Jadi ‘Hebat’ Tanpa Berusaha Menjadi Hebat

Renungan Harian Misioner
Senin Pekan Biasa XXVI, 30 September 2019
Peringatan S. Hieronimus
Za. 8:1-8; Mzm. 102:16-18,19-21,29,22- 23; Luk. 9:46-50

Bacaan kitab suci hari ini mengingatkan kita akan dua kecenderungan dalam hidup kita: ingin menjadi “terbesar” (popular, terkenal, yang paling penting) dan kecemburuan. Sebagian orang bercita-cita untuk menjadi yang terbesar dalam hidup. Menjadi terbesar berarti menjadi terkenal, terbaik, paling kuat, paling penting dan memegang posisi paling menonjol dalam hidup. Kebesaran di dunia selalu dijabarkan dalam hal-hal duniawi. Banyak orang ingin merasa hebat dan menjadi terbesar. Keagungan bagi kita berarti memiliki tempat kehormatan, pengakuan, dan prestise tertinggi dalam hal posisi, kekuatan, dan kekuasaan.

Namun Yesus menjelaskan bahwa, menjadi terbesar dalam Kerajaan Allah itu tidak dapat dilihat dalam perspektif duniawi. Yang kecil di mata manusia, justru menjadi terbesar di dalam Kerajaan Allah. Kisah Yesus menempatkan anak kecil di tengah-tengah para Rasul dan mengajarkan mereka tentang arti “terbesar” dalam Kerajaan Allah, menjadi refleksi bagi kita juga tentang menjadi terbesar di mata Allah. Menyambut seorang anak berarti menyambut orang yang paling tidak berarti dalam hidup kita, karena anak-anak pada zaman Yesus dianggap bukan memiliki status sosial yang tinggi, mereka hadir tetapi tidak didengarkan. Mereka adalah orang-orang yang paling rentan pada masa itu.

Karena itu, kebesaran atau keagungan tidak berfokus pada diri sendiri, berpikir tentang diri kita sendiri atau merasa hebat tentang diri kita sendiri atau paling penting di hadapan orang lain. Kebesaran yang dikehendaki Allah adalah menyangkut orang lain. Seseorang menjadi hebat dengan tidak berusaha menjadi hebat. Ini sesungguhnya adalah sebuah ironi, menjadi hebat tanpa berusaha menjadi hebat! Dalam Kitab Suci, kita mengenal tokoh-tokoh yang menunjukkan kebesaran mereka tanpa harus menjadi terbesar! Contohnya adalah Bunda Maria! Bunda Maria sungguh luar biasa karena dia dipilih untuk menjadi ibu Juruselamat. Tetapi kehormatan ini diberikan kepadanya oleh Tuhan. Dia tidak merasa bahwa dia hebat, sebaliknya memberikan semua kehormatan kembali kepada Tuhan, yang terungkap dalam Magnificatnya. Lebih jauh, perhatian dan prioritasnya yang mendesak adalah segera pergi dan membantu sepupunya, Elisabet. Menjadi besar mengharuskan kita untuk tidak memfokuskan kehormatan yang kita terima pada diri kita sendiri.

Dalam perspektif Allah, kita menjadi besar ketika kita bisa menjangkau orang yang paling terlantar dan yang tidak dianggap dalam masyarakat kita. Kebesaran, kehebatan hanya ditemukan dalam totalitas pelayanan kita kepada mereka yang terpinggirkan. Dengan demikian kita dapat menemukan bahwa kebesaran atau keagungan kita tidak terletak pada kehormatan atau kedudukan yang kita miliki tetapi pada kebajikan kita, terutama belas kasih kepada mereka yang membutuhkan sebagaimana diajarkan oleh Yesus sendiri. Dengan cara yang sederhana ini, kita menempatkan diri kita dalam misi Allah sendiri. Karena penyatuan kita dalam misi Allah, maka yang paling penting bukanlah apakah kita hebat atau tidak di mata dunia, tetapi apakah kita hebat di mata Tuhan. Ini hendaknya menghantar kita pada refleksi ini, bahwa pelayanan apa pun yang kita lakukan merupakan bentuk pelayanan kita kepada Tuhan, bukan hanya kepada manusia. Melayani Tuhan adalah sebuah kehormatan besar bagi kita orang yang percaya kepada-Nya!

