Belajar dari Model Beriman Perwira

Renungan Harian Misioner
Senin Adven I, 2 Desember 2019
Peringatan S. Bibiana
Yes. 2:1-5 atau Yes. 4:2-6; Mzm. 122:1- 2,3-4a,(4b-5,6-7,) 8-9; Mat. 8:5-11

“Sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Kujumpai pada seorang pun di antara orang Israel” (Mat. 8:10). Orang yang mendengar kata-kata pujian Yesus terhadap iman perwira dalam bacaan hari ini, mungkin ada yang merasa heran dan bertanya-tanya. Apakah perwira itu adalah orang Yahudi? Bukan, perwira tersebut kemungkinan adalah orang Roma. Apakah, perwira itu sering berjalan bersama Yesus, mendengarkan ajaran-Nya dan menyaksikan perbuatan-perbuatan ajaib-Nya? Tidak, dia mungkin baru pertama kali bertemu dengan Yesus untuk memohon penyembuhan bagi hambanya yang sakit lumpuh dan sangat menderita. Perkataan Yesus di atas memang ditujukan kepada orang-orang yang mengikuti-Nya, yang mungkin selalu berjalan bersama-Nya, yang setia mendengarkan ajaran-Nya, yang menyaksikan perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya, dan yang mungkin telah mengalami tindakan kasih-Nya. Secara kasat mata, mestinya orang-orang yang mengikuti Yesus itulah yang dipuji oleh Yesus. Sebaliknya, Yesus tak hanya memuji iman perwira, melainkan juga membandingkan kualitas iman perwira dengan kualitas iman orang-orang Israel, termasuk orang-orang yang mengikuti-Nya. Yesus menegaskan bahwa tak ada seorang pun di antara orang Israel yang kualitas imannya sama seperti iman sang perwira. Kita boleh berimajinasi bahwa orang-orang yang mendengar perkataan-Nya seperti itu pasti merasa kecewa dan kurang senang.

Lalu, apa sesungguhnya keistimewaan iman sang perwira menurut penilaian Yesus? Pertama, keyakinannya akan kuasa Yesus untuk menyembuhkan orang sakit dan melenyapkan segala penyakit. Sebagai seorang perwira, ia tentu punya relasi dengan tabib atau dukun yang hebat. Namun, ia justru datang kepada Yesus untuk menyampaikan persoalan dan keprihatinannya: “Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh, dan ia sangat menderita” (Mat. 8:6). Yesus menjadi satu-satunya orang yang diyakininya mau dan mampu menyembuhkan hambanya. Perwira itu tentu tahu siapa Yesus, apa yang diajarkan dan yang dilakukan Yesus. Informasi mengenai Yesus tidak hanya sekedar sebuah informasi tanpa makna, melainkan pengetahuan akan Yesus mengantar dia kepada iman akan Yesus. Kedua, kerendahan hatinya. Ketika Yesus mengatakan, “Aku akan datang menyembuhkannya” (Mat. 8:7), sang perwira membalas kepada Yesus, “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku” (Mat. 8:8). Perasaan tidak layak untuk menerima Yesus di rumahnya, bisa muncul karena alasan spiritual atau sosial. Alasan spiritualnya bahwa ia menyadari dirinya sebagai orang yang berdosa, sementara Yesus adalah seorang yang kudus. Alasan sosialnya bahwa Yesus adalah orang Yahudi, sementara ia sendiri bukan orang Yahudi. Menurut adat istiadat, orang Yahudi tidak boleh memasuki rumah orang yang bukan Yahudi. Sang perwira memperlihatkan karakternya sebagai pribadi yang rendah hati. Ketiga, keyakinannya akan kekuatan sabda (perkataan) Yesus. Penyembuhan yang dilakukan Yesus pada umumnya terjadi melalui perjumpaan dengan orang yang sakit maupun yang kerasukan roh jahat. Mestinya, sang perwira membiarkan Yesus datang ke rumahnya untuk menyembuhkan hambanya. Namun, ia amat yakin bahwa perkataan Yesus atau sabda Yesus adalah kata-kata yang penuh daya dan kekuatan, termasuk untuk menyembuhkan. Atas dasar keyakinan yang mendalam itu, ia berkata kepada Yesus, “Katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh” (Mat. 8:8).

Apa yang dapat kita pelajari dari sang perwira? Pertama, kita diajarkan dan belajar banyak hal tentang Yesus. Pengetahuan tentang Yesus yang diajarkan kepada kita oleh orang tua, guru agama, katekis, dan pembina iman mestinya membawa kita kepada iman yang mendalam akan Yesus. Apa saja yang pernah dilakukan Yesus kepada orang-orang pada zaman-Nya, akan Ia lakukan pula terhadap setiap dari kita yang hidup zaman ini. Kedua, kita belajar untuk menjadi rendah hati. Kerendahan hati dan kesadaran bahwa kita adalah manusia yang tidak layak untuk menerima kehadiran Tuhan dalam hidup kita, membuat kita mau memohon belaskasih-Nya, hal tersebut juga lahir dari iman yang kokoh dan kuat. Ketiga, kita belajar untuk percaya pada kekuatan sabda Yesus. Kita mesti yakin bahwa apa yang disabdakan Yesus akan terjadi atau terlaksana dalam hidup kita. “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku takkan berlalu” (Mat 24:35).

Semoga pengetahuan kita akan Yesus mengantar kepada iman akan Yesus sehingga kita menjadi orang-orang yang rendah hati dan senantiasa percaya akan kekuatan sabda Yesus yang, menguatkan, menyembuhkan dan menyelamatkan kita. Mari kita belajar dari model beriman sang perwira!

(RP. Silvester Nusa, CSsR – Dosen STKIP Weetebula, NTT)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Masa depan kaum muda: Semoga setiap negara berketetapan hati dalam menentukan dan mengambil langkah yang diperlukan untuk mendahulukan dan menjaminkan masa depan kaum mudanya, terutama mereka yang menderita dan putus harapan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Kesetiaan Pasutri: Semoga kesetiaan janji perkawinan pasutri tidak luntur karena perkara-perkara sepele dalam hidup harian yang justru sering memicu perselisihan dalam keluarga. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami menyambut hikmat Roh Kudus untuk mengambil peran penting dalam membangun kebijakan damai dan ketekunan dalam keluarga di tempat tinggal maupun di tempat pengabdian mereka. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s