Mendengarkan Tuhan adalah Pilihan yang Terbaik

Renungan Harian Misioner
Selasa Pekan Biasa XXVII, 08 Oktober 2019
Peringatan S. Sergius dan Bakhus
Yun. 3:1-10; Mzm. 130:1-2,3-4ab,7-8; Luk. 10:38-42

Hari ini kita diajak melihat dua macam karakter manusia dalam menanggapi Firman Tuhan. Dalam bacaan pertama, kita berjumpa dengan kisah Yunus yang sudah sangat sering kita dengar dan dengan mudah kita diingatkan akan akhir dari cerita tersebut. Reaksi yang sama ketika kita membaca kisah Maria dan Marta dalam bacaan Injil. Memang ada kesamaan pesan dalam bacaan hari ini.

Dalam kisah yang pertama, kita dihadapkan pada dua tokoh utama, Yunus dan orang-orang Niniwe. Mereka sama-sama percaya kepada Allah dan tentunya mereka akan berusaha taat kepada Firman Allah. Yunus yang mendengar Firman Tuhan segera bertindak, berjalan masuk ke dalam kota Niniwe dan menyampaikan seruan agar orang-orang Niniwe bertobat sebelum 40 hari berakhir. Orang-orang Niniwe: mulai dari Raja, orang dewasa maupun anak-anak, bahkan ternak mereka segera berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan dari kekerasan yang mereka lakukan, setelah mendengarkan Firman Tuhan yang disampaikan melalui Yunus. Dan apa yang diperbuat oleh orang-orang Niniwe ini berkenan bagi Allah yang kemudian membatalkan hukuman kepada mereka, karena mereka mau bertobat dan mengubah gaya hidup mereka. Pengampunan yang dikaruniakan Tuhan ini rupanya mengesalkan dan membuat marah Yunus (Yun. 4:1).

Dua tokoh lain di dalam Injil adalah dua bersaudara Marta dan Maria. Marta yang kedatangan ‘tamu istimewa’ sibuk sekali melayani ini dan itu, mempersiapkan berbagai hal untuk menyenangkan ‘tamunya’, sehingga ia hanya sempat mendengar Tuhan Yesus mengajar dan berfirman saat itu. Sebaliknya, Maria dengan tekun duduk di dekat kaki Yesus dan mendengarkan segala perkataan-Nya. Seperti Yunus, Marta pun menjadi kesal dan mengajukan protes karena Yesus tidak menegur Maria yang tidak membantu Marta yang sedang kerepotan itu.

Hmm… mengapa Yunus dan Marta menjadi kesal terhadap reaksi Tuhan? Mungkin akan sama jawabannya kalau kita tanyakan pada diri kita sendiri, apakah yang kadang-kadang membuat diri kita kesal, bahkan marah pada Tuhan? Jawabannya adalah, karena apa yang terjadi tidak terjadi sesuai yang kita bayangkan. Kebanyakan dari kita hanya ‘mendengar’ perkataan Tuhan, dan mengambil kesimpulan sendiri atas firman yang disampaikan-Nya. Kita segera bertindak sesuai asumsi-asumsi apa yang akan terjadi kalau firman itu kita laksanakan dalam hidup kita, dan segera menjadi kecewa ketika kenyataan yang ada tidak sesuai dengan gambaran yang ada dalam pikiran kita. Seperti Yunus, ketika Tuhan mengutusnya untuk menghadapi orang-orang Niniwe yang ‘berdosa,’ rupanya dia sudah membayangkan bahwa Allah akan menghukum mereka karena tindakan-tindakan mereka yang jahat. Demikian pula Marta, dia sudah berasumsi kalau Maria akan ditegur oleh Yesus karena tidak ikut membantunya melayani ‘tamu istimewa’ yang datang ke rumah mereka. Kenyataan yang terjadi, sungguh berbeda dengan pengandaian mereka, sehingga mereka kesal dan marah kepada Tuhan.

Dari pengalaman Yunus dan Marta ini, kita melihat bahwa apa yang dipikirkan manusia tidak selalu terjadi sesuai dengan keinginan hatinya. Apabila manusia hanya sekedar mendengar firman-Nya dan berpikir bahwa Allah akan bertindak menurut pengertian mereka sendiri, mereka akan kecewa, kesal dan bahkan marah. Mendengarkan Tuhan perlu kerendahan hati seperti Raja Niniwe, yang mengabaikan segala kekuasaannya di hadapan sang Raja segala raja, menyadari dirinya hanyalah debu yang membutuhkan belas kasih Allah. Mendengarkan perkataan-Nya perlu menempatkan diri seperti Maria yang duduk di dekat kaki-Nya, sebab di kaki Yesuslah kita beroleh kesembuhan dan kelegaan (bdk. Mat. 15:30). Maka di tengah kesibukan kehidupan sehari-hari maupun dalam pelayanan kita hendaklah kita fokus pada Firman-Nya, mendengarkan-Nya dengan jiwa yang penuh kerinduan menanti-nantikan dan mengharapkan-Nya membuat kita mengerti akan apa yang dikehendaki Tuhan terjadi dalam diri kita, maka kita akan beroleh yang terbaik: kasih setia dan kelegaan dari-Nya (Mzm. 130:5-7). (ek)

(Antonius Ekahananta – Awam Katolik Pengajar Misi Evangelisasi)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Musim panen karya misi di Gereja: Semoga napas Roh Kudus menyemaikan dan menyuburkan Gereja dengan berseminya usaha dan karya-karya misi yang baru. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Gereja di Pedesaan: Semoga seiring dengan makin sedikitnya anak muda yang mau tinggal di pedesaan, Gereja setempat menemukan program-program yang dapat mengarahkan anak muda untuk mencintai dan memajukan desanya sendiri. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami mendukung nasionalisme orang muda kami, sehingga meneruskan perannya bekerja sama dengan rekan-rekan muda lain membangun persaudaraan secara bijaksana. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s