Dapatkah Derita Kita Punya Makna?

Renungan Harian Misioner
Minggu, 05 April 2020
Hari Minggu Palma
Yes. 50:4-7; Mzm. 22:8-9,17-18a,19-20,23-24; Flp. 2:6-11; Mat. 26:14 – 27:66 (panjang) atau Mat. 27:11-54 (pendek)

Saya selalu terpesona dengan “keanehan” Liturgi Minggu Palma. Diawali dengan Perarakan yang meriah, Gereja mengenang Yesus yang diarak masuk ke Yerusalem. Dielu-elukan sebagai Raja Mesias, Yesus diyakini akan segera menegakkan kejayaan kerajaan Daud, leluhur-Nya. Jangan lupa, Yesus sudah amat kondang di seluruh Galilea. Sekarang Dia menuju ibukota, bersama ribuan massa-Nya yang berziarah Paskah. Antusiasme rakyat-jelata yang tertindas Roma mulai memuncak. Api revolusi kaum nasionalis mendapat kesempatan emas untuk meledak. Kebanggaan para murid-Nya pun semakin merebak! Semuanya itu berbaur dan bermuara di ibukota: “Yerusalem, Yerusalem, Lihatlah Rajamu!”

Akan tetapi, setelah memasuki Gereja, suasana dan nada Liturgi berubah total! Suasana suka-cita dan kejayaan, berganti dengan nuansa derita, saat “kisah sengsara Tuhan” dibacakan. Liturgi sepertinya tidak ingin kita berlama-lama dalam euforia tentang Kristus Raja-jaya. Yesus bukanlah Raja ala-dunia: yang mau selalu menang dan membabat semua lawan. Bacaan Misa langsung menampilkan figur Sang Hamba TUHAN (Yes. 50:4-7). Dalam situasi kelam dan menderita di Pembuangan, sang Nabi ingin memberi secercah harapan. Kata-kata-Nya yang fasih tentu menghibur kaum letih-lesu, tetapi juga membangkitkan amarah para elit dan penguasa. Namun Dia tidak mundur. Dia hanya taat mendengarkan dan menyuarakan kehendak Allah. Karena itu, Dia rela dipukul, dinista dan diludahi. Tetapi Dia yakin akan pertolongan Allah. Dia yakin bahwa Dia tidak akan dipermalukan, karena Allah akan membenarkan Dia di depan para lawan-Nya! Figur Hamba TUHAN ini membantu kita memahami kisah-sengsara Yesus. Paulus merumuskan inti dan makna kisah itu dalam madah terkenal: Kristus rela “menghampakan diri” dan menjadi manusia yang taat sampai mati. Bukan mati ala pahlawan, melainkan mati sebagai kriminal Romawi, kematian paling hina di salib. Akan tetapi, justru karena merendahkan-diri itulah, maka Allah sangat meninggikan dan mengagungkan Dia (Fil. 2:6-11).

Memasuki Pekan Suci, Gereja mengajak kita merenungkan pertanyaan dasariah yang selalu aktual: dapatkah penderitaan manusia mempunyai makna? Tanpa iman, jawabannya sudah jelas: penderitaan itu tidak bermakna! Dalam iman kepada Yesus sang Raja dan Hamba, barulah semua derita kita bermakna. Bukankah Dia sendiri meraja dengan berhamba, menghamba sehingga meraja? Dia yakin dan percaya bahwa Bapa akan membenarkan Hamba-Nya yang benar! Yang dipersalahkan manusia, akan dibenarkan Allah. Inilah kabar-gembira di Minggu Palma. Di dunia ini, tidak ada jaminan bahwa hidup kita bebas-masalah dan tanpa-derita. Tidak ada jaminan, niat baik kita dihargai dan tidak dicela. Tidak ada jaminan, cinta tulus kita tidak dikhianati. Tidak ada jaminan, semua rencana indah kita akan berakhir indah pula. Tidak ada jaminan, karya amal-kasih kita akan bebas dari prasangka dan curiga. Hanya ada satu-satunya jaminan: Bapa di Surga tetap setia. Dia pasti akan menolong dan membenarkan Anda dan Saya. Maka, sambil melambaikan daun palma, hendaknya kita mengingat pesan Sang Hamba, bahwa aneka derita dan penghinaan tidak akan “menggoncangkan dan mempermalukan aku”. Hosana!

(Hortensio Mandaru – Lembaga Alkitab Indonesia Jakarta)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Menolong mereka yang kecanduan: Semoga saudara-saudara kita yang menderita karena kecanduan, dalam bentuk apapun, bisa mendapatkan pertolongan dan pendampingan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Membentuk budaya membaca: Semoga Gereja berkenan mencari sarana-sarana konkret untuk melatih keluarga-keluarga Katolik dalam menghidupi dan meningkatkan budaya literasi baca. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Berkatilah umat di Keuskupan kami: agar para wanita dan anak mengalami dan melaksanakan keadilan dalam keluarga Gereja dan masyarakat. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s