Misionaris: Ber-“Missio” Lewat Cara dan Teladan Hidup

Renungan Harian Misioner
Kamis Pekan Biasa XXIV, 19 September 2019
Peringatan S. Yanuarius
1Tim. 4:12-16; Mzm. 111:7-8,9,10; Luk. 7:36-50

Renungan Harian Misioner dari Yung-Fo

Para sahabat misioner yang terkasih: Shalom!
Missio” atau Tugas-perutusan untuk mewartakan Injil Tuhan kita Yesus Kristus, tidak semata-mata suatu pewartaan vokal saja, melainkan harus didukung oleh cara & teladan hidup. Dan dengan demikian, tugas-perutusan itu menjadi sebuah kesaksian hidup, yang olehnya seseorang ikut berpartisipasi dalam proyek besar penyelamatan Allah atas umat manusia oleh Yesus Kristus (1 Tim. 4:16b). Selanjutnya untuk tugas-perutusan ini, ada nasihat Paulus kepada Timotius dan ada kritik Yesus kepada orang Farisi yang mengundang-Nya makan. Kita ikuti nasihat sekaligus kritik tentang perilaku & teladan hidup yang seharusnya melekat pada diri-pribadi seorang misionaris.

1. Nasihat kepada Timotius
Baik Paulus maupun Timotius adalah orang-orang yang telah menyerahkan diri kepada Tuhan Yesus Kristus, dan telah mulai bekerja mewartakan Injil tentang kerajaan keselamatan-Nya. Karena itu, nasihat Paulus kepada Timotius adalah nasihat antar para misionaris. Apa saja isi nasihat tersebut?

Ada sejumlah nasihat yang disampaikan Paulus kepada Timotius. Ada nasihat yang berkaitan dengan sesama dan ada nasihat yang berkaitan dengan Allah. Dalam hubungan dengan sesama, Timotius (dan para misionaris pada umumnya, dan bahkan semua pengikut Kristus!) diminta untuk menjadi “teladan.” Keteladanan ini harus nampak dalam perkataan dan tingkah-laku, dalam kesetiaan, dan dalam kesucian hidup (1 Tim. 4:12). Dalam hubungan dengan Allah, Timotius diminta untuk bertekun dalam membaca dan merenungkan Firman Allah. Hal ini penting, karena sebagai misionaris, Timotius harus memenangkan orang-orang bagi Kristus dan Kerajaan-Nya, lewat pengajaran Firman Allah itu. Dan untuk tugas-perutusan ini, Timotius telah dimeteraikan dengan penumpangan tangan, (1 Tim. 4:13-24). Selanjutnya Paulus meminta kepada Timotius untuk menghidupi apapun yang diajarkannya dengan tekun dan teliti, demi keselamatan dirinya dan keselamatan sesamanya (1 Tim. 4:15-16).

Demikianlah, para misionaris tidak hanya mewartakan Firman Allah, tetapi pertama-tama haruslah orang yang hidup dari Firman itu, sehingga pewartaannya sekaligus menjadi kesaksian hidup dan teladan bagi siapapun yang mendengarkan pewartaannya sebagai misionaris Kerajaan Allah!

2. Kritik Yesus terhadap Simon, si orang Farisi yang mengundang-Nya makan
Kritik ini berkaitan dengan sikap terhadap para pendosa. Event-nya adalah kehadiran seorang wanita pendosa, yang datang menjumpai Yesus lalu mencuci kaki-Nya dengan air matanya, menyekanya dengan rambutnya, mencium lalu meminyaki kaki-Nya tersebut dengan minyak wangi (Luk. 7:37-38).

Tindakan seperti ini, sesungguhnya merupakan bagian dari tata-adab orang Yahudi, yang lupa dibuat oleh si Farisi ketika mengundang Yesus ke rumahnya (Luk. 7:44-45). Mengapa tata-adab ini sepertinya dilupakan si Farisi itu? Nampaknya, seperti orang Farisi pada umumnya, mereka sibuk menilai Yesus, bahkan mencari-cari hal untuk mempersalahkan Yesus secara hukum agama Yahudi. Tetapi justru pada titik-lemah si Farisi inilah, Yesus memberikan pewartaan-Nya yang muncul dalam bentuk kritik, terutama kritik tentang cara memperlakukan orang-orang seperti perempuan pendosa ini!

Fokus perhatian Yesus berbeda sangat jauh dengan tuan rumahnya, Simon si Farisi itu, ketika mereka menerima kehadiran perempuan itu. Yesus memilih melihat “perbuatan kasih” dari perempuan pendosa ini (Luk. 7:47). Sementara fokus perhatian Simon, si Farisi yang mengundang Yesus makan di rumahnya, terarah kepada dosa dan kekurangan perempuan itu (Luk. 7:39).

Perbedaan cara pandang antara Yesus dengan Simon, si Farisi ini, pada akhirnya membawa mereka kepada sikap dan tindakan yang berbeda. Yesus menerjemahkan sikap dan cara pandangnya kepada pengampunan, sementara Simon si Farisi itu, tetap dengan sikap umum orang Farisi terhadap para pendosa, yaitu penghakiman (Luk. 7:39; 45-47).

Dari sikap dan perilaku Yesus dan Simon ini, kita menarik poin yang penting untuk para misionaris, yakni bahwa mereka harus seperti Yesus: fokus pada perbuatan kasih & pengampunan untuk mereka yang berdosa supaya ada keselamatan bagi orang-orang seperti si perempuan ini. Secara negatif, seorang misionaris harus menjauhkan dari dirinya sikap dan perilaku Simon, si Farisi itu. Terhadap mereka yang berdosa, seorang misionaris hendaknya tidak terjebak untuk menghakimi dan mempersalahkan. Seperti Yesus, para misionaris harus menyambut orang-orang seperti perempuan pendosa ini dan menuntun mereka kepada pertobatan untuk memperoleh pengampunan dosa.

Tuhan Yesus Kristus, bantu kami untuk melepaskan diri dari sikap menghakimi dan mempersalahkan orang lain, dan arahkanlah kami kepada perbuatan kasih dan pengampunan. Amin! (RMG)

(RD. Marcel Gabriel – Imam Keuskupan Pangkalpinang)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Perlindungan Laut: Semoga para politisi, ilmuwan dan ekonom mampu bekerjasama dalam melindungi dan melestarikan Samudra serta laut-laut dunia. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Pewarta Kabar Gembira: Semoga dengan rajin menghayati Kitab Suci, umat Katolik dapat memaknai profesinya masing-masing sebagai kesempatan untuk menjadi pewarta Kabar Gembira bagi sesamanya. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami setiap saat mensyukuri pendampingan malaikat, yang menjadi utusan Allah sebagai ungkapan Penyelenggaraan Ilahi agar hikmat Ilahi menguatkan Gereja. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s