Misionaris: Mengolah “Penganiayaan” Menjadi “Berkat”

Renungan Harian Misioner
Jumat, 05 Juni 2020
P. S. Bonifacius
2Tim. 3:10-17; Mzm. 119: 157, 160, 161, 165, 166, 168; Mrk. 12:35-37

Renungan Harian Misioner dari Yung-Fo,
Para sahabat missioner yang terkasih: Shalom. Setelah sukacita dan kegembiraan Paskah selama 50 hari dengan puncaknya pada Hari Raya Pentakosta, kita kembali melanjutkan ziarah hidup kita dalam Masa Biasa Tahun A/II Pekan IX. Firman Tuhan mempertemukan kita dengan tokoh besar dalam karya misi Gereja kepada bangsa-bangsa, yakni Rasul Santo Paulus dengan Timotius muridnya. Juga dengan Tuhan kita Yesus Kristus dalam pengajaran-Nya di Bait Allah. Selain itu, kita juga dipertemukan dengan Santo Bonifasius, Uskup dan Martir. Dari kesaksian hidup para muisionaris ini, kita mendapatkan tema permenungan kita: Misionaris mengolah “penganiayaan” menjadi “berkat.”

1. Paulus dan Timotius dalam Misi ke Asia Kecil
Mengikuti nasihat Rasul Agung Santo Paulus dalam suratnya kepada Timotius yang menjadi Bacaan I hari ini, kita mendapati penegasan bahwa “…setiap orang yang mau hidup saleh di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya” (2Tim. 3:12). Paulus sendiri mengalami hal ini, bahkan di kampung halaman Timotius. Di sana, di kota Listra, Paulus dilempari dengan batu hingga hampir mati (Kis. 14:19). Maka Paulus memberi nasihat kepada Timotius, supaya bersiap untuk menghadapi hal yang sama. Sebab Timotius pun sudah mengalami aniaya itu bersama Paulus (2Tim. 3:11).

Dua hal yang diangkat oleh Paulus dalam nasihatnya kepada Timotius, yakni pertama, bahwa Timotius harus berpegang pada Firman Tuhan, yang sudah diajarkan kepadanya dari kecil (2Tim. 3:15). Kedua, bahwa nasihat serupa itu bukan sesuatu yang asing, karena telah dihidupi oleh para pendahulu Timotius, yakni keluarga dan juga gurunya, Rasul Santo Paulus sendiri. Aniaya dan kesulitan akan selalu mengikuti orang-orang yang berkomitmen untuk hidup suci di dalam Kristus, dan mereka yang terlibat dalam karya pewartaan tentang keselamatan yang tersedia di dalam Nama-Nya. Cara untuk menghadapi aniaya dan kesulitan itu tersedia di dalam dan oleh kekuatan Firman Tuhan sendiri. Sebagai misionaris, Firman Tuhan dan pengalaman hidup para saksi iman sebelumnya adalah kekuatan dan hiburan untuk menghadapi aniaya dan kesulitan tersebut!

2. Santo Bonifasius dalam Misi ke Frigia dan Bavaria
Bonifasius lahir di Inggris tahun 675 dan wafat di Dokkum, Frisia (sekarang wilayah Belanda) pada 5 Juni 754. Ditahbiskan menjadi imam pada usia 30 tahun, Bonifasius kemudian diutus sebagai misonaris ke wilayah daratan Eropa untuk mewartakan iman kepada bangsa Saxon dan bangsa Frisia. Setelah 6 tahun di daerah misi, Bonifasius harus kembali ke Inggris karena misi mereka tidak didukung oleh Raja Abbot. Ketika menghadap Paus Gregrorius di Roma bersama para peziarah Inggris, Bonifasius diberi tugas oileh Paus untuk mewartakan iman ke wilayah Jerman, khususnya di sebelah timur Sungai Rhine. Setelah Raja Abbot wafat, Bonifasius kembali ke wilayah Frisia untuk mendampingi Uskup Wilibrordus dalam karya misi. Kemudian Bonifasius pindah ke Hesse dan mendirikan Biara Benediktin di sana.

