Salib: Derita dan Keselamatan

Renungan Harian Misioner
Kamis Biasa XXXIV, 28 November 2019
Peringatan S. Katarina Laboure
Dan. 6:12-28; MT Dan. 3:68,69,70,71,72,73,74; Luk. 21:20-28

Kisah Daniel dan singa sangatlah terkenal. Mari kita cermati. Menarik untuk memperhatikan, bagaimana massa mayoritas membenci Daud; namun sebenarnya pemimpin negara bersimpati kepada Daniel. Dalam seluruh peristiwa itu, Daniel mengandalkan pegangan hidupnya, yakni “mau beriman dan tidak mau memanfaatkan simpati dari pemimpin negara: sebab imanlah saja yang akan membawa buah tertinggi bagi hidupnya”.

Sangat sering, dari abad ke abad terjadi, bahwa para murid Kristus, ditantang untuk menjadi saksi Kristus. Untuk itu risikonya amat banyak; bahkan sampai mendapat bahaya dibunuh. Bahkan di abad 20 dan 21, murid Kristus banyak dihadapkan dengan pilihan: “Untuk Yesus dan mati; ataukah menyangkal Yesus”. Para saksi iman telah memilih untuk berpegang teguh pada iman. Pedomannya: Beriman dan Setia. Dengan cara itulah jutaan murid Kristus dalam Gereja Perdana, di masa Abad Pertengahan, dalam Abad modern mengikuti Guru dari Nasaret, Sang Sahabat, yang menunjukkan kesetiaan-Nya kepada Bapa dengan disalib. Salib, yang semula menjadi tanda kenistaan, bagi banyak murid Kristus lama kelamaan menjadi “tanda kesetiaan cinta kasih, kepada Sang Putera, yang tidak menyerah pada penderitaan dan penghinaan, karena tujuan akhir seluruhnya, adalah kemuliaan Allah Bapa”.

Kita dibaptis dengan tanda salib yang dicurahkan melalui air baptis, kita memperoleh Sakramen Krisma untuk menguatkan dengan tanda salib dalam minyak Krisma yang suci, kita menyambut Tubuh dan Darah Tuhan, yang dikaruniakan untuk mengenangkan penyaliban berupa penyerahan diri Tuhan, kita membuat tanda salib dengan air suci di rumah atau sebelum dan sesudah berkunjung pada Sakramen Mahakudus di Gereja-Gereja kita, kita menandai diri kita dengan salib sebelum bertanding atau sebelum memulai perjalanan maupun sesudah menyelesaikan perjalanan dengan selamat. Bersama Daniel, kita menghadapi derita dan tanda penderitaan dengan tabah demi kemuliaan Tuhan dan sebagai Tanda Cinta. Demi Kemuliaan Allah.

Kisah Lukas mengandung dua sayap, yang sama berharganya, yakni bayangan penderitaan besar dan pada waktu yang sama nubuat mengenai penyelamatan. Ukuran manusiawi akan memusatkan perhatian pada sengsara dan duka nestapa, yang menimpa pribadi, masyarakat dan negara. Sebab, bagi si manusia, ya kita-kita ini, hasrat untuk hidup enak dan nyaman – betapa pun sebentar, sangatlah memikat. Oleh sebab itu, banyak kali kita tergoda – dan mengikuti godaan untuk mencari kenikmatan kecil-kecil atau yang jasmaniah. Juga dalam membaca Alkitab – termasuk perikop hari ini – kita membayangkan dukacita dan sengsara yang menakutkan sekali. Tidak jarang kita lupakan bahwa pada akhir perikop ini dikatakan “bangkitlah… sebab penyelamatanmu sudah tiba”. Sabda Tuhan itu merupakan akhir dari kisah, yang diceritakan. Oleh sebab itu, pantaslah kita mencermati pelbagai ungkapan alkitabiah secara menyeluruh dan tidak berhenti-hentinya mencari makna sebenarnya: “Tuhan mau mengatakan apa?” Perikop yang disajikan pada hari ini bermuara pada “… Penyelamatanmu sudah dekat…”

Marilah pada hari ini, kita memohon Roh Penguatan, agar menganugerahkan Keteguhan hati, menyambut janji Penyelamatan Allah, Sang Penyelamat; pun kalau ziarah-Nya panjang dan mungkin mengandung kerikil dan duka derita. Sebab, Tuhan Kita, Sahabat Kita, Yesus Kristus, telah mengalami semuanya dan mengakhirinya dengan Kebangkitan dan Naik ke Surga untuk duduk di sisi Kanan Allah Bapa yang Tercinta.

(RP. B.S. Mardiatmadja, SJ – Dosen STF Driyarkara)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Dialog dan Rekonsiliasi di Timur Tengah: Semoga semangat berdialog, bekerjasama dan rekonsiliasi tumbuh di wilayah Timur Tengah, di mana beragam komunitas agama dapat saling membagikan hidup dalam kebersamaan mereka. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Doa para lansia: Semoga para lansia tetap mampu memaknai hidupnya dan menjadi teladan karena mau berdoa dan terus belajar berdoa bagi kebutuhan Gereja dan Masyarakat. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami semakin menghayati Kristus sebagai Raja mereka serta mengikuti jejak-Nya bertindak bijaksana dalam mewartakan Kabar Gembira dan mewujudkan Kerajaan Allah. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s