Berhala pada Agama Pengabaian Kehendak Tuhan

Renungan Harian Misioner
Senin, 20 Januari 2020
P. S. Fabianus, S. Sebastianus
1Sam. 15:16-23; Mzm. 50:8-9,16bc-17,21,23; Mrk. 2:18-22

Salah satu ancaman dalam kehidupan beragama, yang membuat kehidupan beragama menjadi tidak otentik dan menyimpang adalah formalisme. Formalisme dalam kehidupan beragama adalah praktik beragama dengan hanya memerhatikan aturan-aturan serta ritual-ritual formal, tanpa memerhatikan serta mengupayakan kebaikan atau kebenaran moral dan spiritual. Dampak yang terlihat dari formalisme adalah bahwa di satu pihak ibadah-ibadah meriah, hukum atau aturan agama dijalankan bahkan dipaksakan, namun di lain pihak ketidakadilan, kekerasan, konflik, penindasan dan kejahatan-kejahatan sosial terus terjadi. Dalam formalisme agama, manusia menyembah agama dan mengabaikan sesama dan Tuhan.

Praktik formalisme agama yang sekarang amat marak, sesungguhnya sudah terjadi juga pada zaman Kerajaan Israel, pada masa pemerintahan Saul. Saat itu, ibadah-ibadah berlangsung meriah dan korban-korban bakaran tidak pernah surut. Secara formal, kehidupan beragama meriah, ibadah dan korban tidak pernah berkurang. Tetapi ternyata praktik seperti itu bertentangan dengan kehendak Tuhan. Allah mengutus Samuel untuk mengritik praktik kehidupan beragama seperti itu, karena bertentangan dengan kehendak Allah, bertentangan dengan prinsip-prinsip moral dan spiritual.

Tuntutan moral dan spiritual diabaikan Saul. Dia mengutamakan pelaksanaan agama secara formal, dalam bentuk ibadah, korban dan aturan agama, namun ia mengabaikan tuntutan moral danb spiritual. Melalui Samuel, Tuhan mengingatkan Saul, “mengamalkan sabda lebih baik daripada korban sembelihan, menuruti firman lebih baik daripada lemak domba jantan”. Samuel menyebut praktik seperti itu sebagai berhala, karena Saul sesungguhnya menolak firman Tuhan. Apa yang dilakukan Saul adalah menyembah agama atau berhala agama, sementara firman Tuhan diabaikannya.

Dalam Injil, Yesus menekankan integrasi dari pelaksanaan perintah agama dengan pengalaman akan Allah. Puasa dan pengalaman akan Allah harus diintegrasikan. Puasa berarti penguasaan dan pengendalian diri terhadap hal-hal fana, demi mengutamakan yang rohani, yakni pengalaman akan Tuhan. Puasa bukan demi puasa atau demi melakukan perintah agama saja. Puasa adalah ungkapan kerinduan akan Tuhan. Pengalaman akan Tuhan adalah pengalaman sukacita, sehingga kerinduan akan Tuhan (puasa) tidak lagi relevan, ketika Tuhan dialami. Karena itu puasa yang mengantar kepada pengalaman akan Tuhan, harus mengantar orang yang berpuasa kepada sesama, terutama mereka yang terpinggirkan dan terlantar. Di sini menjadi nyata bahwa praktik agama, yakni puasa, menjadi selaras dengan kehendak Tuhan: peduli pada sesama yang menderita.

Sebaliknya, jika orang hanya taat pada aturan dan ritus agama, tetapi mengabaikan atau bahkan mengorbankan sesama, maka hal itu merupakan praktik berhala pada agama dan mengabaikan kehendak Tuhan. Saul dikritik keras, karena menjarah dan merampok, demi kemeriahan ibadah dan kesemarakan korban bakaran. Ibarat orang melakukan korupsi atau menjadi kaya dengan merusak lingkungan hidup, tetapi selalu membantu kemeriahan ibadah atau membangun fasilitas ibadah dengan uang hasil korupsi dan pengrusakan lingkungan. Praktik seperti itu termasuk kategori berhala agama dan mengabaikan kehendak Tuhan.

(Sdr. Peter C. Aman, OFM – Ketua Komisi JPIC OFM Indonesia)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Mempromosikan perdamaian dunia: Semoga umat Kristiani, para penganut agama-agama lain, dan semua orang yang berkehendak baik mau mempromosikan perdamaian dan keadilan di dunia ini. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Membangun solidaritas: Semoga demi solidaritas nyata terhadap mereka yang miskin dan berkekurangan, keluarga-keluarga Katolik mau menentukan porsi makan secukupnya supaya tidak ada makanan yang terbuang sia-sia. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami memercayakan seluruh umat di Keuskupan kami kepada Roh Kasih-Mu, agar semakin mengimani Allah Bapa, yang Maha Adil dengan mewujudkan keadilan sosial. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s