Jangan Memberi untuk Diberi!

Renungan Harian Misioner
Selasa Biasa XXXI, 05 November 2019
Peringatan S. Elisabeth dan S. Zakarias
Rm. 12:5-16a; Mzm. 131:1,2,3; Luk. 14:15-24

Manusia sering mengadakan jamuan, entah untuk peresmian sesuatu, atau perayaan hari-hari istimewa. Yang umum terjadi adalah, menyiapkan daftar undangan berisi nama orang-orang yang dikenal, terutama yang dulunya pernah juga mengundang. Ada sebuah kebiasaan tak tertulis bahwa wajib hukumnya mengundang kembali mereka yang pernah melakukan hal yang sama. Ini tata krama-sopan santun dalam relasi sosial. Berbalas, melakukan sesuatu untuk dan karena balasan.

Lukas mengisahkan mengenai perumpamaan yang Yesus buat. Kisah jamuan dengan undangan yang unik dan aneh. Awalnya biasa, seorang tuan mengadakan jamuan dan mengundang banyak orang. Orang-orang ini golongan undangan pada umumnya, yang sudah pasti terdaftar, yang dianggap pantas hadir sebagai undangan. Namun, satu persatu meminta maaf, tak dapat hadir dikarenakan kesibukan.

Apakah jamuan batal? Tidak. Si tuan menyuruh hambanya pergi, kali ini mengundang orang-orang yang tidak masuk dalam hitungan: orang-orang miskin dan cacat, orang-orang buta dan lumpuh. Mereka yang tersingkir dalam masyarakat, yang tidak punya status dan tempat. Kali ini, mereka diberi tempat, menjadi tamu pesta. Diharapkan dalam perayaan.

“Tuan, apa yang tuan perintahkan itu sudah dilaksanakan. Sekalipun demikian, masih ada tempat.” Itu up-date terakhir dari hamba kepada sang tuan. Pesta harus dimulai, jamuan telah siap, tidak ada yang boleh terbuang percuma. Sang tuan kembali bertitah, “Pergilah ke semua jalan dan persimpangan dan paksalah orang-orang yang ada di situ, masuk, karena rumahku harus penuh.” Itu berarti semua orang, tanpa terkecuali, yang ditemukan di jalan-jalan dan persimpangan. Siapa mereka? Entah. Mungkin pengemis yang mangkal, mungkin gelandangan yang tak punya rumah, atau mungkin saja orang asing yang kebetulan lewat. Jalan-jalan dan persimpangan menandakan tempat ‘bebas’ di mana siapa saja bisa berada, sekaligus mengisyaratkan tempat yang ‘liar’ – inklusif, di mana status dan derajat tidak bernilai. Tidak ada syarat dan kondisi tertentu.

Jamuan ini disediakan bagi semua orang. Mungkin kita merasa ‘lebih pantas’ dan pasti mendapatkan undangan. Terutama dikarenakan ‘status’ ataupun mental ‘do ut des’ – saya memberi supaya engkau juga memberi; namun dalam kisah ini, prinsip manusia dimentahkan. Semua diundang. Yang merasa pantas pun telah diundang, namun menolak undangan. Lalu kloter berikutnya adalah para undangan istimewa, yang tak mampu menggenapi hukum balas-membalas. Dan yang terakhir adalah ‘orang-orang di jalan-jalan dan persimpangan’ dengan mandat khusus “paksalah orang-orang yang ada di situ, masuk…” Mengapa dipaksa? Apakah ini bentuk emosi sang tuan mengejar keberhasilan jamuan? Sama sekali bukan. Mereka harus ‘dipaksa’ karena mereka ini golongan khusus yang tidak mudah diundang, yang harus ‘dibawa-dituntun’ (dipaksa) masuk ke pesta. Orang-orang ini tahu diri, tidak merasa ‘layak’ atau pantas untuk ada dalam jamuan mewah sang tuan terhormat.

Perjamuan yang dikisahkan adalah simbol Kerajaan Allah. Sang Tuan pemilik jamuan adalah Allah sendiri. Undangan adalah seluruh umat. Pintu perjamuan terbuka lebar, undangan disebar kepada semua. Kerajaan Allah pun demikian. Perumpamaan Yesus mengajarkan untuk membuka pintu hati dan hidup bagi semua, tanpa pengecualian. Tanggalkan mentalitas ‘do ut des’!

(Angel – Karya Kepausan Indonesia)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Dialog dan Rekonsiliasi di Timur Tengah: Semoga semangat berdialog, bekerjasama dan rekonsiliasi tumbuh di wilayah Timur Tengah, di mana beragam komunitas agama dapat saling membagikan hidup dalam kebersamaan mereka. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Doa para lansia: Semoga para lansia tetap mampu memaknai hidupnya dan menjadi teladan karena mau berdoa dan terus belajar berdoa bagi kebutuhan Gereja dan Masyarakat. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami semakin menghayati Kristus sebagai Raja mereka serta mengikuti jejak-Nya bertindak bijaksana dalam mewartakan Kabar Gembira dan mewujudkan Kerajaan Allah. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s