Teruslah Berjuang Hai Para Pejuang Kebenaran!

Renungan Harian Misioner
Jumat, 27 Maret 2020
P. S. Rupertus, S. Nikodemus
Keb. 2:1a,12-22; Mzm. 34:17-18,19-20,21,23; Yoh. 7:1-2,10,25-30

Ada dua tokoh publik di Indonesia yang memiliki rekam jejak politik yang bisa dikatakan bersih. Mereka adalah Jokowi dan Ahok. Namun banyak berita jelek di media sosial yang sering saya jumpai dan rata-rata datang dari lawan politik mereka. Bahkan saat ini, begitu pilu rasanya membaca komentar-komentar yang tidak pantas dari netizen tentang kematian dari Ibunda Bapak Jokowi dua hari yang lalu, padahal Jokowi masih tengah terus berjuang untuk mengurus Indonesia di tengah pendemi global Covid-19 ini. Begitu pula terjadi pada Ahok, tokoh kontroversial yang beritanya sering muncul di media. Setelah bebas dari penjara, setelah ia menjalani seluruh keputusan pengadilan, Ahok kembali didemo hanya karena pengangkatannya menjadi Komisaris Pertamina. Apalagi kemudian muncul isu dirinya akan menjadi kepala pembangunan ibukota baru di Kalimantan.

Setidaknya ada dua kesamaan dari tokoh ini yang selalu dijadikan topik lawan-lawan politiknya, yaitu mereka datang bukan dari keluarga dengan latar belakang garis politik. Jokowi difitnah berasal dari keluarga keturunan PKI, diremehkan karena beliau hanya pengusaha mebel dan dicela bahwa gaya pidatonya “mencla-mencle”. Sedangkan Ahok selalu diserang sebagai non Muslim bahkan sering disebut kafir karena ia keturunan Cina dan dituding berpembawaan kasar. Latar belakang seseorang datang dari keluarga mana sering kemudian menjadi penyebab dan tolak ukur apakah orang tersebut dapat diterima di masyarakat. Sejak zaman Yesus pun dan bahkan Yesus sendiri mengalami hal tersebut di kampung halamannya, di sekeliling orang-orang yang mengenal DIA.

Yesus yang penuh dengan Roh dan Hikmat, sekalipun berbicara tentang kebenaran tetap ditolak karena orang-orang mengenal-Nya bukan seperti konsep Mesias yang diharapkan datang sebagai raja yang luar biasa, sebaliknya Ia datang dari kalangan keluarga miskin dan sederhana. “Tetapi tentang orang ini kita tahu dari mana asal-Nya, padahal bila Kristus datang, tidak ada seorang pun yang tahu dari mana asal-Nya” (Yoh. 7:27). Mengapa Yesus ditolak? Apakah karena Yesus seorang anak tukang kayu? Rasanya bukan hanya karena hal ini saja. Yesus menyerukan kebenaran yang utama yang menyinggung dan menyudutkan banyak Kaum Farisi dan Ahli-Ahli Taurat yang selama ini menghidupi dan menjalankan hukum Taurat hanya di luar saja. Yesus mengritik cara berdoa mereka yang hanya mau dilihat dan dipuji-puji banyak orang. Yesus mengritik cara mereka memberi sedekah agar diakui dan diberi tempat terhormat. Yesus juga mengritik cara mereka berpuasa yang sengaja mengubah air muka mereka agar semua orang tahu bahwa mereka sedang berpuasa. Maka seperti orang fasik menurut Kitab Kebijaksanaan yang kita baca hari ini, pikiran orang fasik kiranya demikian, “Marilah kita menghadang orang yang baik, sebab bagi kita ia menjadi gangguan serta menentang pekerjaan kita. Pelanggaran-pelanggaran hukum dituduhkannya kepada kita, dan kepada kita dipersalahkannya dosa-dosa terhadap pendidikan kita” (Keb. 2:12).

Ketika Ahok mulai memangkas anggaran menjadi lebih riil, mengawasi pajak penghasilan, dan menggusur tempat-tempat yang selama ini dikuasai oleh kelompok-kelompok tertentu maka mulailah Ahok mendapat banyak perlawanan dari orang-orang yang selama ini mendapat ‘sesuatu’ dari apa yang sudah Ahok singkirkan.

Saudara dan saudariku, memperjuangkan kebenaran tidaklah mudah. Kita akan hanya selalu berhadapan dengan orang-orang fasik yang akan selalu berencana menjatuhkan bahkan membunuh kita, “Hendaklah kita menjatuhkan hukuman mati yang keji terhadapnya, sebab menurut katanya ia pasti mendapat pertolongan” (Keb. 2:20). Atau mungkin saja kitalah yang tanpa sadar seperti orang-orang fasik itu. Bila mendapat kritikan atas perilaku dosa-dosa kita, kita menjadi buta hati dan tidak mampu melihat kebijaksanaan Allah di dalamnya. Kita mulai menyudutkan orang-orang dan menyerang mereka dari latar belakangnya, memandang remeh dan rendah orang-orang dari apa yang dimilikinya dan berusaha menjatuhkan orang-orang yang menghalangi jalan-jalan kita. Mari kita semakin mengenal Allah melalui Yesus yang datang dari Allah, “Aku kenal Dia, sebab Aku datang dari Dia, dan Dialah yang mengutus Aku” (Yoh. 7:29) Dengan semakin mengenal-Nya maka kita pun akan semakin bijaksana mengenali segala jalan-jalan-Nya.

(RD. Hendrik Palimbo – Dosen STIKPAR Toraja, Keuskupan Agung Makassar)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Umat Katolik di Cina: Semoga umat Katolik di Cina bertahan dalam keteguhan iman pada Injil dan bertumbuh dalam persatuan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Pasar tradisional: Semoga di tengah merebaknya mal-mal modern, pasar-pasar tradisional tetap bisa berfungsi dan memperoleh hak hidupnya sehingga pedagang-pedagang kecil tetap bisa menjalankan aktivitas ekonominya. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami menghunjukkan Masa Prapaskah: untuk menjadi masa Penyelenggaraan Latihan Keadilan bagi seluruh umat Keuskupan kami. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s