Misionaris: Membawa Kembali Umat kepada Allah

Renungan Harian Misioner
Kamis Pekan Biasa XXVI, 03 Oktober 2019
Peringatan S. Fransiskus Borgia, S. Ewaldus Bersaudara
Neh. 8:1- 4a,5-6,7b-12; Mzm. 19:8,9,10,11; Luk. 10:1-12

Renungan Harian dari Yung-Fo

Para sahabat misioner yang terkasih: Shalom!
Memasuki H3 Bulan Oktober ini, Firman Tuhan menegaskan tentang “pembuangan” yang sering membelenggu Umat Allah, kemudian tentang “jalan kembali” yang dibuka untuk mengatasi pembuangan tersebut, dan apa saja “peran para misionaris” di dalam situasi yang membelenggu, yang membutuhkan “jalan kembali” tersebut.

1. Dua Macam Pembuangan
Firman Tuhan dalam kedua Bacaan hari ini menegaskan tentang adanya pembuangan dalam hidup Umat Allah. Yang satu bergerak dan menggerogoti level fisik-jasmaniah dari kehidupan manusia, dan yang lain bergerak serta menggerogoti level rohaniah-spiritual manusia.

1.1. Pembuangan Fisik-Jasmaniah
Indikasi tentang Pembuangan Fisik-Jasmaniah ini langsung kita temukan pada bagian pembuka Kitab Nehemia, yang menjadi Bacaan Pertama hari ini. “Sesudah kembali dari PEMBUANGAN, orang-orang Israel telah menetap kembali di kota-kota mereka” (Neh. 8:1). Kata “kembali” pada ayat pertama ini menunjukkan bahwa pembuangan yang dialami Umat Allah Perjanjian Lama itu telah berakhir!

Efek dari pembuangan fisik-jasmaniah ini pertama-tama menyebabkan Umat Allah tercerabut dari tanah air milik pusaka mereka, dan dibawa untuk dipekerjakan sebagai budak di negeri asing, yang bukan negeri mereka. Umat Allah itu tercerabut secara geografis dari lokasi yang merupakan milik mereka, kemudian dibawa pergi, dan menetap sebagai pekerja di tanah asing.

Selain efek geografis tersebut, Umat Allah itu juga tercerabut atau dilepas-pisahkan dari ikatan dengan tradisi budaya dan religius mereka. Meteka dijauhkan dari Bait Allah, dari Tata-cara Ibadah yang terpusat di Bait Allah tersebut, dan pada akhirnya mereka juga “lepas” dari hubungan dengan Allah dan dengan hukum-hukum serta Firman-Nya. Di negeri asing itu, bahaya idolatria atau penyembahan berhala mengintai mereka!

1.2. Pembuangan Spiritual-Rohaniah
Pengalaman Umat Allah Perjanjian Lama yang dikisahkan dalam Kitab Nehemia tersebut di atas, menunjukkan bahwa pembuangan spiritual-jasmaniah ini muncul sebagai akibat yang mengikuti pembuangan fisik-jasmaniah tersebut. Sekalipun demikian, pembuangan spiritual-rohaniah ini sesungguhnya tidak terikat dengan lokasi geografis tertentu. Di mana saja kemungkinan itu bisa terjadi!

Katakanlah seperti pengalaman UAPL, yang karena tercerabut secara lokal-geografis dan jauh dari lingkungan sosio-religiusnya sendiri, lalu digempur oleh bahaya idolatria dan tekanan para penguasa negeri asing itu, maka mereka bisa dengan mudah meninggalkan Allah dan mengikatkan diri untuk beribadah kepada dewa-dewa asing! Ketika mereka akhirnya membuat pilihan untuk beribadah kepada dewa-dewa asing, itu maka pembuangan spiritual-rohaniah dengan segala konsekuensinya berlaku atas mereka!

2. Jalan kembali dari pembuangan
Sebagaimana halnya kasus “pembuangan Umat Allah” ini menggerogoti kehidupan mereka baik pada level fisik-geografis-jasmaniah maupun pada level spiritual-religius-rohaniah, demikian jugalah jalan kembalinya harus melewati kedua level kehidupan tersebut. Secara fisik-geografis-jasmaniah, tinggal menguatkan niat lalu mengangkat kaki dan berangkat meninggalkan tanah pembuangan itu untuk kembali ke tanah air sendiri. Sementara secara spiritual-religius-rohaniah, jalan kembali itu kita kenal secara khusus sebagai jalan pertobatan, di mana Umat Allah yang terkurung dalam praktik penyembahan berhala (idolatria) melepaskan ikatan dengan dewa asing itu dan kembali kepada Yahweh, kepada Allah nenek-moyang bangsa Israel, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.

