Renungan Harian Misioner
Rabu Pekan Biasa XXX, 30 Oktober 2019
Peringatan S. Marcellus
Rm. 8:26-30; Mzm. 13:4-5,6; Luk. 13:22-30
“Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” tanya orang-orang kepada Yesus seperti dikisahkan dalam Injil hari ini. Perkara keselamatan (abadi) tidak pernah habis dimakan zaman. Selalu aktual dari waktu ke waktu. Perkara keselamatan itu pula yang membuat orang menganut suatu agama, dan tentu saja agama Kristiani. Semua orang ingin selamat baik di bumi maupun di akhirat. Banyak hal diupayakan supaya selamat entah selama hidup di dunia ini maupun sesudah mati.
Dalam iman Kristiani, keselamatan itu bagai dua sisi dalam satu keping mata uang. Ambil misalnya satu koin uang Rp. 500,- Satu sisi menampilkan angka 500, dan sisi yang lain ada gambar Garuda Pancasila dengan keterangan Bank Indonesia. Kalau yang satu sisi itu, dihilangkan. Misalnya, angka 500 digosok sampai halus dan hilang, tidak ada lagi angka 500, tentu mata uang itu tidak akan laku untuk transaksi jual-beli karena orang tidak akan tahu nilai mata uang itu berapa. Sebaliknya, kalau gambar Garuda Pancasila dengan keterangan Bank Indonesia, digosok sampai bersih hilang gambar dan keterangannya, tentu juga tidak laku karena orang tidak akan tahu itu mana uang apa atau negara mana.
Begitu juga dengan keselamatan, adalah karya Allah dan tanggapan manusia. Di satu sisi, keselamatan itu 100% karya Allah. Di sisi lain, keselamatan itu 100% tanggapan manusia terhadap karya Allah yang mendahuluinya. Keselamatan adalah karya Allah yang dikerjakan dan dipenuhi oleh Yesus Kristus. Melalui Yesus Kristus, keselamatan dianugerahkan kepada kita, manusia. Yesus Kristus adalah jalan keselamatan. Dialah kebenaran dan kehidupan. Tuhan Yesus Kristus adalah keselamatan kita. Di dalam Yesus, kita tidak meragukan lagi akan keselamatan. Seperti telah dikatakan Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma, “Sebab semua orang yang dipilih Allah sejak semula, mereka itu juga ditentukan sejak semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Anak-Nya itu menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan, mereka yang ditentukan Allah dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan, yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan, yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.”
Allah berbelaskasih dan mengerjakan keselamatan seutuhnya, tetapi Allah tidak bisa berbuat apa-apa kalau kita, manusia, menolak-Nya. Allah berupaya maksimal demi keselamatan manusia, tetapi tanpa daya kalau manusia terus menjauhi-Nya, tidak menanggapi-Nya, dan berkeras menolak-Nya. Allah menganugerahkan keselamatan, sekaligus memberikan kebebasan penuh untuk menanggapi tawaran itu. Oleh karena itu, dalam kebebasannya manusia harus menanggapi-Nya dengan utuh-penuh pula. Tuhan Yesus bersabda, “Berusahalah masuk melalui pintu yang sempit itu!” Kebebasan yang diberikan Allah kerapkali justru ditangkap berbeda oleh manusia. Manusia menggunakan kebebasan seenaknya sendiri sehinga justru membuatnya menjadi pintu yang sempit. Maka, marilah kita menggunakan kebebasan untuk menanggapi anugerah keselamatan Allah dengan melayani Tuhan dan sesama. Tidak cukup hanya merasa dan menganggap diri, “Kami telah makan dan minum di hadapan-Mu, dan (mendengar) Engkau telah mengajar di jalan-jalan kota kami.” Keselamatan dijumpai dengan tindakan melayani, berbelaskasih, dan bekerja bersama Allah yang mendatangkan kebaikan bagi sesama.*** (NW)
(RD. M. Nur Widipranoto – Direktur Nasional Karya Kepausan Indonesia)
DOA PERSEMBAHAN HARIAN
Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.
Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:
Ujud Evangelisasi:
Musim panen karya misi di Gereja: Semoga napas Roh Kudus menyemaikan dan menyuburkan Gereja dengan berseminya usaha dan karya-karya misi yang baru. Kami mohon…
Ujud Gereja Indonesia:
Gereja di Pedesaan: Semoga seiring dengan makin sedikitnya anak muda yang mau tinggal di pedesaan, Gereja setempat menemukan program-program yang dapat mengarahkan anak muda untuk mencintai dan memajukan desanya sendiri. Kami mohon…
Ujud Khusus:
Semoga umat di Keuskupan kami mendukung nasionalisme orang muda kami, sehingga meneruskan perannya bekerja sama dengan rekan-rekan muda lain membangun persaudaraan secara bijaksana. Kami mohon…
Amin
