PESAN BAPA SUCI Untuk Karya Kepausan (Pontifical Mission Societies)

1200px-Insigne_Francisci-sml-web

Ketika mereka telah berkumpul, mereka bertanya kepada-Nya, “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” Jawab-Nya, “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka (Kis. 1:6-9).

Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah. Mereka pun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya (Mrk. 16:19-20).

Lalu Yesus membawa mereka ke luar kota sampai dekat Betania. Di situ Ia mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka. Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga. Mereka sujud menyembah kepada-Nya, lalu mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita. Mereka senantiasa berada di dalam Bait Allah dan memuliakan Allah (Luk. 24:50-53).

*****

Tahun ini saya telah memutuskan untuk ikut ambil bagian dalam Sidang Umum Tahunan Anda pada Hari Raya Kenaikan Tuhan (Kamis, 21 Mei 2020). Sidang ini kemudian dibatalkan karena pandemi yang mengenai kita semua. Sekarang saya mengirimkan pesan ini untuk berbagi apa yang ingin saya sampaikan kepada Anda secara personal. Rasa saya, Hari Raya orang Kristiani, yang saat ini ditandai dengan apa yang sedang kita alami ini, menjadi sumber permenungan bagi perjalanan dan misi yang kita dan seluruh Gereja emban.

Kita merayakan Kenaikan Tuhan sebagai pesta, tetapi juga mengenangkan perpisahan Yesus dengan para murid dan dunia ini. Tuhan naik ke sorga dan Liturgi Ritus Timur mengisahkan ketakjuban para malaikat menyaksikan Seorang yang dalam kedagingannya duduk di sebelah kanan Bapa. Walaupun demikian, sementara Kristus ada di puncak kenaikan ke sorga, para murid, yang telah menyaksikan kebangkitan-Nya, masih juga tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Kristus membawa Kerajaan-Nya ke pemenuhannya dan para murid masih juga memahaminya dari sudut pandang mereka sendiri. Mereka bertanya kepada-Nya apakah Ia akan memulihkan kerajaan Israel (bdk. Kis. 1:6). Namun, ketika Kristus meninggalkan mereka, alih-alih sedih, para murid justru kembali ke Yerusalem “dengan sangat bersukacita”, seperti dikisahkan oleh penginjil Lukas (bdk. 24:52). Sungguh aneh jika tidak terjadi sesuatu tentang hal ini. Memang, Yesus telah menjanjikan Roh Kudus, yang akan turun atas mereka pada Pentekosta. Peristiwa ini merupakan mukjizat yang mengubah segalanya. Mereka lebih percaya diri ketika mereka mempercayakan segalanya kepada Tuhan. Mereka dipenuhi oleh kegembiraan. Di samping itu, kegembiraan tersebut adalah kepenuhan penghiburan, kepenuhan kehadiran Tuhan.

Paulus menulis surat kepada jemaat Galatia bahwa kepenuhan sukacita rasul bukan pengaruh perasaan senang yang membuatnya gembira. Kepenuhan sukacita tersebut adalah limpahan sukacita yang hanya dapat dialami sebagai buah dan rahmat Roh Kudus (bdk. 5:22). Menerima sukacita Roh adalah rahmat. Di samping itu, kepenuhan sukacita adalah satu-satunya daya yang memampukan kita untuk mewartakan Injil dan beriman pada Tuhan. Iman berarti membawa kesaksian akan sukacita dari Tuhan. Sukacita seperti ini bukan hasil usaha kita sendiri.

Sebelum kenaikan-Nya ke sorga, Yesus berjanji kepada para murid-Nya bahwa Ia akan mengirim Roh, Penghibur. Dengan jalan ini, Ia juga mempercayakan karya kerasulan Gereja kepada Roh sepanjang waktu, sampai Ia datang kembali. Misteri Kenaikan Tuhan, bersama dengan pencurahan Roh pada Pentekosta, menandai misi Gereja yang tak terhapuskan: itulah karya Roh Kudus dan bukan buah pikiran dan karya kita. Ini adalah tindakan istimewa yang membuat karya misioner berbuah dan menjaganya dari kesombongan diri, apalagi godaan untuk menahan kedagingan Kristus, yang telah naik ke sorga, untuk maksud dan tujuan “klerikal” yang sempit.

Ketika karya dan daya hidup Roh Kudus yang sedang bekerja dalam misi Gereja tidak disadari, ini berarti bahwa ungkapan misioner yang bahkan dipilih dengan sangat cermat menjadi seperti “kata-kata bijak” yang bertujuan untuk memuliakan diri atau menyembunyikan kesepian batinnya sendiri.

Sukacita Injil

Keselamatan adalah perjumpaan dengan Yesus, yang mencintai dan mengampuni kita dengan mengirimkan Roh yang menghibur dan membela kita. Keselamatan bukan hasil prakarsa misioner kita atau juga bukan pembicaraan kita mengenai penjelmaan Sabda. Bagi kita masing-masing, keselamatan hanya dapat dialami dalam perjumpaan dengan Tuhan yang memanggil kita. Karena alasan ini, misteri kesukaan mulai dan hanya mulai dengan suatu ledakan sukacita dan syukur. Sukacita Injil adalah “sukacita yang besar” dari perempuan miskin yang pada Paskah pagi pergi ke kubur Kristus, menemukannya kosong, kemudian berjumpa dengan Yesus yang bangkit dan pulang ke rumah bercerita kepada yang lain (bdk. Mat. 28:8-10). Hanya karena kita telah dipilih dan dikhususkan kita dapat memberi kesaksian akan kemuliaan Kristus yang bangkit di hadapan seluruh dunia.

