Memenangkan Jiwa Bagi Kristus

Renungan Harian Misioner
Selasa Adven I, 3 Desember 2019
Pesta S. Fransiskus Xaverius
1Kor. 9:16- 19,22-23; Mzm. 117:1,2; Mrk. 16:15-20

Hari ini kita memperingati Santo Fransiskus Xaverius, seorang yang namanya tidak dapat dilepaskan dari sejarah kekatolikan di Indonesia, dan kita dapat meneladani cara-cara pewartaan Injil yang dilakukannya. Lahir dari keluarga bangsawan, tentunya hidupnya tidaklah berkekurangan, tetapi ketika St. Ignatius mengulangi kata-kata Yesus dalam Kitab Suci kepadanya: “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?” Xaverius memahami dengan jelas bahwa panggilan hidupnya bukanlah untuk bermegah di dunia ini melainkan untuk membaktikan dirinya dalam pemberitaan Injil. Didasari semangat bahwa hal itu adalah keharusan baginya, satu kerinduan yang muncul selama hidupnya hanyalah mempertobatkan orang kepada Yesus dan memperkenalkan Injil kepada mereka. Ia rela menjadi hamba bagi semua orang, supaya ia boleh memenangkan sebanyak mungkin orang kepada Yesus (bdk. 1 Kor. 9:16,19).

Tidak ada yang mampu menghambat desakan Kasih Kristus ini, bahkan di hadapan bahaya-bahaya, penganiayaan, penderitaan, cuaca buruk, penyakit fisik dan moral yang dihadapinya, ia semakin meningkatkan semangat dan ketekunan dalam karya pewartaan Injil. Tanda-tanda ini menyertainya: ia mengusir setan-setan demi nama Yesus, menghadapi bahaya yang berisiko datangnya maut pun ia tidak mendapat celaka; di banyak tempat ia meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu disembuhkan (bdk. Mrk. 16:17-18).

Xaverius sungguh-sungguh seorang misionaris sejati, seperti yang dikatakan oleh para Bapa Gereja: “Para misionaris merupakan orang-orang yang dikhususkan oleh Allah untuk melaksanakan karya misi dengan cakap berkat karunia-karunia serta bakat pembawaan.” Salah satu karunia yang dimiliki Xaverius adalah kemampuan untuk dapat menyesuaikan diri dengan berbagai bangsa dan watak bangsa yang berbeda-beda. Oleh karena itu, bukan persoalan yang berarti baginya untuk menjalani kehidupan misioner di negeri yang beraneka ragam dan di antara bangsa-bangsa yang lebih asing lagi baginya. Ia mampu membawa dirinya dengan baik, sehingga kehadirannya dapat diterima dengan baik (bdk. 1 Kor. 9:22).

Xaverius sadar bahwa “tidak semua unsur kebudayaan bukan Kristen harus dianggap hina ataupun ditolak begitu saja, sebaliknya ada banyak hal yang patut dihargai. Agama Kristen harus disampaikan sesuai dengan pendidikan dan kebudayaan setempat.” Ia tidak berdebat dengan orang-orang awam tentang kekatolikan tapi dia mempelajari bahasa dan kebudayaan setempat. Setelah dia menguasai bahasa setempat, dia menggali budaya lokal yang cocok untuk menanamkan nilai-nilai Katolik dalam kehidupan sehari-hari di kalangan masyarakat setempat. Ia mengajarkan agama dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, bahasa yang penuh kasih sayang, dan menghadirkan Kristus sendiri kepada mereka. Itu sebabnya di setiap wilayah misinya, dengan sifatnya yang ramah dan perhatiannya yang tulus, Xaverius menarik orang untuk percaya pada Kristus, membaptis dan membawa mereka kepada Kristus yang menyelamatkan mereka (bdk. Mrk. 16:16-17).

Sama seperti Xaverius, tugas kita sekarang adalah memberitakan Injil kepada segala makhluk, bukan menurut kehendak kita sendiri, melainkan sesuai dengan kehendak Allah yang dilimpahkan kepada kita. Jangan ragu ataupun takut, percaya bahwa kasih-Nya yang hebat ada di atas kita dan kesetiaan TUHAN untuk selama-lamanya menyertai kita. Lakukanlah segala sesuatu ini karena Injil, supaya kita mendapat bagian di dalam-Nya, bersama Tuhan dalam kekekalan bersama-Nya! (ek)

(Antonius Ekahananta – Awam Katolik Pengajar Misi Evangelisasi)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Masa depan kaum muda: Semoga setiap negara berketetapan hati dalam menentukan dan mengambil langkah yang diperlukan untuk mendahulukan dan menjaminkan masa depan kaum mudanya, terutama mereka yang menderita dan putus harapan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Kesetiaan Pasutri: Semoga kesetiaan janji perkawinan pasutri tidak luntur karena perkara-perkara sepele dalam hidup harian yang justru sering memicu perselisihan dalam keluarga. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami menyambut hikmat Roh Kudus untuk mengambil peran penting dalam membangun kebijakan damai dan ketekunan dalam keluarga di tempat tinggal maupun di tempat pengabdian mereka. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s