Misionaris & Pewartaan Tentang Kedatangan Tuhan

Renungan Harian Misioner
Kamis Adven I, 05 Desember 2019
Peringatan S. Sabas, S. Reinardus
Yes. 26:1-6; Mzm. 118:1,8-9,19-21,25- 27a; Mat. 7:21,24-27

Renungan Harian Misioner dari Yung-Fo
Para Sahabat misioner yang terkasih: Shalom! Saat ini kita berada pada H5 Tahun Baru Liturgi Gereja. Tahun Baru dalam Kalender Liturgi kita, dibuka dengan Masa Adven yang berlangsung selama 4 pekan. Adven dari kata Latin “adventus” berarti kedatangan. Kita diundang dan diberi kesempatan untuk mempersiapkan diri supaya dapat menyambut kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus. Para misionaris, sebagaimana halnya para nabi, mempunyai peran penting dalam persiapan menyambut kedatangan Tuhan ini melalui pesan-pesan Firman Tuhan yang harus mereka sampaikan kepada umat-Nya.

1. Tiga “macam” kedatangan Tuhan!
Persiapan-persiapan yang harus dilakukan untuk menyambut kedatangan Tuhan Yesus, Sang Juruselamat ini, perlu memperhitungkan cara-cara yang ditempuh oleh Tuhan untuk mendatangi umat-Nya.

Umumnya ada tiga cara, yakni (1) melalui peristiwa inkarnasi, di mana Allah memilih cara mendatangi kita dalam wujud seorang manusia. Kita rayakan peringatannya pada Hari Raya Natal, 25 Desember untuk kita semua yang berada dalam Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik. Tuan rumah untuk peristiwa inkarnasi ini adalah Bunda Maria dan Santo Yosef. Sayangnya mereka berdua tidak mempunyai rumah, bahkan di penginapan pun tidak ada tempat bagi mereka. Mereka beralih kepada saudara dan saya: apakah ada tempat dan ruang di dalam hati kita untuk menjadi palungan bagi bayi Yesus, Sang Juruselamat itu?

Melalui peristiwa inkarnasi, kita bersama seluruh umat manusia akhirnya memperoleh kesempatan untuk menyambut Yesus Kristus ini, sebagai Imanuel, Allah beserta kita. Penyertaan Allah berawal dari peristiwa inkarnasi dan akan berakhir pada peristiwa yang oleh Rasul Paulus disebut sebagai “parousia”, di mana Tuhan kita Yesus Kristus akan mendatangi kita (2) sebagai Hakim segala Hakim. Berbeda dengan inkarnasi, di mana Tuhan Yesus mendatangi kita sebagai seorang manusia lemah, pada peristiwa parousia itu Dia akan mendatangi kita sebagai seorang Raja Alam Semesta, yang akan bertindak dengan kuasa seorang Hakim untuk menentukan apakah seseorang selamat atau tidak.

Kedatangan Tuhan yang pertama (Natal) sudah terjadi, sementara kedatangan-Nya yang kedua (Parousia) belum terjadi, dan masih kita nantikan. Selain itu, masih ada cara lain (3) di mana Tuhan kita Yesus Kristus mendatangi kita. Jika inkarnasi sudah menjadi masa lampau, sementara parousia masih harus kita nantikan di masa depan, di antara dua masa ini, ada banyak cara di mana Tuhan kita Yesus Kristus mendatangi kita. Antara lain: Dia hadir secara sakramental ketika kita merayakan sakramen-sakramen Gereja; melalui firman-Nya sebagaimana Dia mendampingi Kleofas dan seorang murid-Nya yang lain dalam perjalanan mereka ke Emaus; dalam Ekaristi, ketika Tubuh-Nya dan Darah-Nya Dia bagi-bagikan untuk keselamatan jiwa kita! Saat kita membuka diri untuk menyambut Dia yang menghadirkan Diri-Nya kepada kita di antara peristiwa inkarnasi dengan peristiwa parousia ini, maka pada akhirnya kita akan ada bersama Dia, seperti yang Dia janjikan kepada penyamun yang mengakui dan menerima Dia di atas salib sebagai Raja!

2. Tak ada ruang untuk dosa dan kejahatan!
Ketika Tuhan datang, melalui cara apapun, yang terpenting dalam diri kita yang didatangi-Nya, ialah semangat hidup untuk tidak memberi ruang kepada dosa dan kejahatan. Para nabi, terutama Yesaya selalu menggambarkan kedatangan Tuhan sebagai saat di mana Tuhan hadir di dalam kehidupan semua orang. Tuhan hadir sebagai pelindung bagi umat-Nya, dan bagi siapapun yang mau menerima-Nya (Yes. 26:1-3). Kejahatan dan dosa yang membawa penderitaan dan nasib malang akan dirobohkan-Nya. Bersama Yesus, tidak ada ruang untuk hal apapun yang buruk dan jahat! Namun kehendak bebas manusia perlu kita kelola dengan baik. Dua pilihan Tuhan berikan melalui perumpamaan dalam Injil-Nya hari ini. Karena Dia telah menyertai kita, Dia sudah Immanuel sejak peristiwa inkarnasi itu, maka pilihan kita adalah membangun rumah kehidupan kita di atas diri-Nya, yang Dia umpamakan sebagai batu, wadas yang kokoh itu (Mat. 7:24-25). Sebaliknya, ketika kita memilih untuk membangun rumah kehidupan kita tidak di atas Dia dan Firman-Nya, maka diri kita dan rumah tidak akan bertahan jika terjadi hujan dan badai (Mat. 7:26-27).

Seperti halnya para nabi mempersiapkan Umat Allah dalam Perjanjian Lama untuk menyambut kedatangan Tuhan dalam peristiwa inkarnasi (Natal/kedatangan yang pertama), begitulah para misionaris di zaman untuk mempersiapkan Umat Allah di dalam Gereja, Umat Allah Perjanjian Baru, untuk menyambut kedatangan Tuhan pada peristiwa parousia (kedatangan yang kedua), dan pada kedatangan Tuhan di antara kedua kedatangan tersebut. Persiapan yang utama adalah mengarahkan Umat Allah untuk menjadi pendengar dan pelaksana Firman Allah (Mat. 7:24-25).

Tuhan Yesus Kristus, jadikanlah kami pendengar dan pelaksana Firman-Mu, sehingga ketika Engkau datang, Engkau boleh menemukan ruang kediaman yang telah tersedia di dalam hati kami. Amin! (RMG)

(RD. Marcel Gabriel – Imam Keuskupan Pangkalpinang)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Masa depan kaum muda: Semoga setiap negara berketetapan hati dalam menentukan dan mengambil langkah yang diperlukan untuk mendahulukan dan menjaminkan masa depan kaum mudanya, terutama mereka yang menderita dan putus harapan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Kesetiaan Pasutri: Semoga kesetiaan janji perkawinan pasutri tidak luntur karena perkara-perkara sepele dalam hidup harian yang justru sering memicu perselisihan dalam keluarga. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami menyambut hikmat Roh Kudus untuk mengambil peran penting dalam membangun kebijakan damai dan ketekunan dalam keluarga di tempat tinggal maupun di tempat pengabdian mereka. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s