Kiat Hidup sebagai “Gandum” di Tengah “Lalang”

Renungan Harian Misioner
Sabtu Pekan Biasa XVI, 27 Juli 2019
Peringatan S. B. Titus Brandsma
Kel. 24:3-8; Mzm. 50:1-2,5-6,14-15; Mat. 13:24-30

Sahabat-sahabat Tuhan Ytk,
Salam jumpa lagi di akhir pekan ke-3 bulan Juli 2019 ini. Kita diajak dalam pertemuan berhikmah ini untuk merenungkan satu tips kehidupan yang berlaku sepanjang zaman yakni perumpamaan Yesus tentang gandum dan lalang. Ketika membaca perumpamaan ini, saya teringat akan apa yang terjadi di arena tinju dunia minggu lalu antara Many Pacquiao dan Keith Thurman. Pertemuan kedua petinju dunia ini menarik mata banyak orang karena ulah Thurman yang menggunakan strategi ‘perang urat saraf’ sebelum pertandingan berlangsung guna menarik perhatian massa sekaligus meruntuhkan rasa percaya diri Pacquiao. Thurman berulangkali berupaya menyerang dan menyepelekan Pacquiao melalui ujaran-ujarannya baik melalui media massa maupun saat interview.

Menariknya, Pacquiao justru menghadapi segala daya upaya lawannya itu dengan tenang seakan tidak mau membiarkan diri digiring oleh strategi lawannya itu. Saat ditanya apa tanggapannya terhadap sikap arogan Thurman, Pacquioa menjawab dengan tenang bahwa sudah dua dekade lebih dia menggeluti dunia tinju, karena itu dia tahu apa maksud semuanya itu. Malah baginya, serangan ‘psikologis’ lawannya itu justru memotivasi dirinya untuk semakin serius mempersiapkan diri. Dia pun tidak mau sesumbar karena baginya pembuktian kehebatan dalam tinju terjadi di atas ring bukan di luar ring.

Dan terbukti saat pertarungan terjadi, Pacquiao yang sebelumnya disepelekan oleh Thurman ternyata tampil luar biasa dan bahkan sempat menjatuhkan Thurman pada ronde pertama. Thurman masih bisa melanjutkan pertandingan hingga ronde terakhir namun Pacquiao tetap mendominasi pertarungan hingga tampil sebagai pemenang.

Saudara-saudari, sikap dewasa dan bijak Pacquiao di atas, kurang lebih membahasakan pesan Yesus melalui Injil hari ini tentang perumpaan gandum dan ilalang. Yesus mau mengingatkan kita bahwa si lalang senantiasa hadir dan berjuang mengganggu, menghimpit, mengerdilkan bahkan mau mematikan pertumbuhan kita. Beberapa cara kerja si jahat dalam konteks kita sekarang seperti hoaks, pemfinatnahan, pemutarbalikan kebenaran, adanya aneka tawaran duniawi dan berbagai bentuk kejahatan lainnya.

Karena itu upaya pertumbuhan kita sebagai ‘gandum’ yang mau hidup sesuai nilai-nilai kerajaan Allah khususnya di zaman kita ini, akan senantiasa dihimpit oleh lalang yakni kerajaan setan yang selalu mau merusak kehidupan manusia dengan segala kelicikannya. Makanya Yesus mengajak kita untuk memiliki sikap ksatria dalam iman dan tidak boleh takut menghadapi lalang kejahatan. Sebagaimana Pacquiao menjadikan serangan hinaan dari lawannya sebagai motivasi agar semakin serius berlatih, demikian pun kita hendaknya menjadikan segala bentuk trik dan tantangan si lalang jahat sebagai pemacu pertumbuhan iman kita sesuai jati diri kita sebagai gandum anak-anak Allah yang berbobot dan terus menghasilkan buah berlimpah.

Pesan Yesus ini disandingkan dengan bacaan pertama tentang janji umat Israel di Gunung Sinai untuk tetap setia pada Yahwe. Kiranya kita pun berupaya tetap setia sesuai jati diri kita sebagai gandum Tuhan. Tentunya kesediaan dan kesetiaan menciptakan ruang dan waktu untuk memelihara kejernihan budi, kebeningan hati dan jiwa, serta sikap bijak berupa daya filter dalam menghadapi situasi khususnya hoaks dan pemfitnahan, sangat besar perannya dalam pertumbuhan gandum iman kita sekaligus menguatkan kita dalam menghadapi segala trik jahat si lalang. Kita akan terus bertumbuh sesuai jati diri kita sebagai gandum di tengah himpitan si lalang. Tanpa kesediaan dan kesetiaan menjaga hal-hal tersebut, kita bisa saja terperangkap dalam trik si lalang yang licik dan jahat.

Yakinlah selalu bahwa Tuhan senantiasa hadir, melindungi dan memberkati kita dalam setiap langkah perjuangan luhur kita untuk terus menumbuhkan gandum nilai-nilai kerajaan Allah sehingga semakin berbuah limpah dalam kehidupan bersama kita. Amin. (JM)

(RP. John Masneno, SVD – Sekretaris Eksekutif Pusat Spiritualitas Sumur Yakub Indo – Leste)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Integritas untuk Keadilan: Semoga para pengampu keadilan mampu bekerja dengan integritas dan mengupayakan agar dunia ini tidak ditentukan dan dikuasai oleh ketidakadilan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Perlindungan Hutan: Semoga manusia semakin sadar untuk menjaga hutan sebagai paru-paru bumi dan tidak memanfaatkannya serta merusaknya demi keuntungan ekonomi semata-mata. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami menyemangati para anggota komunitas basis untuk berbagi waktu secara bermutu dan penuh kegembiraan dalam masa libur maupun masa bekerja atau sekolah. Kami mohon…

Amin

One thought on “Kiat Hidup sebagai “Gandum” di Tengah “Lalang”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s