Dalam setiap konteks, para saksi adalah mereka yang menjamin apa yang orang lain telah kerjakan. Dalam arti ini, dan hanya dalam arti ini, kita dapat menjadi saksi Kristus dan Roh-Nya. Seperti diceritakan di akhir Injil Markus, setelah Kenaikan Tuhan para rasul dan para murid “pergi memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya” (16:20). Oleh Roh-Nya, Kristus memberikan kesaksian atas diri-Nya melalui karya-karya yang Ia kerjakan di dalam dan bersama kita. Seperti dijelaskan Santo Agustinus, Gereja tidak berdoa kepada Tuhan untuk meminta supaya iman diberikan kepada mereka yang tidak mengenal Kristus jika ia (Gereja) tidak percaya bahwa Allah sendiri yang mengarahkan dan menarik kehendak kita kepada diri-Nya. Gereja tidak akan membuat anak-anaknya berdoa kepada Tuhan untuk bertahan dalam iman akan Kristus jika ia (Gereja) tidak percaya bahwa Tuhan sendirilah yang memiliki hati kita. Memang, jika Gereja memohon pada-Nya untuk hal-hal ini, tetapi berpikir bahwa Gereja dapat memberi mereka kepada dirinya, itu berarti bahwa semua doanya adalah kata-kata kosong, rumus-rumus hafalan atau kata-kata hampa yang dipaksakan oleh kebiasaan gerejawi daripada doa yang sejati (bdk. On the gift of perseverance. To Prosper and Hilary, 23, 63).

Jika kita tidak menyadari bahwa iman adalah anugerah Allah, doa-doa yang dipanjatkan Gereja tidak akan bermakna. Doa-doa itu pun tidak mencerminkan hasrat yang tulus untuk kebahagiaan dan keselamatan manusia dan untuk mereka yang tidak mengenal Kristus yang bangkit, meski kita menghabiskan begitu banyak waktu untuk merancang pertobatan dunia ke Kristianitas.

Jika kita mengimani bahwa Roh Kudus menyalakan dan memelihara iman dalam hati kita, segalanya berubah. Rohlah yang menggerakkan dan menghidupkan misi Gereja, dengan menganugerahkan semua logat dan gaya masing-masing orang, yang membuat pewartaan Injil dan pengakuan iman Kristen berbeda dari bentuk-bentuk proselitisme politik, budaya, psikologis atau religius.

Saya memikirkan banyak wajah misi dalam Seruan Apostolik Evangelii Gaudium, dan di sini saya akan mengangkatnya kembali sebagian.

Daya tarik. Misteri Penebusan masuk dan terus bekerja di dunia melalui daya tarik yang dapat memikat hati para pria dan wanita karena karya penebusan itu tampak lebih mempesona daripada godaan yang menarik keegoisan yang merupakan buah dosa. Seperti Yesus katakan dalam Injil Yohanes, “Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku jika Bapa tidak mengirimnya kepada-Ku” (6:44). Gereja selalu bersikeras bahwa inilah alasan mengapa kita mengikuti Yesus dan mewartakan Injil-Nya: melalui kekuatan daya tarik yang ditempa oleh Kristus sendiri dan oleh Roh-Nya. Gereja, seperti dikatakan Paus Benediktus XVI, tumbuh di dunia melalui daya tarik dan bukan melalui proselitisme (bdk. Homili, Misa Inaugurasi Konferensi Para Uskup Amerika Latin dan Karibia V, Aparecida, 13 Mei 2007: AAS 99 [2007], 437). Santo Agustinus mengatakan bahwa Kristus menyatakan diri-Nya sendiri dengan mempesona kita. Di samping itu, Ia mengutip kidung Santa Perawan Maria, yang menyatakan bahwa semua terpikat pada apa yang memberikan kesenangan. Yesus tidak hanya meyakinkan kehendak kita, tetapi membangkitkan kesenangan kita (komentar mengenai Injil Yohanes, 26, 4). Jika seseorang mengikuti Yesus, gembira karena terpesona dengan-Nya, orang lain akan mencatatnya. Mereka bahkan takjub. Sukacita yang memancar dari mereka yang terpesona oleh Kristus dan oleh Roh-Nya adalah apa yang dapat membuat prakarsa misioner berbuah.

Syukur dan cuma-cuma. Sukacita mewartakan Injil selalu bersinar dari kenangan syukur. Para Rasul tidak pernah melupakan peristiwa saat Yesus menyentuh hati mereka: “Waktu itu kira-kira pukul empat” (Yoh. 1:39). Gereja bersinar setiap kali rasa syukur dinyatakan di dalamnya oleh inisiatif bebas Allah, karena pertama-tama “Ia mencintai kita” (1Yoh. 4:10) dan “hanya Allah lah yang memberi pertumbuhan” (1Kor. 3:7). Kesukaan Allah mencintai mengejutkan kita, dan kejutan bersifat tidak dapat dimiliki atau dipaksakan. Seseorang tidak bisa “perlu dikejutkan”. Hanya dalam hal ini, keajaiban rasa syukur, pemberian diri cuma-cuma dapat tumbuh mekar. Semangat misioner tidak dapat diperoleh semata-mata sebagai hasil pemikiran atau perhitungan manusiawi. Berada “dalam status misi” adalah cerminan rasa syukur. Aktivitas misi adalah tanggapan seseorang yang oleh rasa syukur dibuat taat pada Roh dan karena itu bebas. Tanpa pengakuan akan kesukaan Tuhan yang mendorong rasa syukur dalam diri kita, pengetahuan tentang kebenaran dan tentang Allah, yang menjadi tujuan dari upaya kita sendiri, pada kenyataannya akan menjadi “hukum yang tertulis mematikan” (bdk. 2Kor. 3:6), seperti ditunjukkan Santo Paulus dan Santo Agustinus. Sia-sia dan tak pantaslah untuk bersikeras menjalankan aktivitas misioner dan pewartaan Injil dengan rasa seolah-olah sebagai tugas yang mengikat atau semacam “kewajiban kontrak”, karena hanya dalam kebebasan rasa syukur seseorang dapat sungguh mengenal Tuhan.

