Sanctissima Trinitas

Renungan Harian Misioner
Minggu, 07 Juni 2020
HARI RAYA TRITUNGGAL MAHAKUDUS
Kel. 34:4b-6,8-9; MT Dan. 3:52,53,54,55,56; 2Kor. 13:11-13; Yoh. 3:16-18

Penanggalan Liturgi memberikan urutan yang pasti: Hari Raya Paskah, Kenaikan dan Pentakosta langsung diikuti Hari Raya Tritunggal Mahasuci. Urutan ini mengungkapan inti iman kita akan Allah Tritunggal: BAPA membenarkan dan membangkitkan Yesus (Paskah), sehingga SANG ANAK itu dimuliakan di Surga (Kenaikan) dan umat-Nya dilahirkan kembali berkat ROH KUDUS (Pentakosta).

Pertama, kasih Bapa menjadi awal segalanya. Bukan kasih kelas teri, tetapi kasih superlatif: “karena Allah begitu mengasihi dunia ini” (ay. 16). Allah kita adalah Bapa yang selalu mengasihi dan memberi diri-Nya. Kasih-Nya itu nyata sejak Penciptaan: alam-semesta adalah cerminan kasih-Nya. Selanjutnya, pemberian diri dan kasih Allah terwujud secara paling sempurna dalam diri Anak-Nya. Hanya Yesus, sang Anak Tunggal (ay. 16 dan 18), yang dapat menghadirkan Bapa secara sempuna. Mengapa? Sebab, untuk dapat menghadirkan diri-Allah secara sempurna, Anak harus sungguh bersatu-padu dengan Allah. Untuk dapat mewujudkan kasih-Bapa bagi manusia, Anak harus juga sungguh menjadi manusia. Penginjil Yohanes menegaskan dua segi ini sejak awal: Yesus adalah sang Firman Allah (Logos) yang menjadi manusia (Yoh. 1:1-2, 14).

Kedua, seluruh “peristiwa Yesus”: sabda dan karya-Nya yang berpuncak pada wafat dan kebangkitan-Nya adalah perwujudan kasih Bapa itu. Yesus adalah kehadiran atau pewahyuan Bapa: “siapa saja yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yoh. 14:9). Pewartaan-Nya membuka telinga dan pikiran kita bahwa Allah adalah kasih. Perbuatan-Nya membuka mata kita bahwa Allah itu kasih. Kesediaan-Nya untuk menderita dan wafat menyadarkan kita tentang kesungguhan kasih Bapa. Kebangkitan-Nya meyakinkan kita bahwa kasih Allah itu abadi. Maut tidak mampu menghalangi dan membatasi kasih Ilahi.

Ketiga, berkat karya Roh Kudus, kasih Bapa melalui Anak itu tidak dapat dibatasi oleh wafat Yesus. Roh Kuduslah yang membuat kasih Bapa itu tidak terbatas pada “peristiwa Yesus” di Palestina abad pertama. Roh Kuduslah yang membuat kasih Allah itu dapat terus dialami manusia yang percaya kepada Sang Anak. Roh Kuduslah yang membuat kasih Allah itu berdampak global dan universal: melewati pelbagai sekat budaya, bahasa dan bangsa. Roh Kuduslah yang memampukan kita untuk percaya bahwa Yesuslah Anak Tunggal Bapa, yang menghadirkan kasih Bapa secara sempurna. Roh Kuduslah yang memungkinkan kita menerima Yesus, Sang Terang, sehingga kita mengalami belas-kasih Allah, sekaligus membiarkan Terang itu menuntun hidup dan tingkah laku kita. Itulah hidup/keselamatan sejati (ay. 16), sekarang dan di sini. Sebaliknya, banyak orang menolak Terang karena takut Terang itu membuka kelemahan dan kesalahannya. Mereka bertahan dalam kegelapan hidupnya. Dengan itu, merekalah yang menghukum diri mereka sendiri (ay. 16-17, 19-20).

Trinitas bukanlah dogma abstrak, melainkan pengalaman akan Kasih Allah yang konkret nyata. Kita mensyukuri kasih Bapa, yang terus berkarya lewat Anak dan Roh-Nya dalam hidup dan keseharian kita. Kita bersyukur dan berbahagia karena sudah dicintai-Nya. Hanya orang yang sudah mengalami cinta Allah itulah yang mampu membagikannya kepada semua orang.

(Hortensio Mandaru – Lembaga Alkitab Indonesia Jakarta)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Menempuh Jalan Hati: Semoga saudara-saudara kita yang sedang menderita bisa menemukan jalan hidup yang mengantar mereka untuk dapat disentuh oleh Hati Kudus Yesus. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Para petani: Semoga pemerintah dan pihak-pihak yang berwenang, berkehendak kuat untuk membantu dan berpihak pada kelangsungan dan kesejahteraan hidup para petani. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami menggabungkan diri dengan Hati Yesus yang Mahakudus agar dari lubuk hati yang terdalam atau sungguh-sungguh mengusahakan keadilan bagi seluruh bangsa kami. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s