Siapkah Engkau Jadi Pelayan Tuhan & Sesama?

Renungan Harian Misioner
Selasa, 25 Februari 2020
P. S. Walburga
Yak. 4:1-10; Mzm. 55:7-8,9-10a,10b-11a,23 ; Mrk. 9:30-37

Hari ini kembali kita diingatkan tentang nilai luhur dan abadi tentang melayani. Kita diminta untuk bersikap rendah hati dan menjadi pelayan yang siap menerima siapa saja baik yang kecil, yang terpinggirkan, yang papa, maupun mereka yang dianggap berpengaruh oleh masyarakat. Kita seharusnya terus belajar untuk dapat menjadi pelayan bagi sesama, dengan rendah hati membantu sesama terutama yang tidak berdaya dan menghibur mereka yang putus asa. Kita harus siap menerima mereka yang tidak diperhatikan oleh masyarakat. Dengan berbuat demikian, kitalah yang terbesar di antara semua yang ada karena kita akan ditinggikan oleh Tuhan. “Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu” (Yak. 4:10).

Perlombaan untuk menjadi siapa yang lebih hebat dan berkuasa umumnya menjadi habitus manusia dalam kehidupan ini. Ada yang menganggap dirinya “lebih”: lebih kuat, lebih pintar, lebih kaya, lebih sukses, lebih tinggi kedudukannya dari orang-orang lain. Ketika seseorang merasa lebih unggul daripada yang lainnya, terjadilah persaingan yang tidak sehat dan menghalalkan segala cara agar bisa mendapatkan pengakuan. Jarang terjadi orang berebut menjadi pelayan. Orang lebih senang menjadi terkemuka, dilayani dan dihormati. Tidak heran orang lebih suka mengikuti acara makan makan daripada acara bakti sosial. Mental seperti ini tentunya sangat bertentangan dengan nilai Injil. Hal ini juga menjadi pergulatan dalam diri para murid, siapa yang terbesar di antara mereka? Yesus justru berkata sebaliknya, perspektif kebesaran itu ditentukan dari nilai hidup yang tinggi.

Bagaimana sikap kita terhadap sesama yang menderita, tersisihkan dan dianggap sampah masyarakat? Apakah kita hanya siap dilayani orang lain? Atau kita hanya siap melayani orang tertentu saja? Ataukah sebaliknya kita siap melayani siapa saja yang membutuhkan tanpa pamrih?

Dalam situasi zaman sekarang ini, kita seperti kehilangan roh dari pelayanan, kekurangan makna tentang indahnya pelayanan. Kecenderungan kita terletak pada apa yang bisa saya dapatkan, bukannya apa yang bisa saya berikan. Dalam pelayanan kita terkadang masih membanding-bandingkan pelayanan antar kita. Untuk itu kita masih perlu introspeksi kembali, apa sebenarnya tujuan pelayanan kita? Apakah agar kita dikenal/dipuji/dihargai ataukah benar-benar untuk kemuliaan nama Tuhan?

Ketika kita melayani Tuhan, Tuhan pun tidak pernah memberi penilaian pada kita masing-masing. Kebesaran dalam pelayanan tidak terletak pada kedudukan dan posisi, tetapi pada kerendahan hati dan kerelaan menjadi pelayan bagi banyak orang. Yesus memberi contoh dengan mengambil seorang anak kecil dan berkata: “Barang siapa menyambut seorang anak kecil seperti ini dalam nama-Ku , ia menyambut Aku.” Kalimat menyambut seorang anak kecil sama halnya dengan menyangkal diri dan menjadi murid Yesus seperti perenungan kita dalam bacaan minggu lalu. Yesus menggunakan seorang anak kecil untuk menyatakan sikap Allah yang mengaruniakan kerajaan-Nya kepada orang-orang tertindas yang seringkali tidak diperhitungkan. Kita pengikut Yesus pada zaman ini, seharusnya mengutamakan pelayanan, bukan malah mencari siapa yang terhebat. Tuhan mencari orang yang rendah hati dan yang mau menjadi yang terakhir dan pelayan buat semua orang. “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya” (Mrk. 9:35).

Mari kita meneladani Santa Walburga yang diberkati Tuhan dengan karunia penyembuhan karena dia memfokuskan diri pada pelayanan kepada sesama. Juga belajar dari Mother Teresa yang tidak mementingkan ketenaran tetapi setia di dalam pelayanannya karena setiap kali dia melayani sesama, dia melihat Tuhan di dalam setiap pribadi yang dilayaninya. God has not called me to be successful but to be Faithful. I see God in every human being, I feel I am nursing the Lord himself. Jika kita mau menerima sukacita dan kebahagiaan, jadi pelayan Tuhan yang setia, melayani sesama dengan sepenuh hati. Mengangkat beban mereka, maka beban kita akan menjadi lebih ringan. Sesuai dengan makna kata JOY:

J Jesus First
O Others Next
Y Yourself Last

Ingat apapun yang kita lakukan dalam pekerjaan untuk Tuhan dan dalam persekutan dengan-Nya tidak akan sia-sia. “Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia” (1Kor. 15:58)

Bapa, jadikanlah kami pelayan-Mu yang setia, meninggalkan ego kami dan mempunyai roh melayani sesama tanpa pamrih. Bantu kami agar tetap mampu menghayati luhurnya nilai pelayanan di dalam perwujudan iman yang konkret di hidup kami. Jauhkan kami dari keinginan untuk dilayani. Amin.

Mari kita melayani dan bukan minta dilayani! (HGR)

(Helen Romli – Ketua Komisi Penyebaran & Pemasaran Yayasan Lembaga Alkitab Indonesia)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Mendengarkan jeritan para migran: Semoga tangis saudara-saudari kita para imigran, korban kejahatan perdagangan manusia didengarkan, ditanggapi secara serius, dan ditindaklanjuti oleh semua pihak terkait. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Panggilan hidup bakti: Semoga para imam dan kaum religius mampu menjadikan hidupnya inspirasi dan kesaksian bagi kaum muda agar mereka terdorong untuk berani mengikuti panggilan menjadi imam dan hidup membiara. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami mempersembahkan kesediaan para Pelayan Pastoral dan Kader awam di Keuskupan agar semakin bersikap dan bertindak adil, dan menjadi cermin Keadilan Ilahi. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s