Kerendahan hati. Karena kebenaran dan iman, kebahagiaan dan keselamatan bukan milik kita sendiri dan bukan tujuan yang dicapai dengan jasa-jasa kita sendiri, maka Injil Kristus hanya dapat diwartakan dengan kerendahan hati. Seseorang tidak dapat melayani misi Gereja dengan keangkuhan dan birokrasi, dengan menyalahpahami rahmat sakramen dan kata-kata bijak iman Kristen sebagai imbalan yang layak. Seseorang tidak bisa rendah hati sekedar dengan sopan-santun atau hasrat ingin tampil menarik. Kita rendah hati kalau mengikuti Kristus, yang mengatakan kepada para murid-Nya: “Belajarlah dari pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati” (Mat. 11:29). Santo Agustinus, yang bertanya mengapa setelah kebangkitan, Yesus membiarkan diri-Nya tampak oleh para murid-Nya dan bukan oleh mereka yang telah menyalibkan-Nya, menyimpulkan bahwa Yesus tidak ingin memberi kesan “menantang para pembunuhnya dalam aneka cara. Bagi Yesus, yang lebih penting adalah mengajarkan kerendahan hati kepada sahabat-sahabat-Nya, daripada mempertontonkan kebenaran di hadapan musuh-musuh-Nya” (Khotbah 284, 6).

Untuk memudahkan, bukan mempersulit. Ciri otentik yang lain dari karya misioner adalah meniru kesabaran Yesus, yang selalu memperlihatkan belas kasih kepada orang-orang sehingga mereka terus bertumbuh. Langkah kecil untuk maju di tengah-tengah besarnya keterbatasan manusiawi lebih menyenangkan Allah daripada langkah besar yang dibuat oleh mereka yang melewati hidup tanpa kesulitan besar. Hati seorang misionaris mengenal kondisi nyata umat, dengan aneka keterbatasan, dosa dan kelemahan mereka sehingga menjadi “yang lemah dari yang terlemah” (bdk. 1Kor. 9:22). “Terus berjalan” dalam misi untuk menjangkau yang pinggiran bukan berarti pengembaraan tanpa arah dan arti, seperti vendor-vendor yang frustrasi dan mengeluh bahwa orang-orang tidak tertarik pada barang dagangan mereka. Kadangkala ini berarti memperlambat langkah kita untuk memimpin orang yang masih di tepian. Terkadang ini juga berarti meniru bapa dalam perumpamaan anak yang hilang, yang membiarkan pintu terbuka dan memandang ke luar setiap hari sambil menunggu anaknya kembali (bdk. Luk. 15:20). Gereja bukan kantor bea cukai, dan orang yang ambil bagian dalam misi Gereja dipanggil bukan untuk memaksakan beban yang tidak perlu pada umat atau untuk membutuhkan program-program pembinaan yang diminta untuk menikmati apa yang Tuhan berikan dengan mudah, atau untuk membangun penghalang pada kehendak Yesus, yang berdoa bagi kita masing-masing dan ingin menyembuhkan serta menyelamatkan setiap orang.

Kedekatan dengan kehidupan yang “sedang berlangsung”. Yesus menjumpai para murid pertama di pantai danau Galilea saat mereka sedang bekerja. Ia tidak menjumpai mereka dalam sebuah pertemuan, pelatihan-workshop, atau tempat ibadah. Ini berarti bahwa pewartaan karya keselamatan Yesus menjangkau setiap orang di tempat mereka sedang berada dan di tengah-tengah hidup mereka yang sedang berlangsung. Di tengah-tengah kebutuhan, harapan dan masalah hidup sehari-hari, kita menemukan tempat di mana seseorang yang telah menyadari cinta Kristus dan menerima rahmat Roh Kudus dapat memberikan iman, harapan dan amal kasihnya kepada mereka yang memintanya. Dengan berjalan bersama dengan yang lain, bersama-sama setiap orang. Terutama mengingat masa di saat kita hidup, ini tidak ada hubungannya dengan merancang program pelatihan “yang spesial”, dengan menciptakan dunia yang paralel, atau merumuskan “slogan-slogan” yang semata-mata menggaungkan pemikiran dan kekhawatiran kita. Di tempat lain, saya telah berbicara tentang orang yang ada dalam Gereja yang dengan keras menyerukan bahwa “ini adalah masanya kaum awam”, sementara waktu tampak telah berhenti.

“Rasa Iman” (Sensus Fidei) Umat Allah. Ada satu realitas di dunia yang memiliki semacam “perasaan” akan Roh Kudus dan karya-karya-Nya. Ini adalah Umat Allah, yang dipanggil dan dicintai oleh Yesus, yang terus mencari-Nya di tengah-tengah kesulitan hidup mereka. Umat Allah meminta karunia Roh-Nya: mempercayakan harapan mereka pada doa dan tidak pernah menghibur anggapan diri mereka sendiri kecukupan. Umat Allah yang kudus dipersatukan dan diurapi oleh Tuhan, dan dalam keutamaan pengurapan ini disempurnakan “in credendo”, sebagaimana Tradisi Gereja mengajarkannya. Pekerjaan Roh Kudus melengkapi umat beriman dengan “insting” iman, rasa iman (sensus fidei), yang membantu mereka tidak keliru ketika mempercayai perihal Allah, meskipun mereka tidak tahu argumen-argumen dan rumus-rumus teologis yang menentukan karunia-karunia yang mereka alami. Misteri umat peziarah, yang dengan kesalehannya mengunjungi tempat-tempat peziarahan dan mempercayakan diri mereka kepada Yesus, Maria dan santo-santa, menarik dari ini dan menunjukkan bahwa ini inisiatif Allah yang bebas dan cuma-cuma, terlepas dari perencanaan pastoral.

Perhatian istimewa bagi orang kecil dan miskin. Gerakan hati misioner, jika turun dari Roh Kudus, menyatakan kesukaannya terhadap orang miskin dan lemah sebagai tanda dan cerminan keberpihakan Tuhan sendiri. Mereka yang secara langsung terlibat dengan prakarsa-prakarsa dan struktur-struktur misioner Gereja seharusnya tidak pernah membenarkan kurangnya perhatian bagi orang miskin dengan alasan, yang secara luas digunakan dalam lingkaran-lingkaran gerejani partikular, harus memfokuskan energi mereka pada prioritas-prioritas tertentu untuk misi. Bagi Gereja, keberpihakan pada orang miskin bukan optional.

