Kita ‘Si Pendosa’ yang Diutus Tuhan

Renungan Harian Misioner
Rabu Pekan Biasa XX, 21 Agustus 2019
Peringatan S. Pius X
Hak. 9:6-15; Mzm. 21:2-3,4-5,6-7; Mat. 20:1-16a

Paparan mengenai penugasan bagi tetumbuhan untuk menggambarkan, bagaimana kekuasaan dan perlindungan, sebagai paduan kebersamaan hidup Israel adalah sangat penting. Sesungguhnya semua dipanggil untuk saling melindungi. Namun dalam kerangka hidup bersama, ada yang ditunjuk untuk mempunyai kekuasaan dan melindungi sesamanya – dalam rangka pengutusan Allah. Lambang keengganan tetumbuhan untuk melindungi sesama, karena keinginan untuk kenyamanan dan keenakan sendiri, adalah lambang dari keengganan orang untuk menyambut undangan guna saling melindungi.

Diperlihatkan, bagaimana pohon yang sesungguhnya paling sulit untuk menjadi pelindung dari semua, akhirnya bersedia untuk melakukan tugas sosial itu. Oleh sebab itu, ia diurapi. Demikian pula sang Raja, diurapi untuk pengutusan serupa. Orang diurapi sebagai ungkapan relasi dengan Allah dan dipercaya dengan tugas Ilahi guna melindungi sesamanya. Hal itu bukan karena kehebatan dirinya, melainkan hanya karena diurapi oleh Tuhan. Maka pengurapan bukanlah bukti keperkasaan, melainkan karena pengutusan. Pengurapan adalah tanda bahwa seseorang hanya dapat melaksanakan tugas sosial hanya karena mempunyai relasi dengan ALLAH, dengan kerendahan hati. Dalam situasi dan kondisi itu, bahkan orang yang tidak berdaya dapatlah dijadikan kuat, berkat pengurapan itu. Dengan kata lain, orang yang diurapi bukanlah diunggulkan tetapi diungkapkan relasinya dengan Allah, agar supaya dapat melaksanakan tugasnya dalam kebersamaan mereka.

Pengurapan adalah Ungkapan Relasi dengan Allah demi Pengutusan
Pada bacaan kedua, Mat. 20:1-16a kita dapat menemukan bahwa diperlukan relasi dengan Allah demi perutusan. Paparan Matius dalam perikop ini melanjutkan kutipan, ketika orang bertanya mengenai “upahnya mengikuti Tuhan Yesus”. Yesus menegaskan, bahwa sesungguhnya “mengikuti Yesus untuk mengambil bagian dalam karya dan pengutusan Allah itu sendiri sudah merupakan sesuatu yang amat bernilai”. Namun, di antara mereka yang menjadi murid Yesus – dulu maupun sekarang – sering kali bersikap ‘mencari upah’, seakan-akan mengikuti Yesus adalah ‘kerja dalam perusahaan atau dagang’. Bahasa kasarnya: “Tuhan berani bayar berapa sih mempekerjakan saya ini? Aku dapat apa, kalau ikut Tuhan Yesus?” Kisah yang disampaikan dalam perikop ini memperlihatkan, sebenarnya, boleh ikut serta dalam Kebun Anggur Tuhan saja sudah merupakan anugerah yang tidak terhingga; apalagi, karena sejak awal kita tahu, bahwa segalanya “ada di Tangan Tuhan”. Upah kita adalah “bahwa kita berelasi dengan Tuhan”, dan bukan diabaikan oleh Tuhan. Patutlah kita bersyukur bahwa kita memperoleh pengutusan dari Tuhan. Betapa kita harus bersyukur tidak terhingga, bahwa kita – si pendosa ini – didatangi Sang Putera untuk rekonsiliasi dengan Bapa, dan bahkan diajak berelasi dengan-Nya; apalagi diutus dalam rangka karya penebusan-Nya.

Marilah kita tidak henti-hentinya bersyukur atas relasi dan pengutusan Tuhan.

(RP. B.S. Mardiatmadja, SJ – Dosen STF Driyarkara)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Keluarga sebagai sekolah pengembangan kemanusiaan: Semoga dengan hidup doa dan cintanya, keluarga-keluarga semakin mampu menjadi sekolah tempat kemanusiaan yang sejati dihidupi dan dikembangkan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Kerukunan antarumat beragama: Semoga dalam menjalin kerukunan hidup antarumat beragama, umat Katolik dimampukan untuk melihat kebaikan dan ketulusan dari kelompok umat beragama lain. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami dalam iman dan kesetiaan berbangsa mengobarkan nasionalisme penuh hikmat dan kebijaksanaan di kampung maupun di tempat-tempat aktivitas dalam masyarakat. Kami mohon…

 Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s