Taat Pada Kehendak Bapa Seperti Maria-Yusuf-Yesus

Paus di Angelus: Saling Menopang di dalam keluarga – sama seperti yang dilakukan oleh Yesus, Maria dan Yusuf
Selama Angelus pada hari Minggu, pesta Keluarga Kudus dari Nasaret, Paus Fransiskus menggambarkan setiap orang yang ada dalam Keluarga tersebut, menjelaskan mengapa mereka bersama-sama, saling mendukung satu sama lain.

Menyambut umat beriman yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus untuk Angelus Hari Minggu, Paus Fransiskus menjelaskan bahwa Keluarga Suci Nasaret dikuduskan melalui “sebuah rahmat Allah”, dan juga karena “kepatuhan dan tanggung jawab yang mereka berikan secara bebas terhadap rencana Allah.” Keluarga Nasaret, “terbuka pada kehendak Tuhan”.

Melihat pada Keluarga Kudus, Paus Fransiskus memulai dengan menganalisa Maria, menggambarkan “kepatuhannya” pada tindakan Roh Kudus. “Bagaimana mungkin kita tidak kagum karenanya?”

Maria
Maria, seperti banyak perempuan muda lainnya, “berencana masuk ke persekutuan mendalam dengan pasangannya”. Namun, ketika dia sadar akan misi Tuhan yang memanggilnya, “dia tidak ragu untuk mengakui dirinya sebagai ‘hamba’ Tuhan”.

Yusuf
Beralih ke sosok Yusuf, “Injil tidak melaporkan satu kata pun” tentang dirinya. Yusuf “tidak berbicara, sebaliknya ia taat melalui tindakan”. Sebagai contoh Paus Fransiskus menggunakan istilah “momen halus” untuk menyebut saat di mana Yusuf diam-diam ingin pergi meninggalkan Maria karena dia hamil. “Pilihan Yusuf”, dibuat seperti itu agar tidak menjadi “penghalang dalam rencana Allah”, dan agar dapat “memungkinkan Maria bebas untuk mematuhi kehendak Ilahi”.

Yesus
Akhirnya, Paus menoleh pada Yesus, anggota ketiga dari Keluarga Suci Nasaret. Dia adalah “kehendak Bapa”. St. Paulus mengatakan bahwa di dalam diri Yesus tidak ada keragu-raguan antara “ya” dan “tidak”, melainkan hanya ada satu kata: “ya”. Perwujudan jati diri-Nya ini bisa kita temukan “dalam banyak momen selama kehidupan awal-Nya”:

“Kisah di bait suci ketika, kepada orang tua-Nya yang mencari diri-Nya dengan cemas, Dia menjawab: “Tidakkah kamu tahu bahwa Aku harus berada di rumah Bapa-Ku?” (Luk. 2:49); Lalu Yesus mengulangi pernyatan tersebut terus-menerus: “Makanan-Ku adalah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku” (Yoh. 4:34); Doa-Nya di Taman Getsemani: “Ya Bapa-Ku jika cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!” (Mat. 26:42).

Semua peristiwa tersebut adalah “realisasi sempurna dari kata-kata Kristus ini, yang mengatakan: Korban atau persembahan tidak Engkau inginkan […]. Lalu Aku berkata: ‘Lihatlah, Aku datang […] untuk melakukan kehendak-Mu, Ya Tuhan’.”

Sebuah keluarga
Paus Fransiskus mengakhiri pesannya dengan mengatakan bahwa Keluarga Nasaret mewakili sebuah“respon paduan suara” terhadap kehendak Bapa. Tiga anggota saling membantu tanpa henti untuk “menemukan dan memenuhi rencana Tuhan”.

Paus berdoa agar keluarga menjadi teladan, sehingga orang tua dan anak-anak dapat saling mendukung dalam mematuhi Injil, “dasar kekudusan dalam keluarga”.

29 Desember 2019
Oleh: Francesca Merlo
Sumber: Vatican News

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s