Garam yang Asinkah Kamu?

Renungan Harian Misioner
Minggu, 9 Februari 2020
Yes. 58:7-10; Mzm. 112:4-5,6-7,8a,9; 1Kor. 2:1-5; Mat. 5:13-16

Sabda Yesus hari ini adalah bagian dari Khotbah di Bukit, yang ditujukan kepada para Murid yang sudah komit pada nilai-nilai Injili. Intinya jelas: Yesus ingin agar mereka menjadi kelompok yang khas. Pertama, jemaat yang bersaksi dalam kebersamaan. Perhatikan rumusan kata-kata Yesus: “kalian adalah garam/terang dunia…” (ay. 13, 14). “Kamu/kalian” selalu di awal kalimat! Kolektivitas jemaat ditegaskan. Secara bersama, misi mereka pasti akan berhasil. Secara bersama, kesaksian mereka pasti berbuah dan bertuah. Apakah kebersamaan itu mematikan talenta dan kreativitas individual? Sama-sekali tidak! Kolektivitas jemaat bukanlah komunisme atau militerisme. Komunio tidak memadamkan kharisma. Jemaat Tuhan bagaikan “kota yang didirikan di atas gunung” (ay. 14). Terang kota itu bukan berasal dari satu lampu saja, tetapi kumpulan dari semua lampu yang menyala di setiap rumah. Demikian pun dengan jemaat Tuhan: kesaksiannya semakin kuat dan meyakinkan justru ketika setiap anggotanya menyumbangkan terangnya masing-masing yaitu: tingkah-laku dan perbuatannya yang baik!

Kedua, jemaat yang berbeda dari dunia sekitarnya. Mereka harus menjadi kelompok yang “khas”: punya jati-diri yang jelas terbedakan dan kelihatan. Visibilitas kesaksian hidup ditegaskan: kota di atas gunung, tidak tersembunyi, lampu di atas kaki pelita, bercahaya di depan orang, verba melihat, dll. Kekhasan yang kelihatan dan dirasakan itulah yang menjadi sumbangan jemaat bagi lingkungan sekitarnya! Garam berfungsi justru jika memiliki rasanya yang khas, yaitu: asin. Garam tidak bermakna, saat menjadi tawar. Terang lampu berguna saat lingkungan di sekitarnya gelap. Terang lampu tidak relevan di hari siang. Kekhasan jemaat, tingkah-laku dan perbuatan yang khas, etos dan habitus yang berbeda, itulah yang sering membuat sebagian orang merasa terganggu, dihakimi, dikritik, sehingga mereka marah dan membenci jemaat Tuhan (bdk. konteks sebelumnya, ay. 10-12).

Ketiga, jemaat yang terlibat. Jemaat memberikan sumbangan khasnya justru karena mereka terlibat di tengah dunia. Mereka menjadi garam dan terang bagi dunia (ay. 13 dan 14). Dunia menjadi konteks misi dan keterlibatan jemaat. Jemaat yang menarik-diri dari dunia, yang membentengi diri demi menjaga kekudusannya sendiri, bagaikan pelita yang tersimpan di bawah tempayan. Demikian juga, jemaat yang selalu mau menyesuaikan diri dengan dunia, tanpa kekhasan dan sikap kritis, bagaikan garam tawar: namanya saja garam, tetapi tidak memberi rasa. Yesus meminta para pengikut-Nya untuk menjadi garam: berada dalam dunia, manfaatnya dirasakan, sehingga mereka dihargai dan dinilai tinggi. Apa manfaat garam di zaman Yesus? Dari sekitar 11 fungsi dan kegunaan garam zaman itu, kiranya fungsi mengawetkan makanan (daging/ikan) yang mau ditampilkan. Tuhan menempatkan jemaat-Nya dalam dunia untuk melanjutkan karya-Nya: menjaga dan memelihara dunia ini agar tidak rusak dan busuk. Caranya? Melalui perbuatan-perbuatan baik (ay. 16). Tentu bukan pertama-tama agar orang meneladani mereka, atau untuk mengkristenkan sesama, tetapi agar Allah Bapa di Surga dimuliakan. Misi dan kesaksian hidup Kristiani bersumber pada Allah, dan bermuara pada kemuliaan-Nya!

(Hortensio Mandaru – Lembaga Alkitab Indonesia Jakarta)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Mendengarkan jeritan para migran: Semoga tangis saudara-saudari kita para imigran, korban kejahatan perdagangan manusia didengarkan, ditanggapi secara serius, dan ditindaklanjuti oleh semua pihak terkait. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Panggilan hidup bakti: Semoga para imam dan kaum religius mampu menjadikan hidupnya inspirasi dan kesaksian bagi kaum muda agar mereka terdorong untuk berani mengikuti panggilan menjadi imam dan hidup membiara. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami mempersembahkan kesediaan para Pelayan Pastoral dan Kader awam di Keuskupan agar semakin bersikap dan bertindak adil, dan menjadi cermin Keadilan Ilahi. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s