Domba Tersesat Harus Ditemukan Kembali

Renungan Harian Misioner
Selasa Adven II, 10 Desember 2019
Peringatan S. Miltiades
Yes. 40:1-11; Mzm. 96:1-2,3,10ac,11- 12,13; Mat. 18:12-14

Saat saya bertugas di paroki, saya selalu menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah umat dengan berjalan kaki di sekitar pusat paroki. Suatu ketika saya singgah di salah satu rumah panggung yang di bawahnya biasa dipakai untuk menyimpan barang, peliharaan ternak khususnya kerbau; atau untuk tempat parkir kendaraan bermotor; atau dipakai untuk beristirahat, tempat berkumpul bersama dengan kerabat maupun tetangga sambil meminum tuak (minuman khas Toraja dari Pohon Enau). Saya tertarik singgah di rumah tersebut karena ada beberapa umat yang saya kenal termasuk tuan rumah. Setelah disuguhkan minuman dan membaur dalam kebersamaan dengan orang-orang yang telah lebih dulu datang, saya memberanikan diri berbisik pada orang yang saya kenal yang kebetulan berada di samping saya, “Saudara, hampir setengah dari orang-orang ini tidak saya kenal”. Ia tertawa dan menjawab, “Pastor, mereka semua orang Katolik dan umat pastor sendiri”. Karena ia menjawab dengan keras, semua orang yang ada di situ mendengar. Ada yang ikut tertawa namun ada pula yang tertunduk malu. Kemudian sedikit membela diri saya meneruskan percakapan, “Mohon maaf saya tidak mengenal kalian karena saya jarang melihat kalian di Gereja”. Ternyata jawaban saya ini semakin membuat mereka malu, namun ada yang menjawab, “Benar sekali pastor, kami tidak pernah lagi ke Gereja. Kadang kalau mau ke Gereja, yang paling berat adalah perasaan malu nanti ditertawai oleh yang lain”.

Sepenggal kejadian di atas tidak hanya terjadi sekali. Banyak umat yang saya jumpai dan tidak pernah lagi ke Gereja bukan pertama-tama karena malas tetapi karena malu. Saya mulai melihat sebab dan akibat dari semua ini, karena penghakiman kita terhadap mereka tanpa kita sadari telah membuat saudara-saudara kita semakin menjauh. Sesungguhnya mereka adalah domba yang tersesat, yang perlu dicari dan dibawa kembali ke dalam kawanan. Seperti bacaan Injil hari ini, “Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan, lalu mencari yang sesat itu?”

Terkadang, sebagian dari kita yang rajin beribadah dan aktif di kegiatan pastoral Gereja menutup diri dengan mereka yang tidak pernah lagi aktif di Gereja. Mungkin yang timbul di dalam hati kita adalah, “Biarkan saja mereka, salah sendiri tidak mau aktif”. Atau terkadang timbul rasa iba yang sesungguhnya tidak bermakna apa-apa tanpa tindakan konkret, “Kasihan ya dia, sudah malas, kehidupan keluarganya berantakan pula”. Tanpa sadar kita telah menutup diri kita untuk mereka dan ketika berjumpa dengan mereka, kita tidak memberi sebuah senyum sapaan yang penuh keakraban dan tidak jarang dari kita malah memandangi mereka mulai dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan air muka sinis dan terheran-heran. Saya pernah bertanya kepada salah satu dari orang yang mengatakan malu kalau mau ke Gereja. Jawabannya sangat sederhana namun menyayat hati, “Pernah sekali pastor saya mencoba ke Gereja, orang-orang melihat saya dengan heran. Tidak ada yang tersenyum, sebaliknya memperhatikanku dari ujung kaki sampai ujung rambut. Beberapa saja yang mau menyapa, bahkan yang mengenal pun bersikap cuek. Mungkin mereka ketakutan dengan orang pendosa seperti kami”.

Domba yang tersesat dari kawanan biasanya bukan karena mereka tiba-tiba kehilangan arah tetapi bisa saja mereka terlalu asyik berhenti pada suatu tempat yang rumputnya hijau, menikmati zona nyaman karena dekat dengan sumber makanan dan minuman sehingga tidak lagi mendengar arahan dan tuntunan gembalanya. Kemudian domba tersebut tertinggal di belakang, tidak tidak tahu lagi arah jalan untuk pulang. Banyak dari kita yang terlalu sibuk memenuhi segala pemenuhan diri kita sampai lupa untuk mendengar bisikan dan sapaan Tuhan. Kita menjadi lupa untuk menyempatkan diri datang kepada-Nya dalam setiap doa karena waktu untuk bekerja pun terasa tidak pernah cukup. Kita juga sering terlena dengan segala macam hobi kita yang menyenangkan namun lambat laun terasa hampa dan saat kita menyadari hal tersebut kita merasa sudah terlalu jauh lepas dari kawanan. Tidak ada lagi daya untuk mencari kawanan, akhirnya kita tinggal dalam kubangan dosa. Bisa juga domba-domba yang tersesat itu memiliki hasrat yang besar untuk kembali dalam kawanan namun ketika ada keinginan untuk pulang, justru kawanannya sendiri menolak dia.

Saudara-saudariku yang terkasih, perumpamaan yang diberikan Yesus dalam bacaan Injil hari ini juga memberikan pesan bagi kita masing-masing bahwa kita juga perlu memiliki sifat seorang gembala yang mencari yang hilang dan bersukacita bila menemukan yang hilang tersebut dan bukan sebaliknya: bersikap acuh, nyinyir, memberi pandangan sinis, meremehkan, menolak, dsbnya. Dalam masa Adven ini sikap yang paling tempat sambil menanti-nantikan saat Tuhan datang kembali adalah dengan bersiap sedia dan berjaga-jaga sambil bertobat dan jangan lupa merangkul mereka yang ingin bertobat dengan penuh kegembiraan dan sukacita. Sebab, “Bapa kita yang di surga tidak menghendaki seorang pun dari anak-anaknya hilang.” (bdk. Mat. 18:14).

(RD. Hendrik Palimbo – Dosen STIKPAR Toraja, Keuskupan Agung Makassar)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Masa depan kaum muda: Semoga setiap negara berketetapan hati dalam menentukan dan mengambil langkah yang diperlukan untuk mendahulukan dan menjaminkan masa depan kaum mudanya, terutama mereka yang menderita dan putus harapan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Kesetiaan Pasutri: Semoga kesetiaan janji perkawinan pasutri tidak luntur karena perkara-perkara sepele dalam hidup harian yang justru sering memicu perselisihan dalam keluarga. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami menyambut hikmat Roh Kudus untuk mengambil peran penting dalam membangun kebijakan damai dan ketekunan dalam keluarga di tempat tinggal maupun di tempat pengabdian mereka. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s