Serving From Heart

Renungan Harian Misioner
Kamis, 25 Juli 2019
Pesta S.Yakobus
2Kor. 4:7-15; Mzm. 126:1- 2ab,2cd-3,4-5,6; Mat. 20:20-28

Bejana tanah liat (2 Kor. 4:7) adalah gambaran yang sangat tepat bagi sosok manusia beriman supaya senantiasa menyadari berbagai kelemahan yang masih melekat pada dirinya kendati sudah berjanji setia kepada Kristus. Kelemahan itu juga yang masih ada dalam diri Yakobus Rasul yang kita rayakan pestanya hari ini. Ketika menanggapi perintah ibu Yakobus soal posisi anak-anaknya di kerajaan Allah, Yesus mengingatkan “Barang siapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barang siapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu” (Mat. 20:26-27). Iman dan kesetiaan pada Kristus berarti menempatkan diri di hadapan sesama sebagai pelayan. Artinya seorang pengikut Kristus harus melepaskan ambisi pribadi dan kelekatan-kelekatan duniawi yang hanya akan menghalangi semangat kasih dalam pelayanan kepada sesama. Bentuk totalitas dalam pelayanan tampak ketika kita rela menerima konsekuensi dari pelayanan kita: waktu, tenaga, penderitaan.

Jika kita ingin besar dan terdepan di antara pengikut-pengikut Kristus, kita bukannya harus meninggikan diri kita dalam kekuasaan, tapi justru kita harus semakin merendahkan diri kita hingga menjadi seorang pelayan dan hamba. Petrus di kemudian hari mengingatkan kembali tentang hal ini, “Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya” (1 Petrus 5:6). The only way up is down. It’s not about how high we rise, but it’s about how low we can go down… Ini prinsip Kerajaan Surga. Dalam Kerajaan surga justru kita diminta untuk memiliki kerendahan hati, mau melayani orang lain yang paling hina sekalipun dengan hati seorang hamba. Seperti quotes dari Mother Teresa: Do things for people not because of who they are or what they do in return, but because of who you are. Do small things with great love.

Tuhan bukan saja mengajarkan mengenai hal melayani melainkan Dia menjadi teladan. Dia seorang yang lemah lembut dan rendah hati dalam melayani manusia. Dia mengoreksi pandangan murid-murid-Nya yang memandang kepemimpinan berpusat pada aku dan untuk memuaskan kepentingan dan ambisi pribadi. Dia memberi teladan melayani dengan membasuh kaki para murid-Nya. Dia mengajar dan menyembuhkan banyak orang. Bahkan yang terutama, Dia rela merendahkan diri untuk sama dengan manusia, hingga mati disalib, demi rencana penyelamatan Allah tergenapi. Melayani adalah gaya hidup Yesus, maka sudah semestinya jika melayani menjadi gaya hidup kita sebagai pengikut-Nya juga.

Tuhan mengingatkan bahwa kepemimpinan sejati tidak berfokus pada diri sendiri, tetapi pada kesejahteraan orang lain dan rela menyingkirkan kepentingan pribadi demi memberikan sumbangsih yang bermakna bagi orang banyak. Kepemimpinan, dalam pandangan Yesus, bukan mengacu pada kedudukan, namun pada sikap dan motivasi hati. Bekal utamanya ialah kerendahan hati dan kesediaan untuk melayani sesama yang diwujudkan melalui perkataan dan tindakan. Dalam banyak kesempatan kita dapat melayani orang lain dan mewartakan Sabda-Nya secara konkret. Saat kita naik kendaraan umum, kita bisa memberikan tempat duduk kita kepada orang lain yang lebih membutuhkan atau memberikan senyum kepada orang-orang yang selama ini mungkin diabaikan.

Lalu, pelayanan seperti apa yang benar? Apakah pelayanan harus “kelihatan” agar layak disebut sebagai pelayanan? “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita” (2 Kor. 9:7). Perbuatan kecil dilakukan dengan hati yang tulus, penuh dengan kasih (bukan dengan beban dan syarat) akan bisa menjadi berkat yang besar bagi kehidupan orang lain. Saya rindu mengasihi dan saya rindu agar orang lain juga mengalami kepenuhan kasih Tuhan, sama seperti yang saya alami, itulah arti melayani.

Kita melayani karena menyadari betapa dalam, besar, dan luasnya kasih Tuhan dalam hidup kita. Sebagai ucapan syukur, kita bisa berbagi dengan orang lain melalui pelayanan kita. “Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mat. 20:28).

Tuhan mau kita rendah hati, lemah lembut, sabar dan menunjukkan kasih dalam hal saling melayani (Ef. 4:2). Dia telah memberi segala sesuatu yang kita butuhkan untuk hidup taat dan telah memberkati kita dengan setiap berkat rohani. Dia telah memberi kita roh untuk saling melayani. Hal ini sama seperti Tuhan telah memberi kita segala sesuatu yang kita perlukan dalam hidup ini, dan Dia berharap kita juga melakukan hal yang sama, menjangkau dan membagikan kepada orang lain apa yang kita punya, membantu orang lain supaya hidup lebih baik. Kita tidak perlu menjadi besar untuk melayani, tidak perlu titel sarjana atau menjadi pewarta mimbar untuk melayani. Yang dibutuhkan hati yang penuh kasih dan tulus dan jiwa yang digerakkan oleh kasih untuk melayani. Serving with Heart.

Bagaimana dengan kita? Bersediakah kita merendahkan diri sebagai pelayan? (HGR)

(Helen Romli – Ketua Komisi Penyebaran & Promosi Lembaga Alkitab Indonesia)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Integritas untuk Keadilan: Semoga para pengampu keadilan mampu bekerja dengan integritas dan mengupayakan agar dunia ini tidak ditentukan dan dikuasai oleh ketidakadilan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Perlindungan Hutan: Semoga manusia semakin sadar untuk menjaga hutan sebagai paru-paru bumi dan tidak memanfaatkannya serta merusaknya demi keuntungan ekonomi semata-mata. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami menyemangati para anggota komunitas basis untuk berbagi waktu secara bermutu dan penuh kegembiraan dalam masa libur maupun masa bekerja atau sekolah. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s