Semua tuntutan dan pendekatan ini adalah bagian dari misi Gereja yang dibimbing oleh Roh Kudus. Normalnya, dalam bahasa dan khotbah gerejani, kebutuhan akan Roh Kudus sebagai sumber aktivitas misioner Gereja diakui dan diteguhkan. Namun pengakuan ini kadangkala dapat direduksi pada tipe “anggukan seremonial” pada Tritunggal Mahakudus, kata pengantar diskusi teologis dan rencana pastoral kita. Ada banyak situasi dalam Gereja di mana keunggulan rahmat kelihatan tidak lebih dari konsep teoritis atau rumusan abstrak. Alih-alih meninggalkan ruang untuk pekerjaan Roh Kudus, banyak prakarsa dan entitas yang terhubung dengan Gereja berakhir hanya mementingkan diri sendiri. Banyak kemapanan gerejawi, pada setiap level, tampak dibayangi oleh obsesi mempromosikan diri sendiri dan prakarsanya sendiri, seolah-olah hal itu merupakan arah dan tujuan misi mereka.

Sampai di sini, saya telah menegaskan kriteria dan titik berangkat bagi kegiatan misioner Gereja yang telah saya jelaskan secara terperinci dalam Seruan Apostolik Evangelii Gaudium. Saya telah mengerjakannya karena saya percaya bahwa bagi Karya Kepausan (PMS) bermanfaat dan berbuah – dan memang sungguh penting dan mendesak – untuk membicarakan kriteria dan anjuran-anjuran dalam tahap perjalanannya.

 

Karya Kepausan pada Saat Sekarang

Talenta untuk dikembangkan, godaan dan penyakit untuk dihindari

Dari mana kita seharusnya memikirkan masa kini dan masa depan Karya Kepausan (PMS)? Apa bobot mati yang berisiko membebani perjanalannya?

Identitas Karya Kepausan (PMS) memiliki ciri tertentu. Beberapa bersifat genetis, sedangkan yang lain telah berkembang selaras proses sejarah panjang dan sering diabaikan atau diterima begitu saja. Tetapi ciri-ciri ini dapat melindungi dan meningkatkan sumbangan “jaringan” ini pada misi universal Gereja.

Serikat-serikat Karya Kepausan secara spontan muncul dari semangat misioner umat beriman. Selalu ada hubungan mendalam antara serikat-serikat misi ini dengan rasa iman (sensus fidei) yang sempurna dalam kepercayaan Umat Allah yang setia.

Serikat-serikat Karya Kepausan, sejak permulaannya, telah bergerak di dua “jalur” atau dua saluran paralel, bahwa dalam kesederhanaannya selalu dekat di hati Umat Allah: yaitu doa dan amal kasih dalam bentuk sedekah yang “menyelamatkan dari kematian, dan membersihkan semua dosa” (Tob. 12:9), “cinta yang kuat” yang “menutupi segala dosa” (1Ptr. 4:8). Para pendiri Serikat-serikat Karya Kepausan, yang diawali Pauline Jaricot, tidak menciptakan doa dan karya kepada mana mereka mempercayakan harapan-harapan mereka untuk pewartaan Injil. Mereka hanya menariknya dari perbendaharaan tak terbatas dari gerak-gerik Umat Allah yang lazim dan biasa pada peziarahannya melewati sejarah.

Serikat-serikat Karya Kepausan, yang secara spontan muncul dari hidup Umat Allah, dalam konfigurasi mereka yang sederhana dan konkret diakui oleh Gereja Roma dan para Uskupnya, yang dalam abad terakhir berusaha untuk mengadopsi mereka sebagai ekspresi unik dari pelayanan mereka pada Gereja universal. Karenanya gelar “Kepausan” diberikan kepada Serikat-serikat ini. Sejak saat itu, Karya Kepausan (PMS) selalu menampakkan diri mereka sendiri menjadi sarana pelayanan dalam dukungan Gereja-gereja partikular untuk karya mewartakan Injil. Pada waktu yang sama, Karya Kepausan telah siap melayani Gereja sebagai bagian dari pelayanan universal yang dijalankan oleh Paus dan Gereja Roma, yang “memimpin dalam amal kasih”. Dalam jalan ini, melaksanakan karya mereka dan tanpa terlibat dalam perselisihan teologis yang rumit, Karya Kepausan (PMS) telah membantah klaim mereka yang, juga dalam lingkaran gerejani, secara keliru membandingkan kharisma dan institusi, dengan membaca relasi-relasi mereka melalui kacamata “dialektika prinsip-prinsip” yang keliru. Karena dalam Gereja bahkan unsur-unsur struktural yang permanen, seperti sakramen, imamat, dan suksesi apostolik terus-menerus akan diciptakan kembali oleh Roh Kudus dan bukan hanya realitas yang tersedia bagi Gereja (bdk. Card. J. Ratzinger, The Theological Locus of Ecclesial Movements, Pidato yang disampaikan pada Kongres Dunia mengenai Gerakan-gerakan Gerejani, Roma, 27-29 Mei 1998).

Serikat-serikat Karya Kepausan, sejak penyebaran awalnya, telah distrukturkan sebagai jaringan yang tersebarluas di seluruh Umat Allah, sepenuhnya berlabuh dan memang “imanen” dalam jaringan lembaga dan realitas yang sudah ada sebelumnya dalam hidup Gereja, seperti keuskupan, paroki, dan komunitas religius. Panggilan khusus orang-orang yang ditugaskan dalam Serikat Misi ini tidak pernah hidup atau diterima sebagai langkah alternatif, hubungan “eksternal” pada bentuk-bentuk biasa dari hidup Gereja partikular. Panggilan untuk berdoa dan mengumpulkan sumber daya bagi misi selalu telah dikerjakan sebagai pelayanan untuk komunio gerejani.

