Bersiaga Menanti Tuhan dalam Iman

Renungan Harian Misioner
Minggu Adven I, 1 Desember 2019
Yes. 2:1-5; Mzm. 122:1-2,4-5,6-7,8-9; Rm. 13:11-14a; Mat. 24:37-44

Setiap tahun (A, B dan C), bacaan Injil Minggu Adven pertama selalu bernada apokaliptik: berkaitan dengan kedatangan Tuhan kelak (parusia). Dengan demikian, Gereja mengaitkan kedatangan Yesus yang pertama (yang kita rayakan di Hari Natal) dengan kedatangan-Nya yang kedua. Masa lampau dan masa depan bersatu dalam iman akan Dia, sang Alfa dan Omega. Pengenangan dan pengharapan melebur dalam iman kita bersama. Persiapan kita menyambut kelahiran Tuhan di hari Natal pun mendapat makna yang lebih dalam. Bukan saja rutinitas tahunan menjelang 25 Desember, tetapi menyentuh keyakinan yang terdalam: Tuhan pasti datang setiap saat, meski kita tidak tahu kapan!

Dengan bantuan 3 ilustrasi, Matius berbicara tentang Yesus, kedatangan-Nya dan persiapan yang harus dilakukan para murid-Nya. Dalam istilah teologis, teks ini berbicara tentang: kristologi, eskatologi dan eklesiologi. Pertama-tama, teks ini berbicara tentang Yesus sebagai Anak Manusia yang akan datang untuk mengadili manusia. Ilustrasi dari zaman Nuh dipakai (ay. 37-39), tetapi tekanannya tidak terutama pada kebobrokan manusia (seperti dalam cerita aslinya: Kej. 6-7 atau 2Pet. 2:5), melainkan pada segi pengadilan Allah yang tidak terduga. Manusia menjalani irama hidup yang biasa dan normal: makan-minum dan kawin-mengawinkan. Pengadilan Allah yang tak terduga justru terjadi dalam sejarah dan irama hidup manusia yang biasa dan normal. Begitu juga dengan saat kedatangan Anak Manusia. Ia akan datang pada saat yang tak terduga, di tengah kehidupan dan sejarah yang tengah berjalan biasa dan normal.

Kedua, pengadilan akhir itu sepenuhnya bergantung keputusan sang Anak Manusia. Manusia beriman tentu terlibat dan menjalankan hidup yang sama dengan manusia lainnya di dunia ini. Secara kasat mata, semuanya kelihatan sama-saja, seperti dua pria yang sama-sama bekerja di ladang ataupun dua perempuan yang bekerja dalam rumah. Seorang diambil, yang lain ditinggalkan. Tuhan tahu siapa yang dipilih-Nya untuk diselamatkan. Dia yang mengetahui hati, niat dan budi pasti tahu memilah dan memisahkan pengikut-Nya yang sejati dari mereka yang munafik dan sekedar display.

Ketiga, kedatangan Tuhan yang tak terduga membuat jemaat-Nya harus selalu siaga dan berjaga. Hidup beriman adalah hidup yang berpengharapan. Pengharapan Kristiani itu bukanlah sikap pasif menanti, apalagi sambil sibuk menghitung hari dan meramal kiamat. Pengharapan Kristiani adalah hidup yang senantiasa berstatus siaga-satu! Tentu bukan karena cemas dan takut, melainkan karena yakin bahwa Tuhan pasti kembali untuk membenarkan umat yang dikasihi-Nya. Matius baru akan memberi isi konkret hidup yang berpengharapan itu dalam perumpamaan yang menyusul, misalnya dengan: melayani kebutuhan sesama (24:45; 25:40). Dalam perikop ini, pesan Matius umum saja: jangan hidup apatis dan lengah, seperti tuan rumah yang tidak siap dan tidak awas, sehingga rumahnya mudah dibobol penjahat (ay. 43). Jalani hidup hari ini sebaik dan semaksimal mungkin, seakan-akan hari ini adalah harimu yang terakhir. Itulah tanda-nyata Anda dan Saya siap menyambut-Nya!

(Hortensio Mandaru – Lembaga Alkitab Indonesia Jakarta)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Masa depan kaum muda: Semoga setiap negara berketetapan hati dalam menentukan dan mengambil langkah yang diperlukan untuk mendahulukan dan menjaminkan masa depan kaum mudanya, terutama mereka yang menderita dan putus harapan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Kesetiaan Pasutri: Semoga kesetiaan janji perkawinan pasutri tidak luntur karena perkara-perkara sepele dalam hidup harian yang justru sering memicu perselisihan dalam keluarga. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami menyambut hikmat Roh Kudus untuk mengambil peran penting dalam membangun kebijakan damai dan ketekunan dalam keluarga di tempat tinggal maupun di tempat pengabdian mereka. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s