerajaan Allah.

Intinya, ada lahan di mana nilai-nilai Kabar Gembira atau nilai-nilai Kerajaan Allah itu bisa bertumbuh dan berkembang dengan tanpa banyak kesulitan. Bahkan, sangat mudah! Akan tetapi, ada pula banyak lahan di mana Injil itu tidak bisa berkembang, bahkan tidak mungkin diperdengarkan. Singkatnya, baik faktor internal maupun faktor eksternal perlu menjadi bahan pertimbangan untuk melihat dan menilai bagaimana iman Kristiani itu bertumbuh dan berkembang atau meranggas dan mati.

Lalu, adakah usulan praktis yang diberikan oleh Tuhan Yesus untuk mengatasi kesulitan atau ancaman semacam itu? Adakah solusi pastoral yang bisa ditawarkan oleh para analis sosial-teologis mengatasi berbagai kesulitan atau intimidasi yang muncul? Di sini sejenak kita teringat akan petuah Tuhan Yesus untuk menjadi ‘cerdas seperti ular dan tulus seperti merpati’ (Mat. 10:16). Ada kondisi di mana orang mesti cerdas dalam olah-mental untuk menemukan terobosan-terobosan di tengah berbagai tantangan ataupun ancaman. Akan tetapi, sikap tulus juga sangat penting dalam kondisi-kondisi yang lain.

Sedangkan dalam bacaan pertama kita melihat bagaimana Musa menyikapi orang-orang Israel yang bersungut-sungut kepadanya. Mereka sangat pesimis akan janji tentang hidup yang baik yang dijanjikan Tuhan lewat Musa. Kita tentu tahu bahwa sungut-sungut merupakan salah satu sikap yang memperlemah dan bisa melumpukan iman. Pesimisme itu memang merupakan salah satu bentuk sikap menyerah kepada ‘nasib’, yang harus diatasi.

Singkatnya, beriman itu mesti optimis. Musa mengajak orang-orang Israel di padang gurun untuk optimis akan janji Tuhan. Begitu pula Tuhan Yesus, Sang Musa baru, menasihati para pendengar-Nya. Dewasa ini kita juga perlu memupuk optimisme yang sama dalam menghayati iman Kristiani di tengah macam-macam kesulitan, tantangan dan ancaman. Be optimistic! Kita ingat, Tuhan Yesus telah memberikan jaminan: “Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman!” (Mat. 28:20).

(RP. Raymundus Sudhiarsa, SVD – Wakil Ketua Komisi Karya Misioner KWI)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Integritas untuk Keadilan: Semoga para pengampu keadilan mampu bekerja dengan integritas dan mengupayakan agar dunia ini tidak ditentukan dan dikuasai oleh ketidakadilan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Perlindungan Hutan: Semoga manusia semakin sadar untuk menjaga hutan sebagai paru-paru bumi dan tidak memanfaatkannya serta merusaknya demi keuntungan ekonomi semata-mata. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami menyemangati para anggota komunitas basis untuk berbagi waktu secara bermutu dan penuh kegembiraan dalam masa libur maupun masa bekerja atau sekolah. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s