2.1. Peran Para Nabi & Para Imam
Jalan kembali Umat Allah dari negeri asing ke tanah air sendiri, dan dari kekafiran plus idolatria kepada Allah yang benar, banyak dipengaruhi oleh pewartaan para nabi dan para imam. Nehemia, Ezra, dan saudara-saudaranya adalah tokoh yang dihadirkan Allah kepada umat-Nya.

Kerinduan akan Firman Tuhan yang jarang diperdengarkan di negeri asing, membawa Umat Allah untuk datang kepada imam-Nya Ezra, supaya imam Tuhan itu membacakan Kitab Taurat Musa kepada mereka, (Neh. 8:2b. 4b). Firman Tuhan itu disambut dengan penuh rasa hormat. Para tokoh Umat Allah ini, baik kepala daerah maupun imam, mengambil kesempatan itu untuk menyemangati Umat yang baru saja kembali dari pembuangan tersebut, dan meyakinkan Umat itu, bahwa Tuhan Allah berkenan untuk menerima mereka kembali, dan Allah menjadikan diri-Nya sebagai pelindung mereka, (Neh. 8:11). Setelah pembacaan Firman Tuhan itu, dibuat katekese untuk memperkenalkan kembali Allah dan Firman-Nya kepada umat-Nya.

2.2. Peran Para Murid Yesus
Kepada Umat Allah yang terbelenggu oleh aneka bentuk pembuangan, Yesus mengutus para murid-Nya untuk memberitakan damai-sejahtera, untuk menyembuhkan orang-orang sakit, dan untuk membawa manusia kembali kepada Allah melalui jalan pertobatan agar hati umat itu dapat terbuka menerima Kerajaan Allah.

Demikian, dengan cara-cara tersebut di atas, para murid diutus untuk mempersiapkan hati orang, agar dapat berjumpa dengan Sang Juruselamat yang sedang mendatangi mereka (Luk. 10:1).

3. Dari awal sampai kepada anda dan saya!
Demikianlah kita melihat bahwa kalau ada pembuangan, ada juga jalan kembali yang dibuka oleh Tuhan lewat orang-orang yang dipilih dan diutus-Nya. Dan garis perutusan itu terus berkesinambungan hingga sekarang ini: dari Ezra – Nehemia di Masa Perjanjian Lama, dilanjutkan Yesus dan ke-72 murid-Nya di Masa Perjanjian Baru. Selanjutnya dari Zaman Yesus masuk ke Zaman Gereja, dengan anda dan saya sebagai pewaris perutusan itu. Apa yang bisa kita lakukan untuk membawa umat manusia melewati aneka wujud pembuangan modern saat ini, sehingga mereka dapat sampai kepada perjumpaan dengan Allah yang sesungguhnya di tanah air sorgawi?

Melalui Surat Apostolik Maximum Illud, Paus Benediktus XV meminta saudara dan saya untuk membantu karya misi Gereja dengan tiga cara: Doa, dana, dan bantuan kepada Propaganda Fide (MI, 32-37).

Kiranya dengan cara-cara ini, kita dapat membantu membukakan “Jalan Kembali,” bagi orang-orang yang terbelenggu oleh pembuangan, hingga dapat kembali ke pangkuan Allah yang sesungguhnya. Amin! (RMG)

(RD. Marcel Gabriel – Imam Keuskupan Pangkalpinang)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Musim panen karya misi di Gereja: Semoga napas Roh Kudus menyemaikan dan menyuburkan Gereja dengan berseminya usaha dan karya-karya misi yang baru. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Gereja di Pedesaan: Semoga seiring dengan makin sedikitnya anak muda yang mau tinggal di pedesaan, Gereja setempat menemukan program-program yang dapat mengarahkan anak muda untuk mencintai dan memajukan desanya sendiri. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami mendukung nasionalisme orang muda kami, sehingga meneruskan perannya bekerja sama dengan rekan-rekan muda lain membangun persaudaraan secara bijaksana. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s