Melalui pelayanan kita dalam Misi kita bersama Allah, kita dipanggil sebagaimana orang Israel dalam bacaan pertama untuk membangun kehidupan umat yang lebih baik. Pengalaman pengasingan memberikan mereka kesadaran akan kebesaran Allah yang melindungi mereka, sehingga semangat hidup yang digerakkan oleh seruan nabi bahwa Allah akan menjaga restorasi Israel dan Bait Suci menjadi kekuatan untuk kembali hidup secara benar. Pengalaman Israel ini menjadi refleksi juga bagi kita bahwa, kita juga dipanggil untuk membangun kembali kehidupan saudara-saudari kita dalam komunitas kita atau dalam masyarakat kita khususnya mereka yang membutuhkan tanpa ada motif yang tersembunyi. Inilah arti kebesaran! Pada akhirnya, orang yang dikenang adalah bukan mereka yang kaya atau terkenal atau bahkan berkuasa, tetapi mereka yang mengubah hidupnya dan membuat hidupnya lebih baik untuk sesamanya. Orang-orang hebat adalah mereka yang melayani dengan rendah hati dan tanpa pamrih!

Maka, marilah kita mencari KEBESARAN sejati dalam hidup kita dengan membuka hati pada Allah sendiri. Hendaklah kita tidak terjebak dalam cara yang sama seperti para Rasul, yang mencari kebesaran itu dalam konteks duniawi, “siapa yang terbesar di antara mereka”. Kita hendaknya membuka hati kita agar lebih peka pada ajaran Yesus tentang arti menjadi terbesar. Kita juga belajar untuk meredam rasa cemburu kita, tidak seperti Para Rasul. Mereka iri bahwa seseorang yang bukan salah satu dari mereka dapat mengusir roh jahat dalam nama Yesus, sementara mereka yang adalah rasul-Nya tidak sanggup melakukannya. Tetapi Yesus berkata, “Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu” (Luk. 9:50)

Pelayanan sejati kita datang dari kebesaran hati. Karenanya ketika kita melayani sesama kita, kita tidak mementingkan diri sendiri, agar kelak kita mendapat pujian atau penghormatan. Sebaliknya kita bersyukur bahwa kita diberi kemampuan dan kesempatan untuk melayani sesama kita tanpa ada motif apa pun di baliknya. Dengan pelayanan kita, orang juga membuka hatinya kepada kehadiran Allah, menerima Allah dalam hidupnya dan pada akhirnya mengubah hidupnya menjadi lebih baik. Semoga bacaan Kitab Suci hari ini selalu menjadi inspirasi bagi pelayanan kita, sehingga kita boleh bergembira menjadi “Rasul” Yesus pada zaman ini, membawa KABAR GEMBIRA kepada mereka yang membutuhkan, khususnya bagi orang-orang yang terpinggirkan!

(RP. Joseph Gabriel, CSsR – Imam di Manila)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Perlindungan Laut: Semoga para politisi, ilmuwan dan ekonom mampu bekerjasama dalam melindungi dan melestarikan Samudra serta laut-laut dunia. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Pewarta Kabar Gembira: Semoga dengan rajin menghayati Kitab Suci, umat Katolik dapat memaknai profesinya masing-masing sebagai kesempatan untuk menjadi pewarta Kabar Gembira bagi sesamanya. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami setiap saat mensyukuri pendampingan malaikat, yang menjadi utusan Allah sebagai ungkapan Penyelenggaraan Ilahi agar hikmat Ilahi menguatkan Gereja. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s