Belajar Mencintai Seperti Tuhan

Renungan Harian Misioner
Jumat Pekan Biasa XX, 23 Agustus 2019
Peringatan S. Rosa dr Lima
Rut 1:1.3-6,14b-16.22; Mzm.146:5-6.7.8-9a.9bc-10; Mat.22:34-40

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat.22:37-38).

Yesus meringkas hukum Taurat dan kitab para nabi menjadi dua kalimat saja namun mempunyai kekuatan yang luar biasa yang kita kenal sebagai Hukum yang terutama. Kesetaraan antara hukum mencintai sesama dengan hukum mencintai Allah. ”Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah Tuhan” (Im.19:18b) dan ”Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap kekuatanmu” (Ul.6:5).

Oleh ketaatan Maria, Yesus lahir ke dunia menjadi manusia sama seperti manusia lainnya. Berarti Yesus adalah sesama bagi kita, manusia yang hina dan penuh dosa. Yesus, Allah Putera menjelma menjadi manusia dan menyatukan diri dengan manusia, mengajarkan manusia untuk hidup saling mengasihi satu dengan yang lain. Mengasihi sesama adalah kewajiban kita sebagai pengikut-Nya.

Perumpamaan yang sangat jelas Yesus berikan mengenai Orang Samaria yang baik hati. Dia tergerak hatinya untuk memberikan pertolongan, berani berkorban waktu, tenaga dan uang untuk menolong sesamanya. Dia mengasihi tanpa pamrih, meskipun dia tidak mengenal si korban. Dia mampu melihat hidup sebagai cinta dan anugerah, mau berkorban apapun untuk mencintai sesama.

Bagaimana dengan kita di zaman now, sudahkah kita mampu mengasihi sesama seperti kita mengasihi Tuhan? Mungkin kita sangat mengasihi Tuhan hanya sebatas pikiran dan di bibir kita yang selalu bicara tentang Tuhan, Tuhan; namun sikap, tindakan, ucapan kita terhadap sesama berbeda. Yang kita lakukan adalah kehendakku, bukan kehendak-Nya. ”Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! Akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga” (Mat.7:21).

Bisa jadi kita rajin melakukan pelayanan sebatas mencari pujian bagi diri sendiri. Melayani sesama jika hati lagi senang, berkat berlimpah. Namun, di kala susah, kecewa, sakit hati kemudian muntaber (=mundur tanpa berita), menghilang dari pelayanan kepada Tuhan dan sesama. Tuhan ingin kita sungguh mencintai Dia sepenuh hati, apapun yang kita lakukan dan kita ucapkan pertama-tama ditujukan bagi kemuliaan Tuhan dan Tuhan juga ingin kita saling mengasihi sebagaimana Ia telah mengasihi kita sampai mengorbankan Putera-Nya sendiri.

Selagi kita masih punya waktu, sebelum tiba saat penghakiman, ingat ucapan Yesus ”[…] Ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku…” (Mat.25:31-45). Yesus mengajak kita melihat kehidupan sebagai kesempatan untuk saling mengasihi, saling berbagi, saling menghibur memberi warna kehidupan dengan cinta kasih.

Dalam bacaan pertama, Rut perempuan Moab yang telah menyerahkan diri seutuhnya kepada keluarga suaminya. Cinta kasih dan kesetiaannya kepada Naomi, ibu mertuanya, memampukan dia berucap “[…] bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; di mana engkau mati, aku pun mati di sana […]” (Rut. 1:16).

In Omnibus Amare Et Servire Domino, dalam segala keadaan kita mengasihi dan melayani Tuhan. Melayani sesama sebagai bukti cinta kita kepada Tuhan.

Sudahkah kita sungguh mencintai dan melayani Tuhan tanpa pamrih? Mengabdi kepada-Nya dan melakukan kehendak-Nya dengan penuh kasih dalam suka maupun duka?

(Alice Budiana – Komunitas Meditasi Katolik Ancilla Domini, Paroki Kelapa Gading – KAJ)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Keluarga sebagai sekolah pengembangan kemanusiaan: Semoga dengan hidup doa dan cintanya, keluarga-keluarga semakin mampu menjadi sekolah tempat kemanusiaan yang sejati dihidupi dan dikembangkan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Kerukunan antarumat beragama: Semoga dalam menjalin kerukunan hidup antarumat beragama, umat Katolik dimampukan untuk melihat kebaikan dan ketulusan dari kelompok umat beragama lain. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami dalam iman dan kesetiaan berbangsa mengobarkan nasionalisme penuh hikmat dan kebijaksanaan di kampung maupun di tempat-tempat aktivitas dalam masyarakat. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s