Menjadi Anggota Keluarga Allah

Renungan Harian Misioner
Senin Pekan Biasa XXX, 28 Oktober 2019
Peringatan S. Simon dan Yudas
Rm. 4:20-25; MT Luk. 1:69-70,71-72,73-75; Luk. 12: 13- 21

Menjadi percaya berarti berelasi dengan Yesus Kristus. Karenanya orang-orang beriman selalu hidup dalam kebersamaan, dalam komunitas. Mereka membentuk satu kesatuan, menjadi komunitas orang percaya atau Gereja. Bersatu dengan Kristus sesungguhnya memilki makna lebih dalam, dari sekedar suatu “kebersamaan”. Mengapa? Bersatu dengan Yesus berarti mengambil bagian dalam diri-Nya, sebagai Putera Allah. Mereka yang percaya menjadi “anak-anak Allah”. Mereka menjadi saudara dan saudari satu sama lain. Mereka menjadi satu warga, satu keluarga dan hanya satu Bapa, Bapa di surga.

Atas dasar itulah mengapa Santo Paulus menyampaikan kepada orang beriman di Efesus bahwa mereka bukan “orang asing” atau pendatang”, tetapi satu warga, satu keluarga. Dasar kesatuan itu adalah Yesus Kristus yang disebut sebagai “batu penjuru”. Komunitas orang percaya dibangun di atas batu penjuru, Yesus Kristus. Komunitas itu memiliki kualitas tertentu, yakni “rapi tersusun dan menjadi Bait Allah yang kudus”. Komunitas umat beriman adalah rumah tangga yang “kokoh, kuat dan rapi”, “bait Allah”, tempat Allah hadir. Suatu komunitas yang berada dalam dan bersama Allah, berkat Yesus Kristus baru penjuru. Mereka bersaudara, dalam rumah kediaman yang sama. Itulah bait Allah.

Menjadi percaya berarti membentuk komunitas. Kristuslah “batu penjuru” atau dasar pemersatu. Dengan menjadi bait Allah, komunitas beriman merupakan suatu kesaksian, kehadiran Allah. Di mana Allah hadir di situ ada kasih-setia, kerukunan dan damai sejahtera. Komunitas umat beriman adalah satu keluarga. Allah hadir sebagai pusatnya. Komunitas itu adalah komunitas kudus, suci dan tak bercela. Komunitas kasih, rukun-damai, dan sejahtera. Komunitas yang memberi keskaksian kehadiran Allah.

Tentu kita patut bertanya, betulkah komunitas itu saat ini sungguh merupakan satu keluarga? Apakah ada kesaksian kasih, rukun-damai dan sejahtera? Sungguhkah menjadi bait Allah, tempat Allah hadir sebagai pusat kehidupan? Jika jujur, maka kita mesti mengakui bahwa semua yang baik dan indah itu “jauh panggang dari api”. Ada banyak konflik, salah paham, tidak saling peduli. Kepentingan diri-pribadi merusak kerukunan dan damai sejahtera. Komunitas yang secara formal bersatu dengan Yesus, sebagai satu keluarga, tetapi dalam kenyataan belum menjadi “bait Allah”, tempat Allah hadir.

Sebagai murid kita belum sempurna dan benar. Kita mesti terus belajar mengikuti Yesus seperti para murid. Kita juga dipanggil untuk setia mengikuti Yesus serta memahami makna serta risiko mengikuti Dia.

Simon dan Yudas adalah dua rasul yang dipestakan hari ini. Keduanya dapat menjadi model bagi kita. Para rasul adalah teladan dalam hal mengikuti Yesus. Mereka mengikuti Yesus dalam kekurangan dan kelemahan manusiawi mereka, tetapi terus terbuka untui disempurnakan oleh Yesus. Kesadaran akan kelemahan manusiawi membantu kita menyadari kehadiran Allah. Biarkan Allah mengarahkan dan mengendalikan kehidupan kita. Dalam kesadaraan akan kehadiran Allah itulah dibantu untuk sadar bahwa kekuatan utama kita adalah Allah sendiri. Dalam Kristus Yesus, kita dipersatukan sebagai satu keluarga. Tak ada alasan untuk tidak setia karena Allah bersama kita. Menjadi bait Allah adalah suatu kesaksian, sehingga yang lain menikmati betapa manisnya Tuhan. Mari berjuang membenahi dan merehab komunitas kita, menjadi keluarga Allah, agar kasih dan kerahiman Allah semain dirasakan oleh banyak orang.

(Sdr. Peter C. Aman, OFM – Ketua Komisi JPIC OFM Indonesia)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Musim panen karya misi di Gereja: Semoga napas Roh Kudus menyemaikan dan menyuburkan Gereja dengan berseminya usaha dan karya-karya misi yang baru. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Gereja di Pedesaan: Semoga seiring dengan makin sedikitnya anak muda yang mau tinggal di pedesaan, Gereja setempat menemukan program-program yang dapat mengarahkan anak muda untuk mencintai dan memajukan desanya sendiri. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami mendukung nasionalisme orang muda kami, sehingga meneruskan perannya bekerja sama dengan rekan-rekan muda lain membangun persaudaraan secara bijaksana. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s