Jangan Penjarakan Tuhan!

Renungan Harian Misioner
Rabu Pekan Biasa XXVII, 09 Oktober 2019
Peringatan S. Dionisius, S. Yohanes Leonardus
Yun. 4:1-11; Mzm. 86:3-4,5-6,9-10; Luk. 11:1-4

Sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia-Nya” (Yun. 4:2).

Yunus bin Amitai bukanlah Nabi yang taat pada Allah. Meskipun menyandang nama yang memiliki makna luar biasa: Yunus berarti “merpati” (Ibrani: Yonah), yang umumnya menjadi simbol ketulusan; Amitai (“kebenaranku”), artinya Yunus harus mewartakan kebenaran TUHAN – kasih-Nya kepada manusia, sesuai janji-Nya. Alih-alih taat dan setia, Yunus melarikan diri, berbalik arah dari tujuan yang diperintahkan Allah. Bukannya pergi ke Niniwe (Timur), Yunus berbuat persis terbalik dari apa yang diperintahkan Tuhan, ia melarikan diri ke Tarsis (Barat).

Tapi siapakah yang dapat melarikan diri dari Allah? Setelah angin ribut, dicampakkan ke laut, ditelan seekor ikan besar dan tinggal di dalam perut ikan selama tiga hari, Yunus selamat kembali ke darat. Lalu Tuhan kembali memerintahkan Yunus pergi ke Niniwe, menyampaikan seruan Tuhan. Orang-orang Niniwe percaya dan berpuasa; raja kota Niniwe turun dari singgasana, menyelubungkan kain kabung, duduk di atas abu, bersama-sama mereka berseru dengan keras kepada Allah serta berbalik dari kejahatan mereka. Lalu Allah menyesali rancangan malapetaka yang akan ditimpakan-Nya kepada orang-orang Niniwe tersebut, dan membatalkannya.

Yunus bin Amitai, si nabi Allah yang akhirnya taat dan berhasil membawa seruan yang mentobatkan orang-orang Niniwe itupun menjadi marah. Ia tidak puas Allah tidak jadi menghukum orang-orang Niniwe; sangat kesal hatinya dan “marah-marah” dikarenakan Tuhan mengasihi kota Niniwe. Meskipun dalam doanya Yunus mengakui bahwa Allah adalah pengasih dan penyayang, tapi tetap saja ia merasa sangat kesal dan marah untuk penyelamatan Allah pada kota Niniwe. Ia menginginkan pembalasan, bukan pertobatan! Ia ingin Allah menghancurkan, bukan mengasihi! Ia tidak siap mengampuni orang-orang Niniwe dan ia menginginkan Allahpun demikian! Ia ingin memenjarakan Allah dalam keinginan, pikiran dan hukum pembalasan yang diimaninya.

Keadilan Allah ternyata berbeda dengan keadilan manusia. Berapa kali kita menemukan kisah di dalam Kitab Suci, yang membuat kita ‘sangat kesal’ seperti Yunus, karena tidak setuju pada tindakan Tuhan dan merasa hukum keadilan tidak berlaku? Sebut saja kisah anak bungsu dan anak sulung atau kisah para pekerja yang terlambat dan mendapatkan upah yang sama. Kekesalan kita dikarenakan kita cemburu bila orang lain mengalami nasib baik (kebaikan Tuhan), apalagi jika orang tersebut orang yang berdosa (kurang baik). Kita menuntut pembalasan. Kebaikan dibalas kebaikan, kejahatan dibalas kejahatan. Hukum yang kita pegang kuat-kuat masih hanya sebatas itu saja, timbangan yang sama berat. Kita belum memahami hukum kasih Tuhan, yang memandang pertobatan, yang menghargai penyesalan. Dan sering kali kita ingin memaksa Tuhan menjadi seperti yang kita kehendaki, alih-alih berusaha mengerti misteri kasih dan tindakan-Nya.

Mari bebaskan hati dan pikiran, buka lebar-lebar pintu dan jendela, untuk dapat memandang lebih luas dan jauh. Jangan penjarakan diri dalam konsep dan pemikiran kita yang picik. Jangan pernah juga memenjarakan Tuhan dengan jeruji duniawi yang kita buat. Allah bebas berkarya di manapun dan untuk siapapun. Ia boleh memberi siapa saja kebaikan, kapan saja Ia kehendaki. Tuhanlah penentu segalanya, nasib manusia dan alam ada di tangan-Nya. Baik hidup orang-orang Niniwe ataupun pohon jarak, Tuhanlah yang menentukan. Jangan sampai Tuhan harus menanyakan pertanyaan yang sama kepada kita, “Layakkah engkau marah?

(Angel – Karya Kepausan Indonesia)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Musim panen karya misi di Gereja: Semoga napas Roh Kudus menyemaikan dan menyuburkan Gereja dengan berseminya usaha dan karya-karya misi yang baru. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Gereja di Pedesaan: Semoga seiring dengan makin sedikitnya anak muda yang mau tinggal di pedesaan, Gereja setempat menemukan program-program yang dapat mengarahkan anak muda untuk mencintai dan memajukan desanya sendiri. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami mendukung nasionalisme orang muda kami, sehingga meneruskan perannya bekerja sama dengan rekan-rekan muda lain membangun persaudaraan secara bijaksana. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s