Serikat-serikat Karya Kepausan, yang menjadi jaringan yang tersebar di seluruh dunia, mencerminkan aneka logat-gaya, situasi, masalah, dan anugerah yang mencirikan hidup Gereja di berbagai belahan dunia. Pluralitas ini menjadi perlindungan melawan homogenisasi ideologis dan unilaterilisme budaya. Dalam arti ini, Karya Kepausan (PMS) memantulkan misteri universalitas Gereja, di mana gencarnya karya Roh Kudus menciptakan keselarasan dari suara-suara yang berbeda, bahkan sebagai Uskup Roma, dalam pelayanan amal kasih, yang dilakukan juga melalui Serikat-serikat Karya Kepausan, penjaga kesatuan iman.

Semua karakteristik yang dilukiskan di atas dapat membantu Karya Kepausan (PMS) dan banyak lembaga gerejani yang lain untuk menghindari perangkap dan penyakit tertentu dalam perjalanan mereka. Untuk itu, biarkan saya menyampaikannya di sini.

Perangkap-perangkap yang harus dihindari

Mementingkan diri sendiri. Organisasi dan agen Gereja, terlepas dari maksud baik anggotanya, kadangkala akhirnya berbalik pada diri mereka sendiri, mencurahkan energi dan perhatian terutama untuk mempromosikan diri mereka sendiri dan mengiklankan prakarsa-prakarsa mereka sendiri. Beberapa tampak dikuasai oleh obsesi untuk terus-menerus menegaskan kembali kepentingan mereka sendiri dan lingkungan penguasaan di dalam Gereja, di bawah kedok meluncurkan kembali misi mereka. Dengan cara ini, seperti Kardinal Joseph Ratzinger katakan, mereka dapat menumbuhkan ide menyesatkan bahwa seseorang entah bagaimana lebih Kristen jika dia sibuk dengan struktur intra-gerejani, sedangkan dalam kenyataannya hampir semua orang yang dibaptis adalah kehidupan iman, harapan dan amal kasih sehari-hari, tanpa pernah ambil bagian dalam komisi-komisi Gereja atau prihatin dengan kabar terbaru tentang politik gerejani (bdk. Una compagnia sempre riformanda, Pidato pada Pertemuan IX di Rimini, 1 September 1990).

Mengendalikan kecemasan. Lembaga dan perwakilan kadang-kadang bermaksud membantu komunitas-komunitas gerejani dengan memberdayakan karunia-karunia yang dianugerahkan Roh Kudus, namun seiring waktu mereka berkeinginan untuk melakukan supremasi dan mengendalikan komunitas yang seharusnya mereka layani. Perilaku ini hampir selalu disertai oleh klaim bahwa mereka sedang menjalankan peran “pengawas” yang dipanggil untuk menentukan legitimasi kelompok-kelompok lain. Mereka bertindak seolah-olah Gereja adalah hasil perhitungan, rencana, persetujuan dan keputusan mereka.

Elitisme. Perasaan elitis, gagasan tak terucap tentang menjadi bagian dari aristokrasi, kadang-kadang berlaku di antara mereka yang merupakan bagian dari kelompok dan lembaga yang terorganisir dalam Gereja: kelas superior spesialis yang berusaha untuk meningkatkan pengaruh mereka sendiri dalam kolusi atau persaingan dengan kaum elite gerejani yang lain, dan melatih anggota mereka menurut gagasan aktivisme sekular atau kompetensi teknis-profesional, tetapi selalu dengan tujuan utama mempromosikan previlegi oligarki mereka sendiri.

Menutup diri dari orang-orang. Godaan kaum elite dalam beberapa organisasi yang terhubung dengan Gereja kadang-kadang dapat disertai oleh sentimen superioritas dan intoleran terhadap yang belum baptis atau terhadap umat Allah yang menghadiri paroki dan mengunjungi tempat-tempat peziarahan, tetapi bukan “aktivis” yang sibuk dalam organisasi Katolik. Umat Allah dipandang sebagai yang malas misa, selalu perlu dibangkitkan dan digerakkan melalui “peningkatan kesadaran” yang terdiri dari argumen, permohonan dan ajaran. Seolah-olah kepastian iman adalah buah hasil khotbah persuasif atau metode pelatihan.

Abstraksi. Sekali mereka mementingkan diri sendiri, lembaga dan entitas yang terhubung dengan Gereja kehilangan kontak dengan realitas dan menjadi mangsa abstraksi. Mereka perlu memperbanyak contoh rencana strategis untuk menghasilkan proyek dan pedoman yang hanya berfungsi sebagai sarana promosi diri mereka. Mereka mengambil masalah-masalah dan membedahnya dalam laboratorium intelektual di mana segala sesuatu telah dijinakkan dan dipandang melalui kacamata ideologi mereka. Segalanya, bahkan referensi iman atau daya tarik verbal pada Yesus dan Roh Kudus, pernah diambil di luar konteks yang tepat, dengan demikian dapat berakhir kaku dan tidak nyata.

Fungsionalisme. Mementingkan diri sendiri dan organisasi elit, bahkan dalam Gereja, sering berakhir dengan mempertaruhkan segalanya pada tiruan model sekuler dari efisiensi duniawi, yang berakar dalam persaingan, entah ekonomi atau pun sosial. Memilih fungsionalisme memberi ilusi untuk mampu “menyelesaikan masalah” secara seimbang, dengan mengendalikan berbagai hal, memaksimalkan relevansi sendiri, dan meningkatkan manajemen setiap hari dari struktur yang sudah ada. Namun, seperti sudah saya sampaikan pada Sidang Umum Karya Kepausan 2016, Gereja yang takut mempercayakan dirinya sendiri pada rahmat Kristus dan memusatkan perhatian pada efisiensi birokrasinya sudah mati, bahkan jika struktur dan program yang mendukung minat klerus atau awam “mementingkan diri sendiri” selama berabad-abad.

