Mengembalikan Gereja kepada Yesus Kristus

Renungan Harian Misioner
Jumat Pekan Biasa XXIV, 20 September 2019
Peringatan S. Andreas Kim Taegon dan Paulus Chong Hasang, dkk
1Tim. 6:2c-12; Mzm. 49:6-7,8-9,17-18-20; Luk. 8:1-3

Judul renungan ini aneh, mungkin juga disebut lebay. Sudah pasti, tak mungkin ada pemisahan antara Yesus Kristus dan Gereja. Yesus Kristus adalah Pendiri dan Pemiliknya. Pasti, Gereja selalu bersama Yesus. Ya benar sekali. Tetapi, ini semua dapat kita ketahui dan pelajari dari sekolah Minggu, BIA, BIR, Katekese umat atau pun khotbah-khotbah serta ajaran resmi Gereja. Semua sepakat, Gereja milik Yesus Kristus, Dia adalah Kepala, Pemimpin dan Batu Penjurunya. Tetapi sekali lagi ini adalah wacana dan bahan ajar serta pengetahuan umum.

Membaca surat kepada Timotius menghentak saya. Penulis surat ini amat lugas, jelas dan tanpa tedeng aling-aling. Ia mengamati kebobrokan dalam jemaat, komunitas Kristiani. Ia menemukan banyak kepalsuan. Banyak kata sedikit fakta, banyak omong sedikit bukti. Gereja sakit. Dia sakit bukan karena dia keluar ke jalan-jalan, berkeringat dan terhuyung-huyung di debu jalanan serta terik mentari. Dalam bahasa Paus Fransiskus, Gereja harus bergerak keluar. “Gereja yang pintu-pintunya terbuka. Bergerak keluar menjumpai sesama pada pinggiran kemanusiaan, tidak berarti bergegas tanpa arah dan tujuan ke dunia” (EG, 46).

Gereja yang bergerak keluar, menuju orang miskin dan yang berada di pinggiran kemanusiaan. Itulah Gereja favorit Paus Fransiskus, “Saya lebih menyukai Gereja yang memar, terluka dan kotor karena telah keluar di jalan-jalan; daripada Gereja yang sakit karena menutup diri dan nyaman melekat pada rasa amannya sendiri” (EG, 49). Gereja menutup diri dan sibuk dengan diri sendiri adalah Gereja “narcis” – sibuk mempercantik dan memperindah diri, tetapi daya “bijaknya” lemah. Ibarat lima gadis bodoh yang memperindah diri demi sang mempelai, tetapi tidak mencadangkan minyak bagi pelitanya. Gereja gagal menjadi pelita, menjadi terang. Ibarat manusia terjangkit obesitas; besar organisasinya, menumpuk sumber dayanya, tetapi sakit dalam dirinya. Sakit karena “rasa nyaman dengan diri sendiri”.

Gereja seperti ini kehilangan rohnya dan intimitasnya dengan si pemuda Nasaret, yang lahir di gua Betlehem, berkeliling sambil berbuat baik, bergaul dengan para pendosa dan akrab dengan mereka yang miskin dan pendosa sebagai saudara-saudari-Nya. Dia menyebut Allah adalah Bapa-Nya, dibenci petinggi agama dan intelektual dalam bidang Kitab Suci serta Hukum Agama (ahli Taurat dan Orang Farisi). Dia dihukum mati bak penjahat politik, karena setia pada kehendak Bapa, mewujudkan Kerajaan, sebagai “rumah semua bangsa dan suku”. Si pemuda itu, bukannya tidak menghargai hukum dan aturan, tetapi Dia setia pada prioritas, setia pada kehendak Bapa-Nya. Karena Bapa-Nya menghendaki belas kasih, bukan korban.

Gereja kita ramai, ibarat kantor pabean atau kantor pajak. “Seringkali kita menjadi wasit rahmat daripada fasilitatornya. Tetapi Gereja bukanlah pabean, melainkan rumah Bapa, di mana ada tempat untuk setiap orang dengan segala permasalahan hidup mereka” (EG, 47). Banyak persoalan dan borok. Dan kita tenang, karena membenamkannya. Kata-kata penulis surat kepada Timotius patut kita catat, karena jangan-jangan kita tidak hidup menurut ajaran Yesus, sesuai iman kita, tetapi oleh orang “yang berlagak tahu padahal tidak tahu apa-apa. Penyakitnya ialah mencari-cari soal dan bersilat kata, yang menyebabkan dengki, iri hati, fitnah dan curiga, percekcokan antara orang-orang yang tidak lagi berpikir sehat, yang kehilangan kebenaran dan mengira agama itu suatu sumber keuntungan”. Komunitas Gereja seperti ini tidak saja “jauh dari Yesus Kristus” tetapi menjauhkan diri dari pokok anggur yang benar. Mari, kembalikan Gereja kepada Yesus Kristus.

(Sdr. Peter C. Aman, OFM – Ketua Komisi JPIC OFM Indonesia)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Perlindungan Laut: Semoga para politisi, ilmuwan dan ekonom mampu bekerjasama dalam melindungi dan melestarikan Samudra serta laut-laut dunia. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Pewarta Kabar Gembira: Semoga dengan rajin menghayati Kitab Suci, umat Katolik dapat memaknai profesinya masing-masing sebagai kesempatan untuk menjadi pewarta Kabar Gembira bagi sesamanya. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami setiap saat mensyukuri pendampingan malaikat, yang menjadi utusan Allah sebagai ungkapan Penyelenggaraan Ilahi agar hikmat Ilahi menguatkan Gereja. Kami mohon…

Amin

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s