Aku – Kamu – Mereka: Sama di Mata Tuhan!

Renungan Harian Misioner
Senin, 16 Maret 2020
Hari Biasa Pekan III Prapaskah
2Raj. 5:1-15a; Mzm. 42:2,3; 43:3,4; Luk. 4:24-30

Bacaan pertama hari ini mengisahkan penyembuhan seorang panglima raja Aram, Naaman, yang menderita sakit kusta. Sakit apalagi kusta pada zaman itu dianggap sebagai kutukan. Bayangkan betapa frustasinya Naaman, dia bukan sembarang tentara tapi seorang pahlawan tentara. Bahkan dikatakan di dalam kitab 2Raja-Raja bahwa Naaman adalah seorang yang terpandang di hadapan tuannya (raja Aram) dan sangat disayangi.

Kisah penyembuhan Naaman berawal dari seorang kecil baik perawakan maupun status sosialnya, yang mungkin tidak akan kita ingat lagi selesai kita membaca kitab ini. Ada seorang anak perempuan Israel tertawan, pelayan isteri Naaman. Dari mulut anak perempuan budak inilah kisah penyembuhan Naaman itu berawal. Ia yang memberitakan mengenai keberadaan nabi di Samaria (Elisa). Naaman pun akhirnya sembuh setelah berjumpa dengan Elisa dan melakukan apa yang diperintahkan Elisa padanya.

Mari kita perhatikan tokoh-tokoh aktif di dalam kisah Naaman ini. Ada anak perempuan Israel – identitasnya: tertawan, pelayan. Ada dua orang raja: raja Aram dan raja Israel. Ada Naaman -identitasnya: panglima raja Aram, pahlawan, terpandang dan disayang raja. Lalu ada Elisa – identitasnya: nabi di Samaria. Yang terakhir, ada pegawai-pegawai Naaman – identitas mereka: supporter Naaman.

Berita pertama-tama datang dari mulut seorang anak perempuan, tokoh yang memegang peranan penting namun hadir dalam sosok yang jauh dari penting. Berita kemudian diteruskan dari istri ke suami lalu ke raja yang kemudian menulis surat kepada raja lainnya. Di titik ini hampir terjadi ending yang tidak diinginkan. Raja Israel karena cemas langsung berpikir negatif, mencurigai niat raja Aram hanyalah untuk mencari gara-gara dengannya. Namun, untunglah nabi Allah mendengar berita yang entah siapa sebarkan dan mengirim pesan untuk memanggil Naaman kepadanya. Nabi ini yang akan menyelesaikan misi Allah pada Naaman. Misi ini pun hampir gagal lagi, saat Naaman tersinggung karena Elisa tidak menemuinya secara langsung, hanya mengirim pesan melalui suruhannya. Untunglah, ada para pegawai Naaman yang mau membujuknya. Dengan merendahkan hatinya serta menaati perkataan sang nabi, akhirnya Naaman pun sembuh.

Apa yang bisa kita tarik dari kisah tersebut? Pertama, Tuhanlah yang memilih siapa yang akan menjadi messenger-Nya untuk mewujudkan misi-Nya. Bisa siapa saja. Lihat anak perempuan tertawan itu, dialah yang dipercayakan memegang kunci pertama, membawa kabar sukacita. Kedua, penyembuhan dan kasih dari Allah itu tidak pandang bulu, bangsa, ras, suku maupun derajat. Elisa seorang nabi di Samaria, menjalankan misi cinta dari Allah untuk Naaman, panglima raja Aram. Allah menawarkan kasih-Nya dan keselamatan kepada setiap orang, karena semua manusia adalah ciptaan-Nya. Hanya manusialah yang membuat sekat, batas, dan menetapkan identitas sosial masing-masing berdasarkan kebangsaan, suku, kepercayaan, dsbnya. Ketiga, Allah yang memilih, kepada siapa Dia hendak memberikan rahmat-Nya. Para messenger-Nya dituntut “taat” dan menyadari penuh ini bukanlah misi personal. Dan misi Allah bukanlah aksi dari satu orang saja, tetapi melibatkan kerjasama banyak pihak. Yang terakhir, kesembuhan hanya bisa diperoleh dengan kerendahan hati serta ketaatan akan perintah Allah.

Mari kita terus berusaha membuka hati dan pikiran, untuk lebih memahami misi Allah dan menjalankan peran yang dipercayakan-Nya kepada kita masing-masing dengan sebaik-baiknya.

(Angel – Biro Nasional Karya Kepausan Indonesia)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Umat Katolik di Cina: Semoga umat Katolik di Cina bertahan dalam keteguhan iman pada Injil dan bertumbuh dalam persatuan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Pasar tradisional: Semoga di tengah merebaknya mal-mal modern, pasar-pasar tradisional tetap bisa berfungsi dan memperoleh hak hidupnya sehingga pedagang-pedagang kecil tetap bisa menjalankan aktivitas ekonominya. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami menghunjukkan Masa Prapaskah: untuk menjadi masa Penyelenggaraan Latihan Keadilan bagi seluruh umat Keuskupan kami. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s