Rekomendasi untuk perjalanan selanjutnya

Dengan memandang saat sekarang ini dan mengarahkan ke masa depan, serta mempertimbangkan sumber-sumber yang dibutuhkan bagi Karya Kepausan (PMS) untuk mengatasi perangkap-perangkap perjalanan dan bergerak maju, saya ingin memberikan beberapa saran sebagai bantuan untuk penegasan (discernment) Anda.

  1. Untuk yang terbaik, dan tanpa spekulasi yang tak semestinya tentang masa depan, pertahankan atau pulihkan peran Karya Kepausan (PMS) sebagai bagian dari Umat Allah yang lebih luas dari mana Karya Kepausan (PMS) muncul. Akan terbukti bermanfaat untuk mencari “pembenaman” yang lebih besar dalam realitas kehidupan orang-orang. Mengikuti Yesus berarti keluar dari persoalan dan perhatian kita sendiri. Itu akan bermanfaat untuk masuk ke dalam lingkungan dan kondisi nyata, sementara berusaha untuk mengintegrasikan kembali efek tindakan kapiler dan kontak Karya Kepausan dalam jaringan lembaga Gereja yang lebih besar (keuskupan, paroki, komunitas, dan kelompok). Dengan mengutamakan kehadiran khusus Anda dalam Umat Allah, dengan titik terang dan kesulitannya, Anda dapat lebih baik menghindari perangkap abstraksi. Orang harus menyediakan jawaban pada pertanyaan riil dan bukan hanya merumuskan dan memperbanyak permohonan. Mungkin kontak konkret dengan situasi hidup yang nyata, dan bukan hanya diskusi dalam ruang diskusi atau analisis teoritis dinamika internal kita sendiri, akan menurunkan pencerahan yang berguna untuk perubahan dan peningkatan menjalankan prosedur dan mengangkat mereka ke konteks dan lingkungan yang berbeda.
  1. Saya sarankan meneruskan sedemikian rupa sehingga struktur esensial Karya Kepausan tetap terikat pada pelaksanaan doa dan pengumpulan dana bagi misi, dalam kesederhanaan dan kepraktisannya. Hal ini akan dengan jelas menampakkan hubungan Karya Kepausan (PMS) dengan iman Umat Allah. Dengan semua kelenturan dan penyesuaian yang perlu, design dasar Karya Kepausan (PMS) seharusnya tidak dilupakan atau terdistorsi. Dengan memohon Tuhan untuk membuka hati pada Injil dan memohon siapa saja untuk mendukung karya misioner secara nyata: ini adalah hal sederhana dan praktis yang siapa saja dapat siap sedia melakukannya saat sekarang ketika, bahkan di tengah-tengah momok pandemi ini, ada hasrat besar untuk menjumpai dan tinggal dekat dengan hati hidup Gereja. Maka cari jalan-jalan baru, bentuk-bentuk pelayanan yang baru, tetapi usahakan tidak memperumit apa yang senyatanya sungguh sederhana.
  1. Karya Kepausan (PMS) ada dan harus dialami sebagai sarana pelayanan bagi misi Gereja partikular, dengan latar misi Gereja universal. Hal ini adalah sumbangan berharga Serikat-serikat Kepausan bagi tersebarnya Injil. Kita semua dipanggil untuk memelihara melalui cinta dan syukur, dan dengan pekerjaan kita, benih-benih hidup ilahi yang ditumbuhkan dan dikembangkan Roh Kristus di mana Ia kehendaki, bahkan di padang gurun. Tolong, dalam doa Anda mohonlah di atas semuanya bahwa Tuhan membuat setiap orang lebih siap untuk mengenali tanda-tanda aktivitas-Nya, kemudian untuk menyatakannya kepada seluruh dunia. Bahkan hal ini bisa membantu: meminta bahwa, di lubuk hati kita sendiri, doa kita kepada Roh Kudus tidak dapat dikurangi ke semata-mata formalitas dalam pertemuan dan homili kita. Ini tidak membantu untuk merumuskan strategi-super atau “pedoman inti” misi sebagai sarana menghidupkan kembali semangat misioner atau memberi pola misioner kepada yang lain. Jika, dalam beberapa kasus, semangat misioner memudar, ini adalah tanda bahwa iman itu sendiri memudar. Dalam kasus seperti itu, upaya untuk menghidupkan kembali api semangat dengan strategi dan khotbah akan berakhir hanya semakin melemahkannya, menyebabkan meluasnya padang pasir misi.
  1. Pelayanan yang dilakukan oleh Karya Kepausan (PMS) secara alami membawa timnya kontak dengan realitas, situasi dan peristiwa yang diperhitungkan yang merupakan bagian dari pasang surut kehidupan Gereja di setiap benua. Dalam kontak ini, kita mungkin menjumpai sejumlah masalah dan bentuk-bentuk kelembaman yang dapat menandai kehidupan gerejani, tetapi juga rahmat penyembuhan dan penghiburan gratis yang Roh Kudus semaikan dalam hidup sehari-hari, dalam apa yang disebut “kelas menengah kesucian”. Bersukacitalah dan nikmatilah perjumpaan ini yang Anda alami berkat pekerjaan Karya Kepausan (PMS), dan membiarkan diri Anda sendiri kagum dengan mereka. Saya memperhatikan laporan mengenai banyak keajaiban yang terjadi pada anak-anak, yang berjumpa dengan Yesus berkat prakarsa yang dihadirkan oleh SEKAMI. Milik Anda adalah tenaga kerja yang tidak pernah dapat direduksi pada ruang lingkup birokrasi-profesional yang eksklusif. Ketika hal itu sampai pada misi, birokrasi atau fungsionaris seharusnya tidak pernah ada. Rasa syukur Anda pada gilirannya dapat menjadi rahmat dan kesaksian bagi semua. Dengan cara yang Anda miliki sesuai keinginan Anda, dan secara alami, Anda dapat menceritakan kisah orang-orang dan komunitas-komunitas yang menghibur di dalam mana keajaiban iman bersinar dengan harapan dan amal kasih.
  1. Bersyukur atas keajaiban yang dikerjakan Tuhan di antara orang-orang pilihan-Nya, kaum miskin dan orang kecil kepada siapa Ia menyatakan hal-hal yang tersembunyi dari orang bijak (bdk. Mat. 11:25-26), dapat membuatnya lebih mudah bagi Anda juga untuk menghindari perangkap mementingkan diri sendiri dan tinggalkan diri Anda sendiri di belakang saat Anda mengikuti Yesus. Gagasan tentang usaha misioner yang berpusat pada diri sendiri, yang menghabiskan waktu dengan mengkontemplasikan dan merayakan prakarsanya sendiri, akan absurd. Jangan buang waktu dan sumber daya, kemudian, dalam memandang diri sendiri di cermin, menyusun rencana yang berpusat pada mekanisme internal, fungsionalitas dan efisiensi birokrasi Anda sendiri. Lihatlah keluar. Jangan lihat diri Anda sendiri di cermin. Pecahkan setiap cermin di rumah! Kriteria yang diterapkan dalam mengimplementasikan program-program hendaknya tidak bertujuan membebani jaringan Karya Kepausan (PMS) tetapi pada membuat struktur dan prosedur yang lebih lentur. Direktur Nasional, sebagai contoh, hendaknya berupaya mengidentifikasi calon pengganti yang potensial, dengan menggunakan kriteria satu-satunya mereka yang mengusulkan orang-orang dengan semangat misioner yang hebat, tidak hanya anggota kelompok kecil mereka sendiri.
