Jangan Melawan Kejahatan dengan Kejahatan!

Renungan Harian Misioner
Minggu, 23 Februari 2020
Im. 19:1-2,17-18; Mzm. 103:1-2,3-4,8,10,12-13; 1Kor. 3:16-23; Mat. 5:38-48

Dengan 6 antitesis (rumusan: “kamu telah mendengar…tetapi Aku berkata kepadamu…) dalam Mat. 5:21-48, Yesus memperlihatkan bagaimana Ia menggenapi Hukum Taurat. Artinya: Ia menafsirkan perintah-perintah Taurat sesuai dengan maksud aslinya, yang menjadi kehendak Allah, Bapa-Nya. Antitesis yang kelima dan keenam dalam injil hari ini mengajak Anda dan Saya untuk mendobrak lingkaran kejahatan dan permusuhan, baik sebagai pribadi maupun sebagai jemaat.

Pertama, tidak mengupayakan pembalasan. Hukum Taurat menekankan bahwa: kerugian harus dibalas, tetapi secara proporsional, tidak berlebihan. “Mata ganti mata, gigi ganti gigi” jangan sampai meningkat menjadi “leher ganti mata, kepala ganti gigi” misalnya! Jadi, Hukum Taurat sudah berupaya menghentikan eskalasi pembalasan dan kekerasan. Yesus menuntut lebih: Jangan melawan kejahatan dengan kejahatan! Lingkaran balas-membalas itulah yang harus diputuskan. Jangan mengikuti “logika kekerasan” yang dianut pihak lawan. Penghinaan (“menampar pipi kanan”, ay.39) adalah senjata untuk merendahkan. Pengikut Yesus tidak perlu memakai senjata yang sama. Justru harus “mengembalikan senjata” itu kepada lawan: “berilah juga pipi kirimu”. Artinya: senjata lawan itu tidak mempan membuat kita marah atau membalas-dendam! Dia justru diundang untuk berdamai dan berhenti memakai senjata penghinaan!

Kedua, merampas diganti dengan memberi. Hukum Taurat mengatur bahwa jubah seseorang dapat diambil sebagai jaminan utang (Kel. 22:26 dstnya, Ul. 24:12-13;). Tetapi harus dikembalikan saat malam, agar seorang miskin tidak kedinginan. Yesus ingin para murid-Nya keluar dari logika hukum “mengambil” ini. Kalau dari mereka dituntut untuk menyerahkan baju, silahkan menyerahkan jubah juga. Dengan itu, para murid Yesus menyadarkan si perampas, bahwa “mengambil” tidak akan membuat mereka rugi atau berkekurangan. Mereka justru tetap “memiliki lebih”, sehingga dapat memberi tanpa pamrih.

Ketiga, paksaan dilawan dengan pelayanan. Pejabat dan tentara Romawi berhak menuntut warga Palestina membawa barang mereka sekitar 1 mil (ay. 41, bdk. Simon dari Kirene, Mat. 27:32). Itu hak penjajah dan tentara di wilayah penaklukan. Bagi orang Yahudi, itu penghinaan dan simbol penjajahan. Yesus meminta para murid-Nya untuk tidak terjebak dalam cara berpikir dan mentalitas “penakluk vs terjajah”. Kalau orang melihat pekerjaan tertentu sebagai pemaksaan dan simbol kekuasaannya, pengikut Yesus harus melakukannya sebagai pelayanan. Maka, pemaksaan tidak perlu ditolak atau dilawan dengan cara-cara kekerasan (seperti yang dilakukan kaum Zelot dan Sicari), tetapi justru dengan menggandakan pelayanan.

Keempat, membenci ditanggapi dengan mengasihi tanpa batas. Jemaat Tuhan dari dulu sampai kini seringkali ditolak, dihambat, dibenci dan dianiaya oleh pelbagai pihak. Kebencian itu harus dilawan dan dikalahkan oleh kasih tanpa pamrih. Pertama-tama dengan mendoakan para musuh itu agar mereka diampuni (ay. 44). Selanjutnya dengan terus berbuat baik, bukan saja untuk kalangan sendiri, tetapi juga untuk orang lain, termasuk para pembenci. Mengasihi siapapun, bahkan termasuk musuh, menjadi tolok ukur tertinggi apakah kita sungguh menjadi pengikut Kristus dan anak-anak sejati, yang berupaya menjadi sempurna seperti Bapa di Surga (ay. 48).

(Hortensio Mandaru – Lembaga Alkitab Indonesia Jakarta)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Mendengarkan jeritan para migran: Semoga tangis saudara-saudari kita para imigran, korban kejahatan perdagangan manusia didengarkan, ditanggapi secara serius, dan ditindaklanjuti oleh semua pihak terkait. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Panggilan hidup bakti: Semoga para imam dan kaum religius mampu menjadikan hidupnya inspirasi dan kesaksian bagi kaum muda agar mereka terdorong untuk berani mengikuti panggilan menjadi imam dan hidup membiara. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami mempersembahkan kesediaan para Pelayan Pastoral dan Kader awam di Keuskupan agar semakin bersikap dan bertindak adil, dan menjadi cermin Keadilan Ilahi. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s