Kita Dipanggil untuk Menjadi Berkat

Renungan Harian Misioner
Rabu Pekan Biasa XXVIII, 16 Oktober 2019
Peringatan St. Hedwig, S.Margaretha Maria Alacoque, St. Gerardus Mayella
Rm 2:1-11; Mzm. 62:2-3.6-7.9; Luk 11: 42-46

Pengalaman kita menunjukkan bahwa kita tidak suka pada orang yang sombong, tinggi hati, munafik, gila hormat dan yang menyusahkan orang lain. Pada dasarnya, perasaan tidak suka terhadap orang-orang yang berkarakter seperti itu muncul secara spontan. Sebaliknya, kita akan menyukai orang yang bersikap jujur, rendah hati, adil dan penuh kasih dalam relasinya dengan kita atau dengan orang lain.

Bacaan Injil hari ini (Luk. 11:42-46) berisi kecaman Yesus terhadap orang Farisi dan ahli Taurat. Apa yang mendasari kecaman Yesus terhadap orang Farisi dan ahli Taurat? Pertama, orang-orang Farisi mengabaikan keadilan terhadap sesama dan kasih kepada Allah (Luk. 11:42). Kedua, orang-orang Farisi “gila” hormat. Mereka suka duduk di tempat terdepan dalam rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar (Luk. 11:43). Ketiga, orang-orang Farisi bersikap munafik. Yesus mengibaratkan kemunafikan orang-orang Farisi dengan kubur yang tidak memakai tanda (Luk. 11:44). Bagaikan kubur yang bagian luarnya bersih, rapi dan tampak indah, tetapi bagian dalamnya ada mayat busuk, penuh kotoran, tulang-belulang dan segala hal yang menjijikkan.

Sikap dan perilaku orang-orang Farisi yang demikian tidak mencerminkan hukum kasih dan tidak sesuai dengan kehendak Allah. Allah menghendaki agar manusia bersikap adil terhadap sesama dan kasih kepada Allah. Apabila manusia bersikap dan bertindak tidak sesuai dengan hukum kasih, manusia akan celaka. Manusia yang celaka adalah manusia yang selalu mendapat kesulitan, kemalangan, kesusahan dalam hidupnya. Manusia yang sombong, tinggi hati, “gila” hormat dan munafik, tidak hanya akan mencelakakan dirinya sendiri, tetapi juga mencelakakan orang lain. Fakta memperlihatkan bahwa banyak orang yang mengalami kesulitan, kemalangan dan penderitaan disebabkan oleh orang-orang-orang yang “gila” hormat dan munafik.

Apa makna kecaman Yesus terhadap orang-orang Farisi bagi kita? Pertama, kecaman Yesus terhadap sikap dan perilaku orang-orang Farisi memperlihatkan bahwa apa yang menjadi sikap dasar dan perilaku hidup orang-orang Farisi tidak benar dan sama sekali tidak sesuai dengan hukum kasih. Sikap sombong, “gila” hormat dan munafik ada juga dalam diri kita. Kesadaran akan kesalahan dan kerapuhan kita sebagai pribadi yang terkadang sombong, gila hormat dan munafik menjadi dasar bagi pertobatan sehingga sikap dan perilaku tidak lagi menjadi beban bagi sesama, tidak lagi menyusahkan dan menyengsarakan orang-orang yang hidup bersama kita. Kedua, kita diperingatkan dengan keras oleh Yesus untuk berlaku adil kepada sesama dan kasih kepada Allah. Berlaku adil kepada sesama dan kasih kepada Allah merupakan dua sikap yang tak terpisahkan. Apabila kita sungguh mengasihi Allah, kita pun akan menjadi pribadi yang bersikap adil, jujur dan rendah hati. Sikap jujur, adil dan rendah hati yang mewarnai seluruh hidup kita akan menjadikan kita berkat bagi sesama. Sebaliknya, jika kita menjauh dari Allah, kita akan lebih mendekat dengan kuasa kejahatan yang selalu membujuk kita untuk bersikap sombong, gila hormat dan munafik sehingga kita pun akan menjadi sumber “celaka” bagi siapa saja yang hidup bersama dengan kita. Jika hidup kita hanya menjadi sumber “celaka” yang merugikan dan menyusahkan orang lain, maka kita sebenarnya sedang menjalani sebuah kehidupan yang kita tidak sesuai dengan panggilan kita. Kita tidak dipanggil untuk menjadi sumber “celaka” yang menyusahkan sesama, tetapi kita dipanggil untuk menjadi berkat bagi sesama.

Hari ini, kita memperingati pesta St. Gerardus Mayella, seorang bruder dari Kongregasi Redemptoris. Bruder Gerardus adalah pribadi yang rendah hati dalam pelayanan. Di dalam biara, Gerardus ditugaskan menjadi penjaga pintu, koster, perawat rekan-rekannya yang sakit dan menjahit pakaian bagi semua penghuni biara. Kedekatannya dengan Tuhan membuat Gerardus memperoleh karunia adikodrati sehingga ia dapat menyembuhkan orang sakit secara ajaib, pandai meramal, dapat berada sekaligus di dua tempat pada saat yang sama (bilokasi), membaca pikiran dan hati nurani seseorang, serta dapat berkomunikasi dengan bintang-bintang. Hari dan jam kematiannya pun diketahui dengan pasti jauh sebelum peristiwa kematiannya. Gerardus meninggal dunia pada tanggal 16 Oktober 1755 di biara Caposele, Italia. Pada tanggal 29 Januari 1893, ia dinyatakan sebagai “beato” oleh Sri Paus Leo XIII dan dinyatakan “santo” oleh Paus Pius X pada tanggal 11 Desember 1904. Semoga berkat doa Santo Gerardus, kita menjadi pribadi yang jujur, adil, rendah hati di hadapan sesama dan Allah sehingga hidup kita menjadi berkat bagi orang lain.

(RP. Silvester Nusa, CSsR – Dosen STKIP Weetebula, NTT)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Musim panen karya misi di Gereja: Semoga napas Roh Kudus menyemaikan dan menyuburkan Gereja dengan berseminya usaha dan karya-karya misi yang baru. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Gereja di Pedesaan: Semoga seiring dengan makin sedikitnya anak muda yang mau tinggal di pedesaan, Gereja setempat menemukan program-program yang dapat mengarahkan anak muda untuk mencintai dan memajukan desanya sendiri. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami mendukung nasionalisme orang muda kami, sehingga meneruskan perannya bekerja sama dengan rekan-rekan muda lain membangun persaudaraan secara bijaksana. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s