Tuhan Tak Peduli Batas Buatan Manusia

Renungan Harian Misioner
Minggu Pekan Biasa XXVIII, 13 Oktober 2019
2Raj. 5:14-17; Mzm. 98:1,2-3ab,3cd-4; 2Tim. 2:8-13; Luk. 17:11-19

Injil ini tentang batas dan jarak. Yesus berjalan ke Yerusalem, menyusuri perbatasan Samaria dan Galilea. Samaria adalah wilayah orang non-asli: ras campuran yang tidak murni berdarah Yahudi. Keagamaan mereka juga dicap kurang lengkap dan cacat. Biasanya orang Yahudi amat teliti mengawasi batas-batas negeri: jangan sampai masuk ke tanah najis! Mereka umumnya menghindari wilayah Samaria. Yesus justru sebaliknya, menyusur perbatasan wilayah Samaria dan Galilea. Rute itu memungkinkan Dia berjumpa dengan penduduk dari dua wilayah itu. Ia tidak peduli dengan batas-batas buatan manusia. Yesus mengingatkan kita untuk menjadi perekat bukan pemisah, menjadi penghubung bukan penghasut antar manusia.

Orang kusta hidup di batas-luar alias pinggiran masyarakat. Mereka dipisahkan dan harus tinggal jauh dari pemukiman. Mereka tidak diperkenankan ikut ibadat dan kegiatan sosial. Kehadiran mereka harus diperjelas lewat pakaian dan rambut yang awut-awutan. Mereka harus berteriak agar orang jangan mendekat. Kehadiran mereka memang tidak diinginkan. Jarak dan batas antara mereka dan orang sehat harus tegas. Sebagaimana batas wilayah dan batas kota (gerbang) diawasi dari hal dan orang najis, demikian juga batas-badan (kulit) harus diawasi. Penyakit kulit, seperti kusta, membuat cairan tubuh yang seharusnya berada di dalam, merembes keluar. Itulah yang menajiskan dia, maupun yang menyentuh dan disentuhnya. Akan tetapi, ke-10 orang kusta ini justru mendekati Tuhan. Mereka berupaya menjembatani jarak dan melampaui sekat serta batas, meski hanya lewat teriakan mohon belas-kasihan (ay.13).

Tuhan mendengarkan dan menyembuhkan mereka lewat tatapan mata dan firman-Nya. Merekapun menjadi sembuh tanpa disentuh. Jeritan manusia selalu mengundang tatapan-cinta Tuhan. Mereka dipulihkan-Nya, karena mereka taat. Percaya dan taat pada kata-kata Tuhan dapat menyembuhkan Anda dan Saya. Itulah sarana yang menjembatani jarak kita dengan Dia, yang tidak lagi hadir secara ragawi. Ia hadir dalam firman-Nya yang kita taati dan hayati dalam hidup nyata, serta kita renungkan dan rayakan dalam ibadat.

Orang-orang kusta itu harus diperiksa dan dinyatakan tahir oleh Imam di Bait Allah. Tetapi, Bait Allah yang mana: di Yerusalem (Yahudi) atau di gunung Gerizim (Samaria)? Tidak dikatakan bahwa si Samaria akhirnya pergi ke salah satu Bait Allah tersebut. Di tengah jalan, ia melihat bahwa dirinya sudah sembuh. Itu yang membedakan dia dari yang sembilan. Ia menyadari bahwa Allah sudah menyembuhkannya lewat Yesus. Maka, ia kembali kepada Yesus. Bait Allah, batas dan jarak sosio-religius Yahudi-Samaria menjadi tidak penting lagi. Semuanya terjembatani oleh Yesus. Si Samaria menjadi model beriman: menyadari karya Allah dalam dirinya, lalu berubah menjadi manusia baru yang memuliakan Allah dalam Yesus! Akan tetapi, selalu saja ada lebih banyak manusia yang tidak tahu bersyukur! Sudah banyak orang yang Tuhan sembuhkan dengan pelbagai bentuk dan cara. Berapa orang yang kembali untuk memuliakan Allah? Berapa banyak yang bersyukur kepada Yesus, setelah ia sembuh? Ah, Si Samaria memang selalu hanya satu dari sepuluh!

(Hortensio Mandaru – Lembaga Alkitab Indonesia Jakarta)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Musim panen karya misi di Gereja: Semoga napas Roh Kudus menyemaikan dan menyuburkan Gereja dengan berseminya usaha dan karya-karya misi yang baru. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Gereja di Pedesaan: Semoga seiring dengan makin sedikitnya anak muda yang mau tinggal di pedesaan, Gereja setempat menemukan program-program yang dapat mengarahkan anak muda untuk mencintai dan memajukan desanya sendiri. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami mendukung nasionalisme orang muda kami, sehingga meneruskan perannya bekerja sama dengan rekan-rekan muda lain membangun persaudaraan secara bijaksana. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s