Ampunilah karena Allah Telah Terlebih Dahulu Mengampunimu

Renungan Harian Misioner
Kamis Pekan Biasa XIX, 15 Agustus 2019
Peringatan S. Tarsisius
Yos. 3:7-10a,11,13-17; Mzm. 114:1-2,3-4,5-6; Mat. 18:21 – 19:1

Bacaan Injil hari ini merupakan kelanjutan dari wejangan-wejangan Yesus yang berisi sejumlah petunjuk yang harus diperhatikan dalam relasi antar saudara dalam jemaat. Setelah mendengar wejangan Yesus, secara pribadi Petrus bertanya kepada Yesus, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” (Mat. 18:21). Yesus menjawab, “Bukan hanya sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali” (Mat. 18:22). Angka tujuh adalah angka sempurna, artinya tak terbatas. Dalam kitab Kejadian dikenal hukum balas dendam yang amat kejam. Rumusnya dikutip sehubungan dengan Lamekh yang berkata seperti ini, “Kain harus dibalaskan tujuh kali lipat, maka Lamekh tujuh puluh tujuh kali lipat” (Kej. 4:24). Nasihat Yesus untuk mengampuni tujuh puluh tujuh kali kontras dengan ancaman Lamekh yang bersumpah untuk membalas tujuh puluh tujuh kali lipat. Yesus dengan tegas menolak hukum balas dendam. Ia bahkan menuntut para murid-Nya melakukan sebaliknya: “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat. 5:44). Pengampunan harus diberi sebanyak tujuh puluh kali tujuh kali, artinya pengampunan harus diberi tanpa batas. Dengan demikian, Yesus mengubah hukum balas dendam menjadi hukum pengampunan.

Dalam perumpamaan tentang pengampunan (Mat. 18:21-35), Yesus menceritakan bahwa ada seorang raja yang mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Seorang hamba memohon belas kasihan dan pengampunan dari sang raja atas hutang-hutangnya yang begitu banyak jumlahnya, yakni sepuluh ribu talenta. Hati raja tergerak oleh belas kasihan, lalu membebaskannya dan menghapuskan semua hutangnya. Namun, si hamba yang baru saja mendapat belas kasihan dan pengampunan raja menolak bahkan tega memenjarakan temannya yang berhutang kepadanya, padahal temannya tersungkur di hadapannya memohon belas kasihannya. Hamba-hamba yang lain melaporkan kejadian itu kepada sang raja yang kemudian menjadi murka. Alih-alih dibebaskan, hamba tersebut diserahkan kepada algojo-algojo.

Apa makna perumpamaan ini bagi kita? Perumpamaan ini mengajarkan kita dua hal penting. Pertama, mengampuni itu harus tanpa batas. Kita tahu bahwa Yesus menolak hukum balas dendam dan menuntut para murid-Nya mengasihi musuh dan yang menganiaya mereka. Yesus mengubah hukum balas dendam menjadi hukum pengampunan. Yesus tidak hanya mengajarkan pengampunan yang tanpa batas, tetapi Ia sendiri mempraktikkan hukum pengampunan tanpa batas itu. Ketika disalibkan, Ia sangat menderita dan kesakitan, dihina, dicambuk, diludahi dan sebagainya, tetapi Yesus justru berdoa bagi orang-orang yang berbuat jahat kepada-Nya: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk. 23:34). Dalam pengalaman sehari-hari, tidak gampang bagi kita, bahkan sangat sulit untuk mempraktikkan pengampunan tanpa batas ini, apalagi pada orang yang berbuat jahat terhadap kita berulang-ulang kali. Namun, bagi kita pengikut Yesus, tidak ada hukum lain yang lebih membebaskan dan menyelamatkan kita selain hukum kasih dan pengampunan. Pengampunan itu pertama-tama membebaskan dan menyelamatkan diri kita sendiri.

Kedua, seseorang yang sudah menerima pengampunan harus juga mengampuni sesamanya. Kesalahan si hamba dalam perumpamaan tentang pengampunan bukanlah terletak pada ketidaksanggupannya membayar hutang, melainkan ia tidak berbelas kasih dan tidak bersedia mengampuni temannya. Dengan kata lain, ia tidak mempraktikkan pengampunan yang diterima dan dialaminya dari sang raja. Allah (Sang Raja) melalui Yesus, dengan cuma-cuma mengampuni segala hutang dosa kita, kita pun diminta berbuat yang sama kepada sesama seperti yang telah dilakukan-Nya. Yesus mengajarkan para murid-Nya berdoa kepada Bapa: “…dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni orang yang bersalah kepada kami” (Mat. 6:12). Satu-satunya tanggapan yang tepat untuk memperoleh rahmat pengampunan Bapa adalah membiarkan Dia mengubah hati kita sedemikian rupa sehingga kita dimampukan bertindak sama murah hati kepada sesama. Yesus juga mengatakan, ”Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu” (Mat. 6:14-15).

Kita harus berjuang untuk mempraktikkan hukum pengampunan karena kita menyadari bahwa kita pun tidak luput dari kesalahan dan bahwa Allah telah terlebih dahulu mengampuni kesalahan kita. Kesadaran dan keyakinan akan belas kasih Allah itu menjadi landasan utama bagi kita untuk berbelas kasih dan mengampuni, khususnya terhadap orang yang bersalah kepada kita. Marilah kita senantiasa mohon rahmat khusus dari Allah agar kita sanggup mempraktikkan hukum pengampunan sebagaimana yang diajarkan dan diteladankan oleh Yesus sendiri.

(RP. Silvester Nusa, CSsR – Dosen STKIP Weetebula, NTT)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Keluarga sebagai sekolah pengembangan kemanusiaan: Semoga dengan hidup doa dan cintanya, keluarga-keluarga semakin mampu menjadi sekolah tempat kemanusiaan yang sejati dihidupi dan dikembangkan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Kerukunan antarumat beragama: Semoga dalam menjalin kerukunan hidup antarumat beragama, umat Katolik dimampukan untuk melihat kebaikan dan ketulusan dari kelompok umat beragama lain. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami dalam iman dan kesetiaan berbangsa mengobarkan nasionalisme penuh hikmat dan kebijaksanaan di kampung maupun di tempat-tempat aktivitas dalam masyarakat. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s