Kita Semua Pengemis di Hadapan Allah

Audiensi Paus: Menjadi miskin di hadapan Allah adalah kebebasan sejati
Paus Fransiskus merenungkan Sabda Bahagia, “Berbahagialah orang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya kerajaan sorga” ketika ia melanjutkan katekese tentang Kebahagiaan selama Audiensi Umum mingguan.

Dalam katekese tentang Sabda Bahagia pertama – “Berbahagialah orang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya kerajaan sorga” – Paus Fransiskus berkata, “Ada kemiskinan yang harus kita terima, yaitu dari keberadaan kita sendiri; dan kemiskinan yang harus kita cari sebagai gantinya, dari hal-hal di dunia ini”.

Proklamasi paradoksal
“Jalan menuju kebahagiaan” Yesus, dimulai dengan “proklamasi paradoks… obyek kebahagiaan yang aneh”. Jadi kita harus bertanya pada diri sendiri, apa sebenarnya yang dimaksud dengan kata “miskin”? Penggunaan kata yang dipakai oleh Matius terhadap ungkapan “miskin di hadapan Allah” menunjukkan kepada kita bahwa Yesus tidak hanya berbicara tentang kemiskinan ekonomi, tetapi juga pemahaman rohani tentang kemiskinan kita. “Mereka yang ‘miskin di hadapan Allah’, adalah mereka yang adalah dan yang merasa diri mereka miskin, pengemis, hingga kedalaman dari keberadaan mereka”.

Hal ini bertentangan dengan pesan dunia, yang mengatakan bahwa kita harus membuat sesuatu yang berasal dari diri kita sendiri. Sikap ini mengarah pada “kesepian dan ketidakbahagiaan”, karena hal tersebut membuat kita masuk dalam persaingan dengan orang lain, sehingga kita “hidup dalam kepedulian obsesif terhadap ego [kita sendiri]”. Yesus, bagaimanapun, memberi tahu kita bahwa “menjadi miskin adalah kesempatan berahmat, dan Dia menunjukkan kepada kita jalan keluar” dari kelelahan yang disebabkan oleh upaya untuk menyembunyikan keterbatasan dan kegagalan kita.

Kita sudah miskin
Namun, Paus Fransiiskus berkata, kita harus ingat bahwa kita “tidak perlu mengubah diri kita menjadi miskin di hadapan Tuhan, karena kita sebenarnya sudah miskin! Kita semua miskin dalam roh, para pengemis”.

Kerajaan dunia, yang dimiliki oleh mereka yang memiliki kekayaan dan kenyamanan, adalah kerajaan yang pasti berakhir. “Kekuatan manusia, bahkan kekaisaran terbesar, berlalu dan lenyap”. Sebaliknya, mereka yang benar-benar memerintah adalah mereka “yang tahu bagaimana mencintai kebaikan sejati lebih daripada dirinya sendiri”. Ini, “adalah kekuatan Allah”; dan dengan inilah cara Kristus menunjukkan diri-Nya kuat: “Dia tahu bagaimana melakukan apa yang tidak dilakukan raja-raja di bumi: memberikan hidup-Nya bagi umat manusia. Dan ini adalah kekuatan sejati: kekuatan persaudaraan, kekuatan amal, kekuatan cinta, kekuatan kerendahan hati. Inilah yang dilakukan Kristus “.

Dan, “kebebasan sejati terletak pada hal ini: orang yang memiliki kekuatan kerendahan hati, pelayanan, persaudaraan adalah orang yang bebas. Kemiskinan yang dipuji oleh Sabda Bahagia terletak pada pelayanan kebebasan ini ”. Bapa Paus mengakhiri katekese dengan mengatakan “kita harus selalu mencari kebebasan hati ini, yang berakar pada kemiskinan diri kita sendiri”.

05 Februari 2020
Oleh: Christopher Wells
Sumber: Vatican News

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s