Sabda Bahagia – Bagian 5 (Mat 5:1-12)

Pesan Paus Fransiskus dalam Audiensi Umum 11 Maret 2020

 

Selamat pagi, Saudara-saudari yang terkasih!

Dalam Audiensi hari ini, kita terus merenungkan jalan kebahagiaan yang berkilau, yang telah diberikan Tuhan kepada kita dalam Sabda Bahagia, dan kita tiba pada Sabda Bahagia yang keempat: “Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan” (Mat 5:6).

Kita telah bertemu dengan miskin di hadapan Allah dan dukacita; sekarang kita dihadapkan dengan jenis kelemahan selanjutnya – yang berhubungan dengan lapar dan haus. Lapar dan haus adalah kebutuhan utama; keduanya berkenaan dengan bertahan hidup. Hal ini digarisbawahi: di sini bukan berkenaan dengan keinginan kelompok tertentu, tetapi berkenaan dengan kebutuhan hakiki dan sehari-hari, sebagai asupan. Namun, apa artinya lapar dan haus akan kebenaran? Kita tentu tidak membicarakan orang-orang yang ingin membalas dendam. Bahkan, dalam Sabda Bahagia sebelumnya, kita membicarakan kelemahlembutan. Ketidakadilan tentu saja melukai umat manusia; masyarakat manusia sangat membutuhkan kesetaraan, kebenaran dan keadilan sosial; kita ingat bahwa kejahatan yang diderita manusia di dunia menjamah hati Allah Bapa. Bapa macam apakah yang tidak akan menderita oleh kesengsaraan anak-anaknya? Kitab Suci berbicara tentang kesengsaraan orang miskin dan orang yang tertindas, di mana Allah tahu dan ikut serta. Setelah mendengarkan seruan penindasan yang ditimbulkan oleh anak-anak Israel – seperti yang diceritakan dalam Kitab Keluaran (bdk. 3:7-10) – Allah turun untuk menyelamatkan umat-Nya.

Namun, lapar dan haus akan kebenaran yang dikatakan Tuhan kepada kita masih lebih mendalam ketimbang kebutuhan akan keadilan manusia yang masuk akal yang dimiliki setiap orang di dalam hatinya. Dalam “Khotbah di Bukit” yang sama, lebih jauh, Yesus berbicara tentang keadilan yang jauh lebih besar ketimbang hak asasi manusia atau kesempurnaan pribadi, dengan mengatakan, ”Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga” (Mat 5:20). Dan inilah kebenaran yang berasal dari Allah (bdk. 1 Kor 1:30). Kita menemukan terungkap dalam Kitab Suci kehausan yang lebih mendalam ketimbang kehausan fisik, yang merupakan suatu keinginan yang diletakkan pada akar keberadaan kita. Sebuah Mazmur mengatakan: “Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair” (Mzm 63:2). Para Bapa Gereja berbicara tentang kegelisahan yang bersemayam dalam hati manusia. Santo Agustinus berkata, “Engkau telah menciptakan aku demi diri-Mu, ya Tuhan, dan hati kami gelisah hingga ia bersemayam di dalam Dikau”.[1] Ada kehausan batin, kelaparan batin, suatu kegelisahan …

Dalam setiap hati, bahkan dalam diri orang yang paling jahat sekalipun dan jauh dari kebaikan, tersembunyi kerinduan akan terang, bahkan jika hatinya berada di bawah puing-puing tipu daya dan kesalahan, tetapi senantiasa ada rasa haus akan kebenaran dan kebaikan, yang merupakan rasa haus akan Allah. Roh Kuduslah yang membangkitkan rasa haus ini: Dialah air hidup yang telah membentuk debu kita, Dialah pencipta nafas yang telah memberikannya kehidupan.