  1. Terkait dengan kolekte untuk karya misi, saya sudah berbicara selama pertemuan kita yang lalu tentang risiko Karya Kepausan (PMS) menjadi LSM, di mana segala sesuatunya dikhususkan untuk mencari dan mengalokasikan dana. Hal ini lebih tergantung pada sikap perilaku dengan mana hal-hal tersebut dikerjakan daripada tujuan yang dicapai. Tentu bisa disarankan dan bahkan selaras ketika penggalangan dana menggunakan kreativitas dan bahkan metode terbaru untuk mencari dana dari sumber yang potential dan sewajarnya. Namun, jika di beberapa daerah pengumpulan donasi berkurang, bahkan karena berkurangnya semangat iman Kristen, godaan bisa muncul untuk menyelesaikan masalah kita sendiri dengan “menutupi” situasi dan mempertaruhkan pada sistem penggalangan dana yang lebih baik yang dikembangkan oleh kelompok yang khusus dalam dana besar. Rasa sakit kita pada hilangnya iman dan berkurangnya sumber-sumber seharusnya tidak ditutupi, tetapi lebih baik ditempatkan di tangan Tuhan. Bagaimanapun juga memohon persembahan untuk misi hendaknya terus diarahkan pertama-tama dan terutama ke tubuh yang lebih besar dari orang-orang yang dibaptis, juga melalui jalan berberbeda dari mengambil kolekte bagi karya misi yang dijalankan di setiap negara pada bulan Oktober pada waktu Hari Misi Sedunia. Gereja terus maju berkat tungau janda dan sumbangan orang-orang yang disembuhkan dan dihibur oleh Yesus yang tak terhitung jumlahnya, yang karena alasan ini, dipenuhi dengan rasa syukur, mendonasikan apapun yang mereka miliki.
  1. Penggunaan dana yang diterima selalu harus dievaluasi dengan sehati-seperasaan dengan Gereja (sensus ecclesiae) terkait dengan pembagian dana dalam dukungan struktur dan proyek yang mampu memajukan misi kerasulan dan pewartaan Injil dalam berbagai cara dan dalam berbagai belahan dunia. Perhatian hendaknya selalu dibayarkan pada kebutuhan yang paling fundamental dari komunitas, sementara pada waktu yang sama menghindari budaya kesejahteraan, yang bukannya membantu semangat misioner akhirnya membuat hati suam-suam kuku dan menyuburkan gejala ketergantungan yang menggerogoti, juga di dalam Gereja. Sumbangan Anda hendaknya bertujuan pada memberi jawaban nyata pada kebutuhan objektif, tanpa menghambur-hamburkan sumber-sumber yang ditandai dengan abstraksi, mementingkan diri sendiri atau yang dilemahkan oleh narcisme klerikal. Jangan menghasilkan sindrom inferioritas atau godaan meniru organisasi super-fungsional yang mengumpulkan dana karena alasan bagus dan kemudian menggunakannya untuk membiayai birokrasinya dan mengiklankan namanya sendiri. Bahkan publisitas kadang-kadang dapat menjadi cara mempromosikan kepentingan sendiri dengan memperlihatkan bagaimana orang bekerja bagi orang miskin dan mereka yang membutuhkan.
  1. Adapun orang miskin, Anda juga harus tidak boleh melupakan mereka. Ini adalah rekomendasi Konsili Yerusalem bahwa Rasul Petrus, Yakobus dan Yohanes telah berpesan kepada Paulus, Barnabas dan Titus, yang datang untuk membicarakan misi mereka di antara orang-orang yang tidak bersunat: “Hanya, kami harus tetap mengingat orang-orang miskin” (Gal. 2:10). Mengikuti rekomendasi ini, Paulus mengumpulkan kolekte untuk kepentingan warga Gereja Yerusalem (bdk. 1Kor. 16:1). Keberpihakan pada orang miskin dan orang kecil selalu ada sejak permulaan misi mewartakan Injil. Karya-karya spiritual dan amal kasih atas nama mereka merupakan ungkapan “keberpihakan ilahi” yang melayani sebagai tantangan iman semua orang Kristen, yang dipanggil untuk memiliki sikap yang sama seperti Yesus (bdk. Flp. 2:5).
  1. Karya Kepausan (PMS), dalam jaringannya di seluruh dunia, mencerminkan keanekaragaman dengan julukan “orang dengan seribu wajah”, berkumpul karena rahmat Kristus dan ditandai oleh semangat misioner. Semangat ini tidak selalu intens dan hidup dalam cara yang sama di mana saja. Bahkan juga, mengimani Kristus yang wafat dan bangkit bisa diungkapkan secara berbeda dengan berbagai macam gaya dan rupa sesuai konteksnya masing-masing. Pernyataan Injil tidak dinyatakan dengan satu budaya saja dan ketika berjumpa dengan budaya baru yang belum menerima pesan Kristen, bentuk budaya khusus harus tidak dipaksakan bersama dengan pewartaan Injil. Hari ini, juga di dalam pelayanan Karya Kepausan (PMS), tidak perlu beban tambahan tetapi lebih baik berusaha untuk menghargai perbedaan dan menghubungkannya pada yang esensial dari iman yang kita wartakan. Upaya untuk menstandarisasi bentuk pesan kita bisa mengaburkan universalitas iman Kristen, bahkan dengan mempromosikan ungkapan klise dan slogan menarik dalam lingkaran tertentu dan di negara-negara partikular yang secara kultural dan politis dominan. Dalam kaitan ini, hubungan spesial yang menyatukan Karya Kepausan (PMS) dengan Paus dan Gereja Roma menghadirkan sumber dan dukungan yang bebas dari mode sekilas, sekolah pemikiran unilateral tertentu atau homogenisasi kultural yang diasosiasikan dengan kolonialme baru (neo-colonialism). Ini adalah gejala yang, sayangnya, tidak absen dari konteks gerejani.
  1. Karya Kepausan (PMS) bukan sebuah entitas yang otonom dalam Gereja, yang bergerak dalam ruang hampa. Di antara ciri-ciri distingtifnya yang selalu dikaji dan dibarui adalah ikatan kesatuan spesialnya dengan Uskup Roma, yang memimpin tindakan amal kasih. Baik untuk diketahui bahwa ikatan ini menyatakan dirinya sendiri dalam karya yang dilakukan dengan sukacita, tanpa mencari pujian atau klaim diri. Karya yang secara tepat dalam kesukarelaannya terjalin dengan pelayan Paus, hamba para hamba Allah. Saya ingin meminta bahwa tanda distingtif kedekatan Anda dengan Uskup Roma tepatnya ini: membagikan cinta Gereja, pantulan cintanya bagi Kristus, yang dialami dan dinyatakan dengan diam-diam, tanpa membanggakan diri. Upaya sehari-hari yang lahir dari amal kasih dan rahasia kesukarelawanan, yang mendukung banyak orang tetap bersyukur, namun mungkin bahkan tidak tahu kepada siapa yang harus berterima kasih, karena mereka mungkin belum pernah mendengar tentang Karya Kepausan (PMS). Rahasia amal kasih, di dalam Gereja, bekerja dalam cara ini. Kita terus maju bersama, bahkan di antara upaya-upaya, berkat rahmat dan penghiburan Tuhan. Sementara itu, dan pada setiap tahap, kita dengan gembira mengakui bahwa kita semua adalah hamba-hamba tak berguna, yang mulai dengan diri sendiri.

