Kesetiaan dan Cinta Diwujudkan dalam Doa Tanpa Henti

Renungan Harian Misioner
Rabu Adven II, 11 Desember 2019
Peringatan S. Damasus I
Yes. 40:25-31; Mzm. 103:1-2,3-4,8,10; Mat. 11:28-30

Ketika Lilin Adven ke-2 dinyalakan minggu ini, itu berarti bahwa kita memasuki minggu kesetiaan dan cinta. Kita wajib mempersiapkan hati dan cinta demi menyambut kedatangan Kristus. Dialah Firman yang Mahakudus, Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung, Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha Kuat yang menciptakan semua bintang. Allah yang layak kita puji karena nama-Nya yang kudus, dan karena segala kebaikan-Nya. Dialah Tuhan yang pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia-Nya. Ia tidak pernah memperlakukan kita setimpal dengan dosa kita, sebaliknya mengampuni segala kesalahan kita, menyembuhkan kita dan menebus hidup kita (Yes. 40:25-28; Mzm 103: 1-3, 8, 10).

Kita diingatkan untuk tetap setia mempersiapkan jalan bagi kedatangan Tuhan dan mewartakan keselamatan-Nya. Namun dalam perjalanan sejarah yang berabad-abad lamanya, generasi-generasi umat Kristiani telah menghadapi macam-macam rintangan dalam melakukan perutusannya. Dari pihak penginjil sendiri selalu ada godaan, dengan bermacam-macam alasan untuk membatasi daerah kegiatan misioner mereka; kita berlambat-lambat dan malas mewartakan, karena karya evangelisasi dari Gereja cukup kuat ditentang dan dilarang oleh penguasa umum tertentu. Bahkan pada zaman sekarang ini terjadi bahwa para pengkhotbah Sabda Allah dirampas hak-haknya, dikejar-kejar, diancam atau diusir, hanya semata-mata karena mewartakan Yesus Kristus dan Injil-Nya (bdk. EN-50). Keadaan ini seringkali memupuskan harapan dari para misionaris, sehingga mereka menjadi letih dan lesu.

Dalam keadaan demikian, kita diajak untuk menjawab undangan Yesus untuk memperoleh kelegaan serta menantikan Tuhan agar menambah semangat dan kekuatan baru. Semangat yang tidak kenal lelah ini hanya dapat berasal dari cinta. Kita tidak diwajibkan untuk terus bekerja, berjaga-jaga dan berpuasa tanpa henti, tapi adalah satu hukum bagi kita, yaitu berdoa dengan tidak putus-putusnya. Perjuangan doa melawan kelambanan dan kemalasan kita adalah perjuangan untuk mendapatkan cinta yang rendah hati, penuh kepercayaan dan ketabahan. Pesan Santo Yohanes Krisostomos: “Tidak ada suatu apa pun yang lebih bernilai daripada doa: doa membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin, dan yang berat menjadi ringan…” Lewat doa kita membangun relasi dan belajar dari Yesus: kerendahan hati dan kelemah-lembutan agar beban pewartaan yang kita pikul itu terasa ringan (bdk. Yes 40:29; KGK 2742; Mat. 11:28-30).

Tetaplah berdoa. Dalam keadaan letih lesu, lakukanlah segala tindakan iman, harapan, dan kasih, yang disempurnakan di dalam doa. Kita menyembah Allah, kalau kita mengangkat roh dalam doa pujian dan doa syukur, doa syafaat dan doa permohonan kita. Doa adalah satu prasyarat yang mutlak perlu untuk menghayati perintah-perintah Allah. Berdoa dan hidup Kristiani tidak dapat dipisahkan. Karena keduanya menyangkut cinta dan pengurbanan yang sama, yang keluar dari cinta; menyangkut keserupaan yang sederhana dan penuh cinta dengan keputusan Bapa yang penuh cinta; menyangkut persatuan transformatif (yang mengubahkan) yang sama dalam Roh Kudus, yang membuat kita menjadi semakin serupa lagi dengan Yesus Kristus (bdk. KGK 2098, 2745).

Apakah kegiatan misionermu terasa berat? Sudahkah engkau berdoa? (ek)

(Antonius Ekahananta – Awam Katolik Pengajar Misi Evangelisasi)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Masa depan kaum muda: Semoga setiap negara berketetapan hati dalam menentukan dan mengambil langkah yang diperlukan untuk mendahulukan dan menjaminkan masa depan kaum mudanya, terutama mereka yang menderita dan putus harapan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Kesetiaan Pasutri: Semoga kesetiaan janji perkawinan pasutri tidak luntur karena perkara-perkara sepele dalam hidup harian yang justru sering memicu perselisihan dalam keluarga. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami menyambut hikmat Roh Kudus untuk mengambil peran penting dalam membangun kebijakan damai dan ketekunan dalam keluarga di tempat tinggal maupun di tempat pengabdian mereka. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s