Tuan, Sedikit Sajakah Orang yang Diselamatkan?

Renungan Harian Misioner
Minggu Pekan Biasa XXI, 25 Agustus 2019
Yes. 66:18-21; Mzm. 117:1,2,; Ibr. 12:5-7,11-13; Luk. 13:22-30

“Tuan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Si penanya tanpa-nama itu mewakili pertanyaan dan kecemasan kita semua. Konon, orang Yahudi memang sering berdiskusi dan bertanya: apakah mereka semua diselamatkan, ataukah hanya “sisa kecil” saja? Sampai kini, pengikut Yesus sering terbagi dalam dua kubu. Ada yang super PD: semua kita sudah dipilih dan ditentukan TUHAN untuk selamat. Teks-teks seperti Ef. 1:4-5 dan Rm. 9:10-16 dikerahkan. Tingkah laku dan perbuatan baik manusia tidak menentukan, bahkan tidak perlu! Ada pula yang selalu ragu. Bukankah Yesus sendiri mengatakan: banyak yang dipanggil, tetapi hanya sedikit yang dipilih (Mat. 22:14)? Begitulah, selalu saja ada ketegangan abadi antara pemilihan Tuhan dan upaya manusia!

Beruntunglah, Yesus tidak memberikan jawaban langsung. Bukannya merumuskan dogma, Ia memakai kiasan dan metafora. Pertama, pintu yang sempit. Yesus memberi tantangan: Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sempit! Kata “berjuang” disini berkaitan dengan kata agonia (Inggris: agony, penderitaan hebat): menunjuk pada perjuangan yang sulit dan menyakitkan. Hidup beriman adalah perjuangan terus-menerus, dengan banyak sakit dan derita, demi mencapai keselamatan. Tuhan tahu bahwa kepastian sering membuat kita naif dan pasif, janji-Nya akan keselamatan sering kita klaim sebagai status yang sudah digenggam dan dibanggakan. Maka, Yesus menegaskan tanggung jawab yang kontinu dan bertahan. Janganlah berhenti berjuang! Keselamatan itu berarti melewati pintu sempit, bukan gerbang otomatis. Hidup beriman adalah perjuangan terus-menerus melawan godaan si Jahat dan memercayakan diri kepada Bapa. Itulah pola yang diperlihatkan Yesus sendiri di Taman Getsemani: dalam agonia, Ia terus berdoa (Luk. 22:24): berjuang melepaskan kehendak-Nya demi berserah pada rencana Bapa!

Kedua, pintu yang tertutup. Tuhan menutup pintu terhadap mereka yang salah-paham. Para tamu mengira dapat masuk, hanya karena pernah makan bersama Yesus dan mendengar pengajaran-Nya di jalan-jalan (ay.26). Ini jenis pengikut Yesus yang dangkal. Mereka mendengar pengajaran-Nya, tanpa menaati-Nya. Mereka ikut dalam ribuan massa yang Ia beri makan, tetapi tidak pernah berbagi makanan dengan sesama. Mereka pendengar dan pembelajar Firman, tetapi tidak hidup sesuai Firman. Mereka sering terlena dan merasa diri “orang dalam”, yang tahu banyak tentang Dia, mungkin juga mengklaim sering melihat Dia, dstnya. Yesus memberikan kejutan: justru orang seperti inilah yang dibiarkan-Nya tetap di luar. Mereka Ia samakan dengan para pembuat kejahatan! Tuhan menutup pintu bagi mereka, tetapi membuka pintu bagi orang-orang yang selama ini dianggap “luaran” (ay.29).

Ketiga, perjamuan. Perjamuan sering menjadi simbol keselamatan, saat Tuhan menjadi tuan rumah, yang membuka pintu dan menerima mereka yang layak. Merekalah para undangan yang berpakaian pesta, yang tiba pada saat-Nya. Mereka berhasil memasuki pintu sempit: bertahan dalam pergumulan dan derita hidup harian. Mereka tidak hanya ikut-ramai dalam Ekaristi, tetapi juga berbagi roti sehari-hari. Mereka tidak saja mengumandangkan Firman, tetapi juga diubah dan mengubah dunia oleh Firman itu.

(Hortensio Mandaru – Lembaga Alkitab Indonesia Jakarta)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Keluarga sebagai sekolah pengembangan kemanusiaan: Semoga dengan hidup doa dan cintanya, keluarga-keluarga semakin mampu menjadi sekolah tempat kemanusiaan yang sejati dihidupi dan dikembangkan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Kerukunan antarumat beragama: Semoga dalam menjalin kerukunan hidup antarumat beragama, umat Katolik dimampukan untuk melihat kebaikan dan ketulusan dari kelompok umat beragama lain. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami dalam iman dan kesetiaan berbangsa mengobarkan nasionalisme penuh hikmat dan kebijaksanaan di kampung maupun di tempat-tempat aktivitas dalam masyarakat. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s