Penutup

Majulah dengan antusias! Ada banyak hal untuk dikerjakan di perjalanan yang menanti Anda. Jika ada perubahan yang harus dilakukan, ada baiknya bahwa poin-poin ini lebih membantu daripada menambah beban, yang bertujuan untuk kelenturan operasional karya dan tidak mempersulit birokrasi. Sentralisasi yang berlebihan, alih-alih membantu, justru dapat mempersulit jangkauan misioner. Bahkan organisasi yang bersifat nasional dapat juga membahayakan hakikat jaringan Karya Kepausan (PMS), dan juga pertukaran bantuan di antara Gereja dan komunitas lokal yang hidup sebagai buah nyata dan tanda amal kasih di antara saudara dan saudari dalam kesatuan dengan Uskup Roma.

Dalam kegiatan apa pun, mohon selalu diperhatikan bahwa setiap pertimbangan terkait dengan aspek operasional Karya Kepausan (PMS) diterangi oleh satu hal yang penting: percikan cinta sejati bagi Gereja sebagai pantulan cinta bagi Kristus. Milik Andalah pelayanan yang diberikan bagi semangat kerasulan, yaitu daya dorong hidup Kristen itu yang dinyalakan oleh Roh Kudus dalam diri Umat Allah. Pikirkan pekerjaanmu dengan baik, “seolah-olah segalanya tergantung padamu, dengan tetap menyadari bahwa segalanya sesungguhnya tergantung pada Allah” (St. Ignatius Loyola). Seperti telah saya sampaikan kepada Anda dalam salah satu pertemuan kita: contohlah kesiapsediaan Maria. Ketika dia mengunjungi Elisabet, Maria tidak melakukannya atas namanya sendiri: dia pergi sebagai hamba Tuhan Yesus, yang dia bawa dalam rahimnya. Dia tidak mengatakan sesuatu pun tentang dirinya sendiri, tetapi dengan kesahajaan membawa Putranya dan memuliakan Allah. Ini bukan tentang dirinya. Ia pergi sebagai hamba Orang yang adalah pelaku utama misi. Meskipun demikian, dia tidak menyia-nyiakan waktu, pergi dengan tergesa-gesa dan melakukan apa yang diperlukan untuk menjaga saudaranya. Dia mengajarkan kita kesiapsediaan yang sama ini, tergesa-gesa yang lahir dari kesetiaan dan cinta bakti.

Semoga Bunda Maria memperhatikan Anda dan Karya Kepausan (PMS), dan semoga Putranya, Tuhan Yesus Kristus, memberkati Anda. Sebelum kenaikan-Nya ke sorga, Ia berjanji selalu menyertai kita sampai akhir zaman.

Diberikan di Roma, di Basilika Santo Yohanes Lateran,

Pada Hari Raya Kenaikan Tuhan, 21 Mei 2020

Fransiskus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s