Sukses dalam misi di Gesse, Bonifasius dipanggil ke Roma dan diangkat menjadi Uskup oleh Paus Gregorius II. Tugasnya di Jerman adalah mewartakan iman di wilayah Thuringia. Bonifasius sukses dalam tugasnya, namun metode pewartaannya mendapatkan tantangan dari para imam, yang “ambisius dan hidup bebas,” yang mengadukannya kepada Paus di Roma. Bonifasius kemudian diutus Paus Greorius III ke Bavaria untuk membawa iman Kristiani. Ia sukses di wilayah ini dan mendirikan 4 Keuskupan. Selanjutnya ia ditunjuk menjadi Uskup Agung Mainz (751). Dalam tugasnya, Bonifasius menghadapi pertentangan dari dalam antara para misionaris Celtik dengan para imam setempat (Frankish Clergy), dan dari luar oleh orang-orang Frisia yang masih kafir. Bonifasius menjadi martir di tangan kaum kafir Frisia yang membunuhnya saat dia sedang membacakan Kitan Suci kepada para baptisan baru pada Hari Minggu Pentakosta. Jenazahnya dimakamkan di Fulda, di biara yang ia dirikan di sana.

Seperti Paulus, demikian Bonifasius menunjukkan bahwa dirinya siap menderita demi membawa orang-orang Frisia kepada Kristus.

3. Firman Tuhan & Pribadi Kristus sebagai Kekuatan
Firman Tuhan adalah kekuatan bagi Paulus dan Timotius ketika mereka mengalami penganiayaan. Firman Tuhan itu juga yang sedang diwartakan ketika para kafir Frisia membunuh Santo Bonifasius. Firman Tuhan, khususnya nubuatan Daud (Mrk. 12:36). Merujuk kepada Mazmur 110:1, Rasul Petrus dalam khotbahnya di Hari Pentakosta mengingatkan kita bahwa Pribadi Yesus, Putera Allah sendiri, di satu sisi adalah “isi pewartaan para rasul” dan bahwa di sisi lain, “Dia adalah Tuhan dan Kristus”, yang telah bertakhta di sisi kanan Allah (Kis. 2:32-36).

4. Mengelola Penganiayaan Menjadi Berkat
Sekalipun menghadapi penganiayaan dan situasi sulit bahkan juga sengaja dipersulit, tetapi para misionaris seperti Paulus, tidak pernah menyerah untuk mewartakan Firman Tuhan. Sekalipun menghadapi banyak orang jahat dengan berbagai wujud kejahatan (2Tim. 3:13), namun para misionaris itu tetap dan terus memberi diri untuk mewartakan Firman Tuhan dan bersedia menanggung semua penganiayaan yang dilakukan orang terhadap mereka, karena keyakinan bahwa mereka adalah milik Allah dan untuk perbuatan baik itu, Allah akan melengkapi mereka (2Tim. 3:16-17). Keyakinan tentang persekutuan dengan Allah ini sedemikian menguasai mereka, sehingga Paulus dalam suratnya kepada Jemaat di Filipi menegaskan pilihan hidupnya ini, “Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Flp. 1:21). Mengelola penganiayaan menjadi berkat, bagi Paulus adalah menyambut setiap peristiwa hidup – termasuk penganiayaan sekalipun – sebagai kesempatan untuk terus-menerus mewartakan Kristus dan menumbuh-kembangkan nilai-nilai kehidupan kekal. Tidak ada alasan misalnya karena ada penganiayaan, maka pewartaan harus berhenti sementara. Semoga semangat Paulus, yang diwariskan kepada Timotius muridnya ini, juga menjadi semangat kita dalam mewartakan Kristus kepada orang-orang di dunia sekarang ini. Amin (PMG).

(RD. Marcel Gabriel – Imam Keuskupan Pangkalpinang)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Menempuh Jalan Hati: Semoga saudara-saudara kita yang sedang menderita bisa menemukan jalan hidup yang mengantar mereka untuk dapat disentuh oleh Hati Kudus Yesus. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Para petani: Semoga pemerintah dan pihak-pihak yang berwenang, berkehendak kuat untuk membantu dan berpihak pada kelangsungan dan kesejahteraan hidup para petani. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami menggabungkan diri dengan Hati Yesus yang Mahakudus agar dari lubuk hati yang terdalam atau sungguh-sungguh mengusahakan keadilan bagi seluruh bangsa kami. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s