Undangan Pesta Bagi yang ‘Berpakaian Pantas’

Renungan Harian Misioner
Kamis Pekan Biasa XX, 22 Agustus 2019
Pesta Santa Perawan Maria, ratu
Hak. 11:29-39a; Mzm. 40:5,7-8a, 8b-9, 10; Mat. 22:1-14

Sebagaimana bacaan pertama menunjukkan bahwa niat yang disampaikan bukan dengan intensi iman ternyata tidak membuahkan sesuatu yang berharga. Sebaliknya, tekad yang dipersembahkan dengan intensi iman, menghasilkan buah yang baik.

Diperlihatkan tindakan Yahweh, dalam Perjanjian Lama, yang menganugerahkan karunia baik, merupakan pra-lambang dari persembahan diri, yang nantinya dalam Perjanjian Baru akan membuahkan sesuatu yang tidak terkira. Bacaan Injil dari Mat. 22:1-14 memaparkan perumpamaan mengenai Pesta Perkawinan, yang kerap dalam Alkitab dipakai untuk menggambarkan Kerajaan Allah. Dalam hal ini, Yahweh dengan baik hati telah menyampaikan undangan, walaupun ‘tidak wajib’. Sayang, bahwa para undangan tidaklah memberikan tanggapan yang sesuai dengan kebaikan Sang Pengundang. Padahal semua sudah siap. Kesiapan itu disebutkan tidak hanya sekali. Penyebutan lebih dari sekali itu ingin memperlihatkan, betapa kebaikan Sang Pengundang memang bersungguh-sungguh, dan bukan hanya basa basi.

‘Kemurahan hati’ Sang Pengundang itu sudah secara jelas dikemukakan, namun tidak ditanggapi semestinya. Semuanya ini ingin mengungkapkan hasrat Yesus untuk menjelaskan Kehendak Allah Bapa, yang bersungguh-sungguh menunjukkan kemurahan hati-Nya kepada manusia; yang ternyata – lagi dan lagi – telah mengabaikan kebesaran Hati Allah dalam mendekatkan Diri kepada manusia dengan pelbagai macam cara. Mereka tidak memedulikan Kebaikan Hati Allah, yang disampaikan berulang-ulang dalam Sejarah Keselamatan. Itulah sikap ‘orang-orang yang sejak awal terpilih’.

Namun, bahkan dalam kondisi ‘tidak dipedulikan oleh manusia, yang diundang itu, Sang Pengundang Agung itu tidak kehabisan ‘maksud baik’ untuk ‘menunjukkan keterbukaan Hati yang mahamurah’. Oleh sebab itu diundang-Nya ‘orang dari luar’ (sesuatu yang sedikit banyak menyenggol kejadian ‘historis’, ketika nantinya Yerusalem akan dibedah dan gerbangnya dipaksa untuk dibuka). Dibukalah ‘hati Sang Pengundang kepada ‘orang-orang di luar orang terpilih pertama tadi’ untuk membuka ‘Pesta bagi siapa pun dari luar sana’, walau asumsinya, tetap dengan ‘intensi baik’ (pakaian yang pantas). Orang pada ‘tahap ini’ adalah orang-orang, yang ‘menurut ukuran orang yang semula terpilih dianggap ‘orang luar sana’: para pendosa, pemungut cukai, dan sebagainya. Mereka itu menurut ukuran manusiawi lama adalah ‘orang yang tidak terhitung’. Orang-orang itu dipanggil Sang Pengundang juga; dengan kesediaan memakai ‘perlengkapan baik’ – ‘bertobat’.

Bagi kita semua, tersedia undangan dari Tuhan untuk ikut serta dalam Pesta Perkawinan Surgawi, melulu karena kemurahan hati Allah; bukan karena jasa kita. Yang diperlukan hanyalah kesediaan hati yang baik dari pihak kita, untuk memenuhi undangan itu selaras dengan Kehendak Allah. Itulah yang menyebabkan Bunda Maria mendapat tempat dalam Pesta itu. Dia didekati Allah, mendapat undangan yang diantar oleh Malaikat. Lalu Bunda Maria dengan totalitas KESEDIAAN HATI YANG BAIK menjawab “YA” secara menyeluruh, dan menyesuaikan diri dengan Sang Sabda Allah. Karena Sang Putera yang hadir karenanya menjadi RAJA, maka Bunda Maria adalah “Ratu kita’, menurut ungkapan Santo Ignatius dari Loyola. Pesta Maria Ratu ini pantas kita sambut dan rayakan dengan syukur.

(RP. B.S. Mardiatmadja, SJ – Dosen STF Driyarkara)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Keluarga sebagai sekolah pengembangan kemanusiaan: Semoga dengan hidup doa dan cintanya, keluarga-keluarga semakin mampu menjadi sekolah tempat kemanusiaan yang sejati dihidupi dan dikembangkan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Kerukunan antarumat beragama: Semoga dalam menjalin kerukunan hidup antarumat beragama, umat Katolik dimampukan untuk melihat kebaikan dan ketulusan dari kelompok umat beragama lain. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami dalam iman dan kesetiaan berbangsa mengobarkan nasionalisme penuh hikmat dan kebijaksanaan di kampung maupun di tempat-tempat aktivitas dalam masyarakat. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s