Haram atau Halal? Biar ALLAH yang Tentukan!

Renungan Harian Misioner
Senin, 04 Mei 2020
P. S. Gemma Galgani, S. Rachel
Kis. 11:1-18; Mzm. 42:2-3; 43:3,4; Yoh. 10:11-18

Beberapa bulan terakhir ini mungkin sudah tidak heran lagi mendengar keluhan bernada mirip seperti yang diungkapkan pemazmur hari ini. Sebuah kerinduan akan Allah yang hidup yang timbul dari dalam jiwa yang seakan-akan terpaksa dipisahkan dari seseorang yang dikasihi tanpa sempat mengucapkan salam perpisahan dalam tanya yang tanpa kejelasan akan jawabnya: “…kapan aku boleh datang melihat Allah lagi dalam Ekaristi?” (Mzm. 42:2-3). Situasi semakin membuat tidak nyaman ketika di tengah pandemi ini kita dihadapkan dengan orang-orang yang masih saja membedakan-bedakan antara “aku golongan orang bersunat dan kamu bukan golongan orang-orang bersunat!” Seolah-olah Allah hanya menjawab kerinduan bangsa pilihan saja, kelompok yang ditandainya dengan sunat sebagai ikatan perjanjian akan beroleh keselamatan daripada-Nya. Sadar atau tidak, kita berhadapan dengan kenyataan bahwa masih terjadi ‘perang’ antara pemuka kelompok agama satu dengan pemuka kelompok lainnya, yang berlomba-lomba menyatakan bahwa dirinya menawarkan seorang gembala yang baik dan pantas dituruti. Sebuah ironi, seakan-akan Allah hanya milik pribadi kelompoknya sendiri dan tidak rela ada orang di luar kelompoknya yang juga mendengarkan Firman Allah dan beroleh keselamatan dari kehadiran Allah (Kis. 11:1-3).

Gereja segera menyikapi situasi luar biasa ini dengan memberikan pengecualian untuk mengadakan Ekaristi online. Dan kenyataannya sebagian orang masih berpikir bahwa lewat online kita tidak bisa mengalami kehadiran Kristus, sehingga seolah-olah hanya kalau mereka datang ke Gereja saja baru dapat menyatu dengan-Nya dan ‘mengharamkan’ misa online itu. Ini merupakan jalan pikiran yang sama dengan kalangan tertentu di masa Gereja perdana, dan hari ini kita dituntut agar dapat menjadi teladan ‘orang bersunat’ yang sesungguhnya, seperti ajaran Petrus.

Petrus seorang yang keras hati dan temperamental telah berubah menjadi seorang pribadi yang bijak dalam menghadapi protes jemaat di dalam komunitasnya. Ia mengajarkan kepada kita, bahwa sebuah perselisihan pendapat seperti ini perlu dijelaskan dengan terperinci dalam sebuah kesaksian panggilan yang akan memperlihatkan kehendak Allah. Secara berurutan ia bercerita bahwa sesungguhnya ia pun tadinya tidak dapat mengerti akan panggilan Allah dan ia selama ini taat dalam tradisi atau kebiasaan kelompoknya. Saat itu ia pun merasa bahwa Allah mengajaknya melakukan yang tidak sesuai dengan keyahudiannya. Lalu dengan kuasa Ilahi yang melingkupi rohnya, ia yang telah sadar dan bertobat perlahan-lahan menjelaskan apa maksud Allah dengan perkataan-Nya: “Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram!” Lewat pengalaman imannya dalam penampakan antara yang halal dan yang haram selama di Yope, ia mengajar jemaat bahwa karya Allah tidak dapat dibatasi oleh suatu tempat dan adat istiadat saja, melainkan bahwa sekarang Allah menghendaki adanya satu meja persekutuan antara jemaat Yahudi dan non-Yahudi, golongan bersunat maupun tidak bersunat (Kis. 11:4-18).

Dengan mohon penyertaaan Roh Kudus, kita pun dapat membawa mereka yang belum yakin akan keputusan khusus Gereja ini, untuk bertobat dan percaya bahwa dengan cara-Nya sendiri, Allah akan menuntun kita semua domba-Nya baik dari kandang yang sama maupun kandang yang lain untuk menjadi satu kawanan dan satu Gembala. Dan Kristus itulah Gembala yang baik, yang menyerahkan nyawa-Nya bagi kita semua. Dia akan menuntun kita ke gunung tempat kediaman-Nya yang kudus untuk bersama-sama pergi ke mezbah-Nya menghadap Allah dengan sukacita, kegembiraaan dan ucapan syukur (Yoh. 10:14-17, Mzm. 43:3-4). (ek)

(Antonius Ekahananta – Awam Katolik Pengajar Misi Evangelisasi)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Kesetiaan para diakon: Semoga para diakon, dengan kesetiaannya pada pelayanan Sabda Tuhan dan orang miskin, bisa menjadi simbol Gereja yang inspiratif dan menggugah semangat umat. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Maria Bunda Keteguhan Hati: Semoga di tengah kebingungan dan ketidakpastian, umat Katolik mau meneladan Bunda Maria sebagai Bunda Keteguhan Hati. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Bunda Maria menyertai kami, untuk dipersatukan dengan Sang Putera dalam mengupayakan keadilan bagi seluruh bangsa kami. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s