Menjadi Martir Setiap Hari

Paus di Jepang: Para saksi martir Katolik menguatkan kita dalam iman
Mengunjungi Monumen Para Martir di Nagasaki, Paus Fransiskus menggambarkan para martir Jepang sebagai kenangan yang hidup, yang memacu evangelisasi baru di Jepang.

Dalam kata-kata sambutannya di Monumen Martir di Nagasaki, Paus Fransiskus mengatakan kepada para hadirin bahwa ia datang sebagai peziarah untuk berdoa, sekaligus untuk meneguhkan umat Katolik di Jepang dalam iman.

Merenungkan foto dan nama-nama yang tertulis di monumen ini, termasuk Santo Paul Miki, Paus mencatat bahwa tempat suci ini berbicara bukan hanya mengenai kematian.

“Tempat ini juga berbicara tentang kemenangan kehidupan atas kematian.

Mengingat pendahulunya, Santo Yohanes Paulus II, Paus mengatakan bahwa ia melihat tempat ini, “bukan hanya sebagai gunung para martir, tetapi sebuah Gunung sejati Sabda Bahagia.”

Terang Injil menang di atas penganiayaan
Di sini, Paus Fransiskus menggarisbawahi, bahwa “terang Injil bersinar dalam cinta yang menang atas penganiayaan dan pedang.”

“Tempat suci ini, terlebih merupakan monumen untuk Paskah, yang menyatakan bahwa kata terakhir – meskipun semua bukti menunjukkan sebaliknya – adalah milik kehidupan, bukan kematian.”

Para martir sebagai saksi
Para martir menjadi saksi, “menguatkan kita dalam iman dan membantu kita untuk membarui dedikasi dan komitmen kita untuk pemuridan misioner yang berusaha untuk menciptakan budaya yang mampu melindungi dan membela semua kehidupan melalui ‘kemartiran’ harian dari pelayanan diam-diam terhadap semua orang, terutama kepada mereka yang sangat membutuhkan.”

Kunjungan yang sederhana
Paus Fransiskus mengatakan ia datang mengunjungi monumen para martir untuk memberi penghormatan kepada para orang suci.

“Saya juga datang dengan kerendahan hati, sebagai salah seorang, seperti halnya seorang Jesuit muda datang dari ‘ujung bumi, yang telah menemukan inspirasi yang kuat di dalam kisah para misionaris awal dan para martir Jepang.”

Martir: bukan sebuah peninggalan mulia, melainkan sebuah kenangan yang hidup
Paus mengungkapkan harapannya bahwa pengorbanan para martir ini tidak hanya menjadi “peninggalan indah dari masa lalu… melainkan menjadi sebuah kenangan yang hidup, sebuah inspirasi bagi karya-karya kerasulan dan memacu evangelisasi baru di negeri ini.”

Paus mengakhiri sambutannya dengan mengatakan “di tempat ini kita bersatu dengan orang-orang Kristiani di seluruh dunia yang, di zaman kita sendiri, mengalami penderitaan kemartiran karena iman.”

Para martir modern abad ke-21 yang menjadi saksi ini “memanggil kita untuk berangkat dengan keberanian di jalan Sabda Bahagia.”

24 November 2019
Oleh: Lydia O’Kane
Sumber: Vatican News

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s