Belajar dari Musa sang Hamba Tuhan

Renungan Harian Misioner
Rabu Pekan Biasa XIX, 14 Agustus 2019
Peringatan S. Maximillian Kolbe
Ul. 34:1-12; Mzm. 66:1-3a,5,8,16-17; Mat. 18:15-20

Ketika ‘dipilih’ untuk jabatan atau tugas tertentu, reaksi dari setiap orang bermacam-macam. Ada yang langsung panik, merasa takut, merasa tidak cukup layak menjadi orang yang ‘terpilih’. Ada yang merasa gembira, bersyukur atas kesempatan menjadi orang ‘pilihan’ dan bertekad untuk menunaikan tugas sebaik-baiknya. Ada pula yang merasa bangga, ‘terpilih’ dari antara sekian banyak orang diartikannya sebagai pengakuan bahwa diri lebih unggul, lebih hebat. Perasaan-perasaan yang muncul sebagai reaksi inilah yang tanpa disadari akan menuntun bagaimana sikap dan tindakan orang di kemudian hari ketika tampil sebagai “orang pilihan”.

Dalam Kitab Ulangan kita sampai pada kisah akhir penugasan Musa. Ia diakui oleh penulis Kitab sebagai nabi yang hebat, bahkan dikatakan dengan sangat jelas bahwa tidak ada lagi nabi yang akan muncul seperti dirinya. “Seperti Musa yang dikenal Tuhan dengan berhadapan muka, tidak ada lagi seorang nabi yang bangkit di antara orang Israel, dalam hal segala tanda dan mukjizat, yang dilakukannya atas perintah Tuhan di tanah Mesir […]” (Ul. 34:10-11).

Apa kehebatan Musa? Ia adalah orang yang “dipilih Tuhan”; relasi dan perlakuan Allah padanya sangat istimewa – dikenal Tuhan dengan berhadapan muka; ia dirahmati Tuhan melakukan banyak tanda dan mukjizat; ia yang memimpin bangsa pilihan Allah menuju pembebasan ke Tanah Terjanji. Tetapi alih-alih dapat menikmati hasil perjuangan setelah melewati begitu banyak rintangan dan masa-masa sulit, Musa tidak diizinkan Tuhan masuk ke Tanah Terjanji. Ia hanya boleh melihat tanah itu dari kejauhan. “Kepada keturunanmulah akan Kuberikan negeri itu. Aku mengizinkan engkau melihatnya dengan matamu sendiri, tetapi engkau tidak akan menyeberang ke sana (Ul. 34:4).

Rancangan Tuhan dan manusia memang berbeda. Begitupun perhitungan yang dipakai Tuhan dan manusia, tidak akan pernah dapat berbanding lurus. Dalam kisah Musa, kita menemukan kenyataan, bahwa sehebat-hebatnya manusia yang “dipilih” Tuhan, bahkan ketika dijadikan Pimpinan Bangsa Terpilih pun; manusia itu tetap tidak berhak lupa diri, sebaliknya harus taat dan setia pada kehendak Tuhan. Karena sesungguhnya siapapun dirinya, manusia itu hanyalah hamba Tuhan. Hamba, sejatinya taat dan setia pada tuannya. Hamba, sejatinya tidak bermegah atas kehidupan yang merupakan pemberian tuannya semata. Musa, nabi besar pilihan Tuhan pun menyadari penuh hal tersebut. Tanpa protes, tanpa bertanya, ia menerima segala yang Tuhan katakan dan putuskan. Ia tidak lupa akan kodratnya dahulu, sekarang maupun nanti, sebagai hamba. “Lalu, matilah Musa, hamba Tuhan itu […]” (Ul. 34:5).

Tawaran duniawi memang kerap menggiurkan, menggoda, menjanjikan kenikmatan, dan memunculkan rupa-rupa keinginan dalam diri yang dapat menggiring kita ke jalan dosa dan kemurtadan. Baiklah kita selalu memohon penyertaan Tuhan untuk merahmati keterpilihan kita dengan karunia kerendahan hati, ketaatan dan kesetiaan. Agar setiap kita dapat menjadi hamba-Nya, bukan hamba dunia atau hamba diri sendiri.

(Angel – Karya Kepausan Indonesia)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Keluarga sebagai sekolah pengembangan kemanusiaan: Semoga dengan hidup doa dan cintanya, keluarga-keluarga semakin mampu menjadi sekolah tempat kemanusiaan yang sejati dihidupi dan dikembangkan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Kerukunan antarumat beragama: Semoga dalam menjalin kerukunan hidup antarumat beragama, umat Katolik dimampukan untuk melihat kebaikan dan ketulusan dari kelompok umat beragama lain. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami dalam iman dan kesetiaan berbangsa mengobarkan nasionalisme penuh hikmat dan kebijaksanaan di kampung maupun di tempat-tempat aktivitas dalam masyarakat. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s