Rasa Syukur Kunci Kehidupan Berahmat

Renungan Harian Misioner
Jumat Pekan Biasa XVII, 2 Agustus 2019
Peringatan S. Eusebius Vercelli, S. Petrus Yulianus Eymard
Im. 23:1,4-11,15-16,27,34b-37; Mzm. 81:3-4,5- 6ab,10-11ab; Mat. 13:54-58

Jika kita cermat membaca bacaan pertama hari ini, yang diambil dari Kitab Imamat, kita akan menemukan berulang kali Allah memberikan pesan yang sama kepada bangsa Israel. Apa itu? Jangan lupa untuk membawa persembahan kepada Tuhan. Apakah Tuhan membutuhkan persembahan dari kita? Kurban sajian yang baru, berkas tuaian, kurban api-apian? Bukankah Dia Pemilik segalanya? Lalu untuk apa Allah memerintahkan manusia membawa persembahan?

Untuk dapat membawa persembahan ke hadapan Tuhan, pertama-tama manusia harus dapat menyadari apa yang telah diterimanya dan kemudian mensyukurinya. Persembahan adalah salah satu cara manusia mengungkapkan terima kasih. Mempersembahkan juga berarti merendahkan diri di hadapan Allah. Mengakui rahmat dan anugerah yang telah diberikan-Nya dalam hidup.

Rasa syukur adalah kunci kehidupan berahmat. Ketika kita mampu bersyukur, terutama dalam segala kelimpahan, itu menandakan bahwa kita tidak melupakan Sumber kelimpahan itu. Dan kita tidak membiarkan diri terseret oleh keangkuhan diri merasa lebih hebat atau istimewa dibandingkan dengan orang lain yang berkekurangan. Serta, dalam syukur itu kita akan disadarkan untuk berbelas kasih, menyisihkan apa yang kita miliki, berbagi dalam kelimpahan. Kelimpahan itu bukan milik diri semata.

Injil Yesus Kristus menurut Matius pada hari ini menceritakan mengenai kepulangan Yesus ke kampung-Nya. Di sana Ia mengajar dan orang-orang takjub menyadari hikmat Yesus. Alih-alih bersyukur karena dapat mendengarkan pengajaran berhikmat serta memiliki saudara sekampung yang memiliki hikmat, mereka malah mempertanyakan “keistimewaan” yang dimiliki Yesus. Bagi mereka, latar belakang keluarga Yesus yang biasa membuat Yesus tidak cukup pantas memiliki hikmat itu. Mereka kemudian menolak Yesus. Dan apa yang terjadi? Mukjizat-mukjizat yang sebenarnya akan dikerjakan Yesus di tempat itu batal terjadi. Karena tidak ada rasa syukur, rahmat pun lenyap.

Berapa sering kita juga bersikap seperti orang-orang di kampung Yesus? Ketika seseorang yang berasal dari status, tempat, kondisi yang sama dengan kita sebelumnya, kemudian menjadi seseorang yang jauh lebih berhasil, maju dan hebat karena Tuhan berkenan memberkatinya, alih-alih ikut bersukacita dan bersyukur, kita malah mencibir, mengolok bahkan memusuhi orang tersebut. Dibutuhkan hati yang penuh cinta untuk dapat bersyukur. Bukan hanya bersyukur atas keadaan diri sendiri, tetapi juga bisa bersyukur untuk keadaan orang lain. Sebaliknya hati yang dipenuhi iri, akan menutup pintu rahmat. Tidak ada mukjizat dalam kehidupan yang dikuasai rasa iri. Kita hanya dapat menerima cinta Tuhan ketika kita mau memberi cinta kita melalui rasa syukur.

Persembahan yang terbesar dan tertinggi adalah rasa syukur dari hati. Bukan pujian yang hanya keluar dari mulut semata. Hati yang mampu bersyukur melambungkan pujian yang dapat menembus pintu surga dan mengetuk pintu hati Tuhan untuk mau merahmati hidup.

(Angel – Karya Kepausan Indonesia)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Keluarga sebagai sekolah pengembangan kemanusiaan: Semoga dengan hidup doa dan cintanya, keluarga-keluarga semakin mampu menjadi sekolah tempat kemanusiaan yang sejati dihidupi dan dikembangkan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Kerukunan antarumat beragama: Semoga dalam menjalin kerukunan hidup antarumat beragama, umat Katolik dimampukan untuk melihat kebaikan dan ketulusan dari kelompok umat beragama lain. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami dalam iman dan kesetiaan berbangsa mengobarkan nasionalisme penuh hikmat dan kebijaksanaan di kampung maupun di tempat-tempat aktivitas dalam masyarakat. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s