Oleh karena itu, kepada semua orang Gereja diutus untuk memberitakan Sabda Allah, diresapi oleh Roh Kudus. Karena Injil Yesus Kristus adalah kebenaran terbesar yang dapat ditawarkan kepada hati manusia, yang memiliki kebutuhan hakiki akan hal itu, bahkan jika hati tidak menyadarinya.[2]

Misalnya, ketika seorang pria dan seorang perempuan menikah, mereka memiliki niat untuk melakukan sesuatu yang luar biasa dan indah, serta jika mereka memelihara kehausan ini, mereka akan selalu menemukan cara untuk melanjutkan, di tengah-tengah masalah, dengan bantuan rahmat. Kaum muda juga memiliki kehausan ini, dan mereka tidak boleh menghilangkannya! Melindungi dan memelihara dalam hati anak-anak yang menginginkan cinta, kelembutan, penerimaan, yang mereka ungkapkan dalam dorongan hati yang tulus dan berkilau, sangatlah penting.

Setiap orang dipanggil untuk menemukan kembali apa yang benar-benar diperhitungkan, apa yang benar-benar dibutuhkan, apa yang membuat kita hidup dengan baik dan, pada saat yang sama, apa yang nomor dua, dan apa yang bisa dilakukan dengan tenang tanpa orang lain.

Dalam Sabda Bahagia ini – lapar dan haus akan kebenaran – Yesus mengumumkan bahwa ada kehausan yang tidak akan mengecewakan; kehausan yang, jika disokong, akan dipuaskan dan akan selalu memiliki kesudahan yang baik, karena sesuai dengan hati Allah itu sendiri, dengan Roh-Nya, yang adalah kasih, dan juga benih yang ditaburkan oleh Roh Kudus di dalam hati kita. Semoga Tuhan memberikan kita rahmat ini: haus akan kebenaran yang sesungguhnya adalah keinginan untuk menemukannya, melihat Allah dan berbuat baik kepada orang lain.

[1]Pengakuan-pengakuan, 1, 1.5.
[2]bdk. Katekismus Gereja Katolik, 2017 : “Rahmat Roh Kudus memberi kepada kita kebenaran Allah. Roh mempersatukan kita dengan sengsara dan kebangkitan Kristus melalui iman dan Pembaptisan dan membuat kita mengambil bagian dalam kehidupan-Nya”.

 

[Salam untuk umat yang berbahasa Italia]

Pada saat ini, saya ingin menyapa semua orang sakit yang terkena virus dan yang menderita penyakit serta banyak orang yang menderita ketidakpastian berkenaan dengan penyakit mereka. Terima kasih saya yang tulus kepada aparat rumah sakit, dokter, perawat dan sukarelawan, yang pada saat yang sangat sulit ini berada di samping orang-orang yang menderita.

Saya berterima kasih kepada segenap umat Kristiani, segenap manusia yang berkehendak baik yang berdoa pada saat ini, seluruhnya bersatu, terlepas dari tradisi keagamaan yang mereka anut; terima kasih yang tulus untuk usaha ini. Namun, saya tidak suka kesengsaraan ini, wabah penyakit yang sangat kuat ini membuat kita melupakan rakyat Suriah yang malang yang sedang menderita di perbatasan antara Yunani dan Turki: sebuah rakyat yang menderita selama bertahun-tahun. Mereka harus melarikan diri dari perang, dari kelaparan, dari penyakit. Janganlah kita melupakan saudara-saudari kita, banyak anak yang sedang menderita di sana.

Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada Paroki Penjara “Due Palazzi”, Padua: terima kasih banyak. Kemarin saya menerima konsep Jalan Salib, yang telah kalian buat untuk Jumat Agung yang akan datang. Terima kasih karena telah bekerja bersama, seluruh komunitas penjara. Terima kasih atas kedalaman meditasi kalian.

Sekarang salam khusus tertuju kepada orang-orang muda, orang-orang lanjut usia, orang-orang sakit, dan para pengantin baru. Semoga kalian dapat menjalani masa Prapaskah ini dengan pandangan tertuju pada Yesus, yang menderita dan bangkit, menerima penghiburan dan kelemahlembutan yang berasal dari Roh-Nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s