Iman Lebih Utama dari Harta

Renungan Harian Misioner
Senin Pekan Biasa XXIX, 21 Oktober 2019
Peringatan S. Hilarion dr Gaza, S. Ursula dkk
Rm. 4:20-25; MT Luk. 1:69-70,71-72,73-75; Luk. 12: 13- 21

Apa yang paling membuat manusia sibuk pada masa kini adalah kerja. Bukan kerja sosial untuk kebaikan orang-orang lain, tetapi kerja untuk menghasilkan banyak harta dan uang. Harta dan uang menjadi utama dan yang lain ditundukkan pada keduanya. Tuhan juga ditundukkan. Koq, bisa? Ya. Tentu saja. Doa pokok dari orang-orang yang ingin menjadi kaya (memiliki banyak harta dan uang) adalah untuk kepentingannya: supaya sehat dan bisa terus bekerja; supaya usaha berhasil; dijauhkan dari kesulitan; supaya menang tender; supaya Tuhan melimpahkan kekayaan berlimpah. Doa seperti itu berkutat pada kepentingan pribadi. Lantas Tuhan dijadikan “pembantu” agar keinginannya dapat tercapai. Kalau tidak dikabulkan maka Tuhan dianggap “pelit” dan tidak peduli. Jika terus-menerus tidak dikabulkan, apalagi usaha terus merosot, maka Tuhan bisa didepak dari kehidupan.

Mengapa demikian? Karena manusia sering berpikir bahwa hasil jerih payahnyalah jaminan utama kehidupannya, baik di masa kini maupun di masa depan. Jika kekayaan dan uang mencukupi maka manusia merasa kehidupannya terjamin. Jika ada kekayaan dan harta maka manusia berpikir ia terhindar dari kesulitan dan penderitaan. Telaah psikologis menyingkapkan bahwa hasrat menumpuk harta adalah manifestasi dari ketakutan akan kematian. Dengan adanya harta maka harapan usia lanjut dapat terwujud, sekurang-kurangnya secara lahiriah, karena ada jaminan hidupan. Kalau bisa kekayaan dan uang dihemat. Jika memberi sedekah maka perhitungnya adalah agar Tuhan yang membalas dengan memberi lebih banyak. Apalagi jika memberi kepada lembaga-lembaga atau pemimpin-pemimpin agama. Pemberian itu menjadi jaminan berkat dan rahmat dalam wujud berhasilnya usaha dan bertambahnya kekayaan.

Bacaan-bacaan hari ini mengoreksi keyakinan palsu seperti itu. Harta bukanlah jaminan pokok dalam hidup. Harta hanya memberikan jaminan palsu, bukan jaminan sejati. Cerita Yesus dalam Injil menggambarkan perilaku manusia pada umumnya, yakni mengandalkan harta sebagai jaminan sukacita dan keamanan hidup. Yesus mengritik rasa aman palsu pada harta milik, karena harta bukanlah jaminan hidup yang sesungguhnya. Usaha-usaha keras untuk menjadi kaya dan memiliki banyak harta sama sekali tidak memberikan jaminan pada hidup dan bukan ukuran mutu hidup sebagai orang beriman.

Harta adalah sarana atau sekedar benda yang dibutuhkan dalam hidup, tetapi bukan menentukan dan menjamin sukacita dan keselamatan manusia. Yesus mengecam manusia yang mengandalkan jaminan palsu pada harta, dengan kata-kata keras: “Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil darimu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?” Menumpuk harta dan uang serta menjadikannya jaminan hidup utama adalah kebodohan. Lantas, apa yang paling utama?

Yesus menjawab yang paling utama adalah “menjadi kaya di hadapan Allah”. Kaya kebajikan dan keutamaan; kaya kasih dan keadilan; kaya pengampunan dan belas kasih. Memiliki semua keutamaan itu berarti hidup menyerupai dan hidup setia pada Allah serta kehendak-Nya. Itulah yang paling bernilai. Paulus kepada umat Kristen di Roma berbicara tentang keutamaan iman. Itulah yang diperhitungkan di hadapan Tuhan. Bukan harta tetapi iman. Iman berarti berserah diri, mengandalkan Allah saja, karena di luar itu tak ada jaminan sejati bagi hidup manusia. Amin.

(Sdr. Peter C. Aman, OFM – Ketua Komisi JPIC OFM Indonesia)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Musim panen karya misi di Gereja: Semoga napas Roh Kudus menyemaikan dan menyuburkan Gereja dengan berseminya usaha dan karya-karya misi yang baru. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Gereja di Pedesaan: Semoga seiring dengan makin sedikitnya anak muda yang mau tinggal di pedesaan, Gereja setempat menemukan program-program yang dapat mengarahkan anak muda untuk mencintai dan memajukan desanya sendiri. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami mendukung nasionalisme orang muda kami, sehingga meneruskan perannya bekerja sama dengan rekan-rekan muda lain membangun persaudaraan secara bijaksana. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s